Malam itu, setelah pertemuan tegang di rumah Raihan, Zaki tidak langsung pulang. Ia melajukan motornya ke sebuah warung kopi di pinggir kota, tempat ia sering bertemu dengan teman-temannya yang sama-sama bermasalah. Di sudut gelap, ia membuka laptop tua dan sebuah flashdisk. “Sudah siap?” tanya salah satu temannya, seorang lelaki kurus dengan mata sayu yang jago utak-atik video. Zaki mengangguk dengan wajah penuh dendam. “Rekayasa saja. Tidak perlu sempurna, asal cukup meyakinkan. Aku mau orang-orang percaya kalau Laura itu masih sama seperti dulu.” Lelaki itu tersenyum licik, lalu mulai mengetik cepat. Beberapa foto lama Laura—hasil stalking akun media sosialnya sebelum menjadi mualaf—dicampur dengan potongan video pesta dari sumber lain. Dalam beberapa jam, jadilah sebuah video pendek

