Bab 3

1023 Kata
Florence yang sejak tadi terus menangis lama kelamaan tak terdengar suaranya. Dan ternyata Florence pingsan dalam pelukan Hugo. Hugo sendiri sudah memberitahu mamanya jika Florence mengalami hal menakutkan seperti ini. Mariam yang kaget pun meminta Hugo menjaga Florence sementara waktu. Hugo terpaksa membawa Florence ke apartemen miliknya. Dia memanggil dokter langganan Mariam dan keluarganya untuk memeriksa keadaan Florence dan memintanya membantu mengganti pakaian Florence yang sudah tak karuan. "Tuan muda, mungkin nanti ketika dia terbangun akan kembali histeris. Jika tuan muda tak bisa menenangkan nya, tuan muda bisa memberikan obat penenang ini kepadanya." Hugo menerima obat penenang itu dan mengangguk paham. Setelah semua selesai, sang dokter pergi meninggalkan apartemen Hugo. Hugo melihat ke arah Florence, terlihat jelas wajahnya yang sedikit pucat. Dan luka lebam di beberapa titik wajah dan juga pergelangan tangannya. Spontan Hugo meraih tangan Florence dan mengusap pergelangan tangan itu lembut. Dia mengingat bagaimana ketika mamanya dan Julian sangat dekat dengan Florence. Hugo memang jarang bicara dengan Florence tapi dia selalu memantau semua orang melalui CCTV di mansion nya. Setelah puas memandangi wajah Florence, Hugo memilih pergi dari sana. Dia menghubungi Gerald yang sudah sampai di markas. "Gimana Ger? Apa dia mau bicara?" "Dia bekerja sama dengan orang yang ada di mansion kamu. Tapi dia tak mau bilang siapa orangnya!" Hugo mengerutkan keningnya, memikirkan semua info yang di berikan Gerald kepadanya. Apa ada yang tak suka dengan Florence sampai merencanakan ini semua? batin Hugo. Dia terdiam dan menyuruh Gerald memberikan pelajaran pada Hadi. Menghilang kedua tangan Hadi dan memotong lidahnya karena laki laki itu sudah berbicara kasar pada Florence. Hugo sendiri masuk ke dalam kamarnya dan mengambil laptopnya. Dia memilih menunggu Florence dan menjaganya dari dekat. Sementara itu, dia melacak semua info yang masuk ke dalam email-nya yang berasa dari Gerald. Rekaman telfon dan juga beberapa pesan singkat antara Hadi dan juga orang yang ada di rumahnya. Mata Hugo menelisik dengan cepat. Memindai semua rekaman CCTV yang ada di mansion nya sampai matanya menangkap siluet seseorang yang mencurigakan. Mata Hugo menyipit dan dia tahu siapa wanita sialan itu. Wanita yang selalu berusaha menggodanya dengan segala cara tapi Hugo tak pernah meliriknya sama sekali. "Kenapa dia melakukan pada Florence? Apa Florence melakukan kesalahan kepadanya?" Hugo mencari alasan di balik apa yang di lakukan pelayan itu pada Florence. Lalu sebuah rekaman CCTV tadi pagi terpampang jelas di depan matanya. Terlihat di sana sarapan tadi pagi tak ada apa apa sampai Mila melihat ke arah Florence dengan tatapan bencinya. "Jadi karena alasan iri sampai membuat wanita itu melakukan semua ini pada Florence?" geram Hugo. Dia lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan sesuatu pada salah satu pengawalnya yang ada di rumah. Dia harus mengawasi Mila agar tak berbuat macam macam. Saat Hugo selesai dengan semua masalah Florence dan mendapatkan bukti yang kuat. Tiba tiba terdengar teriakan dari arah ranjang. "Tidakkk, jangan sentuh aku!!!" Hugo dengan cepat menaruh laptopnya dan berjalan cepat ke arah Florence yang terbangun dengan wajah pucat serta napas yang terengah engah. "Florence, kamu baik baik aja?" Terlihat dengan jelas di mata Hugo tubuh Florence menggigil ketakutan. Hugo meraih pundak Florence tapi Florence dengan gerakan cepat menepis tangan Hugo. Dia