Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar Laura dengan lembut. Suara gelak tawa Dani dan Hana terdengar dari ruang tengah, bercampur dengan suara bayi mereka yang baru saja bangun. Laura menarik napas panjang, merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—kehidupan yang terasa rapuh tapi indah. Ia menyiapkan sarapan sederhana: roti panggang, telur orak-arik, dan jus jeruk. Saat ia menaruh piring di meja, Hana masuk dengan rambut sedikit kusut, tapi mata berbinar. “Bunda, Bunda! Lihat, aku bikin gambar untuk bayi kita,” seru Hana, membawa selembar kertas penuh coretan warna-warni. Laura tersenyum, mengambil gambar itu dengan hati hangat. “Wow, Hana… ini luar biasa. Adik pasti senang punya kakak seperti kamu.” Dani masuk tak lama kemudian, masih mengenakan piyama bir

