Sejak Zainab menetap di kampung itu, suasana rumah Raihan tak pernah lagi sama. Awalnya ia hanya datang untuk menengok Hana dan Dani, tetapi kini hampir setiap hari wajahnya muncul di beranda. Kadang membawa kue, kadang oleh-oleh kecil untuk anak-anak, kadang hanya alasan sederhana: rindu suara tawa mereka. Bagi Laura, kehadiran itu seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Tidak pernah terang-terangan jahat, tapi selalu ada yang terasa menusuk di balik senyum lembut Zainab. --- Pagi itu, Laura sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Raihan masih di masjid karena habis mengisi kajian subuh. Hana dan Dani duduk di meja makan, cerewet meminta lauk favorit mereka. Tiba-tiba pintu diketuk. “Assalamu’alaikum…” suara lembut itu membuat hati Laura langsung berdegup tak ka