beringsut mundur dan menjauh dari Hugo. "Jangan sentuh aku, pergi....." "Florence, ini aku." Hugo berusaha mendekat dan membuat Florence melihatnya. Tapi Florence terus menggeleng dan menjauh dari Hugo. Hugo mengacak rambutnya karena kesal, dia tak pernah melewati situasi seperti ini. "Florence!!!" Akhirnya suara keras Hugo terdengar di ruangan itu dan membuat Florence sedikit berjingkat. Perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Hugo. Air matanya yang sejak tadi dia tahan akhirnya keluar juga. Florence menangis tanpa suara dan perlahan Hugo mendekat ke arahnya. Meraih lembut badan Florence yang gemetar ketakutan. "Tenanglah, kamu sudah aman. Kamu akan baik baik saja." Hugo berusaha membuat Florence tenang, tapi Florence masih terus menangis. "Aku sudah kotor tuan." ucap Florence lirih. Tangan Hugo yang mengusap punggung Florence terhenti dan mengepal. Apa Hadi sudah menjamahnya? Itu yang ada di pikiran Hugo. "Katakan padaku, dimana dia menyentuh mu?" Suara berat Hugo terdengar di telinga Florence, perlahan isak tangisnya terhenti dan di gantikan dengan raut wajah yang sendu. "Dia.... berusaha mencium ku, dan juga menyentuh bagian tubuhku." jawab Florence lirih. Dia menunduk tak berani melihat kearah Hugo yang menatapnya datar. "Katakan dengan jelas, bagian mana yang dia sentuh?" tekan Hugo pada Florence. "Bibir... dan....." Mata Florence terbuka lebar saat langsung menciumnya dan menekan tengkuknya. Florence berusaha mendorongnya tapi Hugo tak mau melepaskan nya dan malah memperdalam ciumannya pada bibir Florence. Dia menyapu bibir itu dan memaksa Florence untuk membalasnya. "Aku yang akan menghapus jejak dari laki laki berengsek itu. Dan ingat selalu, hanya ada jejakku di tubuhmu!!" ucap Hugo dengan penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan. Kembali Hugo mencium bibir Florence, awalnya Florence diam dan memberontak tapi lama kelamaan Florence menurut dan mengikuti apa yang di lakukan Hugo kepadanya. Tak sampai di situ saja, Hugo menyusuri leher jenjang Florence yang putih. Tangan Hugo membuka kancing kemeja yang di pakai Florence satu persatu dan ciuman itu merambah kesana. Hugo dengan sengaja dan jelas meninggalkan jejak miliknya disana. Florence menahan suaranya yang akan keluar dari mulutnya. "Tuan......" seru Florence dengan suara tertahan. "Panggil namaku Flo...." Hugo memaksa Florence untuk memanggil namanya tapi Florence malah menggigit bibir bawahnya agar tak lancang menyebut nama tuan mudanya. Hugo yang kesal akhirnya membuat Florence mau menyebut namanya. Tangan Hugo yang sejak tadi di tahan agar tak menyentuh benda kenyal itu akhirnya mendarat di sana dan Hugo menggerakkannya sedikit. "Ahhh...Hugo.....!" Hugo yang baru saja mendengar Florence memangil namanya tersenyum puas, dia kembali menyerang bibir Florence sangat lama sampai dia sendiri merasa napasnya hampir habis barulah dia melepaskan Florence. Napas Florence juga memburu, dan Hugo mengusap bibir Florence yang bengkak karena ulahnya. "Ingat, semua yang ada di tubuhmu adalah bekas ku. Tak ada bekas orang lain lagi di tubuhmu." ucap Hugo serak. Florence mengangguk lalu menunduk. Setelah itu, Hugo mengusap kepala Florence dan meninggalkan Florence pergi ke kamar mandi. Dia perlu menenangkan sesuatu di bawah sana yang mulai sesak dan membuat kepalanya sakit. "Senjata makan tuan, dan kenapa malah aku yang menciumnya!!!" rutuk nya kesal. Tapi semakin Hugo ingat semakin juniornya berdiri tegak. "Berengsek .....!!!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN