Malam itu, selepas tabligh akbar yang menghebohkan, rumah Raihan dipenuhi cahaya lampu dan aroma masakan hangat. Jamaah, tetangga, bahkan santri-santri kecil datang silih berganti untuk meminta maaf pada Laura. “Maafkan kami, Bu,” ucap seorang ibu paruh baya sambil menggenggam tangan Laura erat. “Kami sempat termakan fitnah. Kami salah menilai.” Laura hanya bisa tersenyum tipis meski matanya berkaca-kaca. “Saya juga masih belajar, Bu. Mari kita sama-sama memperbaiki diri.” Ucapan itu sederhana, tapi membuat banyak orang terharu. Mereka melihat sendiri bagaimana perempuan yang dulu sering dicibir itu kini menundukkan kepala dengan rendah hati. --- Farid ikut duduk di ruang tamu, wajahnya puas sekaligus lega. “Semua sudah jelas, Ustaz. Zaki tidak akan mudah lolos. Buktinya kuat sekali.”

