Malam itu, Laura duduk sendiri di serambi rumah. Angin malam membawa aroma tanah basah setelah hujan sore, tapi hatinya tetap sesak. Ia memandangi langit yang gelap tanpa bintang, merasa seolah hidupnya pun ditutup kegelapan. Beberapa hari terakhir, setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas bara. Jika ia pergi ke pasar, mata-mata akan menatapnya dengan sinis. Jika ia lewat di depan tetangga, bisik-bisik akan terdengar: “Kasihan Ustaz Raihan, istrinya begitu…” “Pantas saja Zainab dulu meninggalkan dia, sekarang lihatlah…” Laura menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin menangis lagi, tapi air mata itu selalu saja jatuh. --- Pagi berikutnya, Raihan menemukan Laura sedang menatap cermin lama di kamarnya. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan matanya sembab. “Saya

