Beberapa hari berlalu setelah kejadian di pengajian itu, suasana hati Laura perlahan membaik. Ia mulai terbiasa dengan tatapan orang, bahkan sudah belajar untuk tidak terlalu memikirkannya. Raihan benar, yang terpenting adalah bagaimana ia berusaha setiap hari, bukan bagaimana orang menilainya. Suatu pagi, ia bangun lebih cepat dari biasanya. Dengan semangat, ia menyiapkan sarapan sederhana: nasi uduk, telur dadar, dan sambal kacang. Saat aroma harum memenuhi dapur, Jihan keluar dari kamar dengan rambut berantakan. “Mama masak enak?” tanyanya sambil mengucek mata. Laura tersenyum hangat. “Iya, sayang. Hari ini kita makan nasi uduk buatan Mama.” Jihan langsung duduk di meja makan dengan mata berbinar. Raihan yang baru selesai shalat subuh berjamaah di masjid pun ikut bergabung. “Aku ka

