Malam turun dengan perlahan. Di halaman rumah sederhana itu, lampu-lampu temaram menyala, menebar cahaya hangat. Raihan duduk di kursi kayu, memangku bayi mungilnya yang baru berusia dua minggu. Wajahnya begitu teduh saat ia menatap sang buah hati yang tertidur pulas. Laura keluar dari dalam rumah, membawa selimut tipis. Wajahnya masih tampak pucat setelah melahirkan, tapi senyumnya memancarkan ketenangan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Ia menutupi bayi itu dengan lembut, lalu duduk di samping Raihan. “Mas,” bisiknya pelan, “aku sering bertanya-tanya… kenapa Allah mempertemukan kita dengan cara yang aneh? Aku yang dulu begitu jauh dari dunia ini… tiba-tiba harus masuk dalam kehidupan Mas yang penuh aturan, penuh nilai, penuh tanggung jawab.” Raihan menoleh, menatap istrinya dengan

