Pagi menjelang.....
Pagi ini di meja makan terlihat ramai dengan celotehan seorang bayi mungil yang sedang menikmati susunya.
Sedangkan di meja makan sudah ada Mariam dan Hugo yang akan pergi ke kantor.
Florence baru selesai mandi, terlihat dari rambut panjangnya yang masih basah.
"Florence, ikut sarapan dulu baru nanti jagain Julian."
"Iya Oma," jawab Florence patuh.
Hugo sejak tadi mencuri pandang pada Florence. Apalagi melihat pakaian Florence yang sedikit terbuka di bagian atasnya. Hugo meneguk ludahnya kasar dan terus mengumpat di dalam hatinya.
Karena tak tahan Hugo bangkit berdiri. Dia pamit pada Mariam untuk segera berangkat ke kantor. Hugo pergi begitu saja tanpa melihat ke arah Julian yang sudah tertidur tenang di kereta bayi.
"Florence, bukannya ini adalah awal bulan. Kamu waktunya belanja keperluan Julian bukan?" tanya Mariam.
"Ehm, iya Oma, tadi mau bilang sama Oma karena kebetulan aku juga mau belanja kebutuhanku juga Oma. Apakah boleh Julian aku tinggal sebentar?"
Florence sekalian ijin pada Mariam untuk pergi. Karena memang beberapa keperluan sehari harinya juga sudah menipis. Florence sendiri hanya berbelanja setiap tiga bulan sekali. Dia selalu bilang pada Mariam jika dia akan menabung agar bisa membeli rumah sendiri nantinya.
"Iya, Julian juga tak pernah rewel selama ini setelah mendapatkan Asi dari kamu. Kamu bisa pergi, apa perlu di temani sopir?" tawar Mariam pada Florence.
Florence menggeleng, "Tidak perlu oma, aku bisa naik taxi online."
Florence menolak dengan halus tawaran Mariam, dia tak ingin terlalu menyusahkan Mariam hanya karena Mariam baik padanya. Semenjak berkerja di kediaman Mariam dan menjadi kesayangan Mariam ada beberapa pelayan yang iri kepadanya. Terutama pelayan yang umurnya hampir sama dengan Florence.
Mila, yang mendengar jika Florence akan pergi pun tersenyum sinis. Rencana jahat tersusun rapi dalam otaknya.
Dia segera pergi dari sana diam diam dan bersembunyi saat ingin menelfon seseorang.
"Dia akan pergi keluar sendiri, kamu bisa mengawasinya dan juga bisa melakukan apapun yang kamu mau. Ingat buat dia tak berani lagi muncul di sini!!!"
Mila menghubungi seseorang yang memang sejak lama menaruh rasa pada Florence tapi Florence tak suka dengannya. Karena yang ada dalam pikiran Florence hanya ingin hidup lebih baik lagi, punya rumah sendiri dan punya sebuah toko kue.
Florence menaruh Julian di kamarnya dan pergi untuk berbelanja. Mariam pun dengan senang hati menemani cucunya itu dengan merajut di kursi yang di sediakan Hugo untuknya.
"Ah, jalan jalan... tiga bulan lama ternyata!" seru Florence senang.
Dia mencari taxi online dan segera pergi berbelanja di mall yang memang lengkap. Mariam juga sudah memberikannya jatah bulanan untuk keperluan Julian.
#
Hampir dua jam lebih Florence berbelanja dan dia puas dengan semua belanjaan.
"Nah, udah cukup semua. Tapi tumben ini banyak banget. Kalau gitu pulang lagi naik taxi lagi aja."
Florence celingukan mencari taxi online, dan tak lama ada sebuah taxi berhenti di depannya. Tanpa ada rasa curiga, Florence masuk ke dalam taxi itu. Dia mengotak Atik ponselnya untuk memberitahu Mariam jika dia sudah dalam perjalan pulang. Tapi saat dia selesai, dia melihat sekeliling dan bingung.
"Kok bukan arah pulang?" gumam Florence bingung.
"Pak, ini bukan jalan pulang ke rumahku, kok kita lewat sini?"
"Ini memang bukan jalan ke rumah kamu, tapi jalan ke rumahku!"
Tubuh Florence membeku, dia hapal suara itu. Suara laki laki yang pernah memaksanya untuk menikah dengannya dan Florence menolak.
