Malam itu rumah Raihan terasa begitu berat. Laura duduk sendirian di ruang tamu, menatap kosong ke arah pintu. Kata-kata Hana siang tadi masih terngiang di telinganya. “Aku lebih nyaman sama Ummi…” Kalimat sederhana, tapi rasanya seperti belati menusuk jantung. Laura sudah berusaha sabar, menahan air mata agar tidak terlihat lemah di depan anak-anak. Namun kini, saat rumah sepi, ia tak sanggup lagi. Isak kecil pecah, mengguncang tubuhnya. Raihan yang baru selesai shalat isya mendekat pelan. Ia duduk di samping istrinya, menggenggam tangannya. “Sayang, jangan kau tahan sendiri. Katakan padaku.” Laura menoleh, matanya basah. “Mas… aku lelah. Aku sudah mencoba sebaik mungkin, tapi aku selalu kalah dari Zainab di hati anak-anak. Aku merasa… aku tidak pernah cukup. Bahkan Hana terang-teranga

