Beberapa minggu kemudian, ketenangan keluarga Laura kembali diuji, kali ini lebih besar dari sebelumnya. Di sekolah, isu tentang “keluarga baru” Laura dan Raihan mulai menyebar lebih luas. Beberapa orang tua memulai rumor yang menimbulkan kecemasan bagi anak-anak, terutama Hana. Suatu sore, Laura menerima panggilan dari guru kelas. Suara guru terdengar tegang. “Bu Laura… saya minta maaf harus memberitahu ini, tapi beberapa orang tua meminta pertemuan mendesak. Mereka mengkhawatirkan anak-anak di kelas, terutama Hana. Mohon Ibu datang secepatnya.” Hati Laura berdebar. Ia menatap Raihan yang sedang menyiapkan teh di dapur. “Mas… ini pasti akan berat,” ucap Laura pelan. Raihan menaruh cangkir teh. “Kita hadapi bersama, Sayang. Tidak ada yang bisa memecah kita jika kita tetap bersatu.” -