"Kamu?" pekik Florence suara bergetar.
Dia panik, dia mencoba membuka pintu mobil itu. Tapi ternyata Hadi menguncinya otomatis dari depan.
"Apa yang kamu lakukan? Buka pintunya!!" teriak Florence.
Tapi ternyata Hadi tak peduli dengan teriakan Florence.
Florence berpikir bagaimana caranya dia bisa terbebas dari Hadi dan bisa kabur dari sana.
Beruntung ponselnya bergetar dan di layar ponselnya tertera nama Hugo.
Dia mengangkatnya tapi tak langsung bicara.
"Hallo...."
Dari seberang sana, Hugo bicara tapi tak kunjung mendapat jawaban.
"Hadi, jangan gila kamu. Ini udah masuk ke dalam penculikan. Kamu bisa di penjara!" teriak Florence keras.
Dari seberang sana, Hugo langsung berdiri. Dia mendengar dengan seksama. Perasaannya mulai tak enak, dia masih mendengarkan semua pembicaraan Florence.
"Ger, lacak sambungan telfon ku, sekarang!"
Gerald yang berada di depannya pun mengangguk mengerti dan dia bergerak dengan cepat mencari titik GPS dari ponsel Florence.
Gerald juga mengenal Florence karena dia sering pergi ke mansion Hugo.
"Daerah pinggiran dan itu jauh dari arah mansion!"
"Pergi sekaran, bawa beberapa orang!"
Sial, apa yang terjadi pada Florence. Kenapa dia di culik? Siapa yang menculik nya?
#
Hadi sampai di sebuah rumah kosong, rumah yang memang sengaja dia sewa untuk melakukan semua rencananya.
Hadi keluar dari dalam mobilnya dan memaksa Florence mengikutinya. Hadi menarik paksa Florence untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Berengsek, lepasin!!!" teriak Florence keras.
Hadi tak peduli meskipun Florence memukul lengannya keras. Tetap saja Florence kalah tenaga dengan Hadi.
Hugo yang sejak tadi mendengarkan melalui sambungan telfonnya menahan marah.
Hadi melempar Florence ke atas ranjang yang ada disana. Dan membuat Florence semakin ketakutan.
"Kamu mau apa? Jangan mendekat! Pergi, tidak Hadi, jangan lakukan ini padaku!!" teriak Florence lagi.
Pikiran Hugo semakin kemana mana saat ini, dia sudah menyuruh Gerald mempercepat laju mobilnya.
Srek....
Terdengar bunyi robekan baju dari sana. Florence meronta dan menghindar. Dia bahkan sudah menggigit tangan Hadi tapi ternyata Hadi malah menampar Florence berkali kali.
Plak....
Plak...
Plak....
"Dasar jalang sialan!"
Hadi menarik rambut Florence dengan keras. Florence yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa menangis dan pasrah dengan keadaannya. Bajunya sudah sobek di sana sini. Dan Hadi terus memaksa untuk mencium Florence. Tangisan dari bibir Florence semakin keras.
Tuan Hugo tolong aku, aku mohon tuan!
Tapi sebelum Hadi berhasil mencium Florence dobrakan pintu terdengar dengan keras.
Hugo yang mendobrak pintu dengan menendangnya pun terkejut.
Dia berlari dengan kencang dan menarik tubuh Hadi lalu membantingnya ke lantai.
Brak....
Bugh
Bugh....
Hugo menghajar Hadi tanpa ampun, sedangkan Florence beringsut mundur sambil mencoba menutup bagian tubuhnya yang terlihat. Isakan tangisnya terus terdengar disana.
Gerald yang sudah sampai di sana menarik badan Hugo. Dan Hadi langsung di amankan oleh anak buahnya.
"Hugo, Florence butuh kamu. b******n ini biar aku yang urus!!"
Hugo mengatur napasnya yang terengah engah.
Dia melepaskan diri dari Gerald dan berbalik ke arah Florence.
Hugo meringis ngilu melihat tubuh Florence yang mulai membiru, terutama pada bagian wajahnya.
Hugo melepas jas miliknya dan memakaikannya pada Florence.
Dia memeluk tubuh mungil yang terus bergetar itu.
"Tenanglah, aku ada di sini!"
"Bawa dia ke markas!!"
to be continued