Suatu pagi yang cerah, Laura sedang menyiapkan sarapan ketika Hana masuk ke dapur dengan wajah serius. “Bunda… aku mau bicara,” ucapnya pelan, menatap Laura sambil menggenggam buku catatannya. Laura menghentikan aktivitasnya sejenak. “Apa, Sayang? Ada apa?” Hana menghela napas. “Di sekolah… ada teman yang mulai sengaja menyinggung aku soal Bunda. Mereka bilang kalau Bunda cuma pengganti Mama, dan mereka nggak percaya Bunda bisa sayang sama aku seperti Mama dulu.” Hati Laura bergetar. Ia tahu ini akan terjadi—proses penerimaan anak-anak memang tidak selalu mulus. Ia menunduk, menarik Hana duduk di kursi. “Hana… kau harus tahu, tidak semua orang akan mengerti hubungan kita. Tapi aku mencintaimu, dan itu nyata. Aku di sini bukan untuk menggantikan siapa pun. Aku di sini untuk menjadi bagia

