Bekerja Lagi

1032 Kata
Istri mana yang tidak sedih saat melihat suaminya pulang dengan wajah kusut, uring-uringan dan menyerahkan selembar surat pemutusan kerja. Begitu pula dengan Hani. Dia kaget dan tidak percaya, tetapi ini benar adanya. Ardi pulang dengan membawa kabar tak baik bagi kelangsungan hidup keluarga mereka. Lelaki itu terkena pemutusan hubungan kerja secara sepihak oleh perusahaan. Dia salah satu yang terkena pengurangan karyawan, sebagai efisiensi dari dampak perekonomian yang semakin lesu. "Mas." Hani memeluk suaminya. Setetes air matanya jatuh di pipi. Mereka berpelukan cukup lama. Ardi bahkan ikut menangis. Seumur hidup mereka bersama, Hani tidak pernah melihat suaminya menitikkan air mata. Bahkan saat kepergian ayahnya, lelaki itu terlihat sangat tegar. "Maafin mas, ya. Udah bikin Adek kecewa." Ardi bukanlah laki-laki lemah. Dia lelaki tangguh, cerdas dan berprestasi. Masa kerjanya juga sudah cukup lama, enam tahun dari sebelum mereka menikah. Dia bahkan beberapa kali mendapat penghargaan dari kantor atas prestasi di beberapa acara. Dulu mereka bekerja di satu perusahaan. Aturan yang berlaku tidak mengizinkan suami istri berada dalam satu kantor. Akhirnya Hani memutuskan untuk mengundurkan diri setelah menikah, lalu mengurus rumah atas permintaan suaminya. Rumah tangga mereka sangat bahagia, walaupun sederhana tetapi berkecukupan. Sampai akhirnya Tuhan menitipkan seorang anak laki-laki. Rasanya, hidup mereka sudah lengkap semua. "Anggap saja ini ujian naik kelas, Mas. Kita mau dikasih rezeki lebih. Semoga nanti Mas dapat ganti kerjaan yang lebih baik," ucap Hani menenangkan. Pelukan Ardi semakin erat. Dia bersyukur memiliki istri seperti Hani. Tidak banyak menuntut atas apa-apa yang belum mampu dia berikan. Wanita itu ikhlas menerima apa yang selama ini hanya mampu dia cukupi. Hani memandang kertas itu berulang kali dan membacanya dengan teliti, terutama pada beberapa poin yang tertulis. Sebenarnya, kompensasi dari perusahaan lumayan banyak. Ardi mendapatkan pesangon yang lumayan. Bahkan dananya cukup untuk biaya hidup mereka selama setahun. Namun, bagi seorang laki-laki harga diri tetaplah bekerja. Rasanya tak pantas jika Ardi menganggur. Hani mengusap rambut Ardi dengan lembut, saat suaminya itu merubah posisi dan berbaring dipangkuannya. Wanita itu mengucapkan kata-kata indah sebagai penghibur dan penenang diri. Sebagai seorang istri yang taat, Hani selalu berusaha menyenangkan suami dengan cara apa pun. Selama pernikahan ini pun, Ardi selalu bersikap baik dan tidak pernah kasar kepadanya. Ardi memang suami idaman bagi banyak perempuan. Kasih sayang dan perhatiannya sangatlah berlimpah untuk anak dan istrinya. ** Tiga bulan berlalu sejak terakhir interview di gedung besar itu dan belum ada panggilan. Itu berarti Hani tidak lolos. Sudah berapa banyak lowongan yang dia apply, tetapi belum ada satu pun yang memanggil kembali. Hani merasa sedikit putus asa. Semangat yang tadinya cukup menggebu, kini perlahan memudar seiring dengan berjalannya waktu. Ada beberapa yang perusahaan yang memanggilnya. Namun, Hani langsung dinyatakan tidak lolos karena usianya yang sudah kurang produktif. Wajar saja karena ada banyak hal yang sulit dia ingat, mengingat memori di kepala sudah sedikit berkurang. Sementara menunggu panggilan kerja, Hani mencoba berjualan kue untuk menambah uang belanja. Hasilnya lumayan, bisa menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Setiap hari Hani akan mengantar kue ke pasar untuk dititipkan ke beberapa toko. Kadang habis terjual, kadang juga tidak. Jika sisanya masih banyak, dia akan membagikan itu kepada tetangga atau pemilik toko sebagai ucapan terima kasih. Sampai saat ini Ardi juga belum mendapat pekerjaan. Berkali-kali dia mencoba melamar, tetapi belum ada yang menerima. Sering kali Hani mendapati ada rona kecewa di wajah suaminya. Uang pesangon yang mereka tabung, sedikit demi sedikit juga mulai berkurang. Apalagi pihak keluarga tidak ada yang tahu karena mereka tinggal jauh dari kota kelahiran. Ardi juga masih rutin mengirim uang untuk orang tua dan biaya sekolah adiknya, karena ayah sudah tidak ada. Mereka masih merahasiakan semua, supaya tidak menjadi beban pikiran karena ibu sudah lanjut usia. "Unda. Aku mau pipis." Panggilan itu memecah lamunan Hani. Si ganteng buah hatinya datang menghampiri. Dengan tertatih anak itu berjalan. "Sini, Sayang," ucap Hani sembari meraihnya. Putranya sangat manja. Di usia yang sudah tiga tahun bicaranya belum terlalu lancar. Anak itu masih cadel, hanya kalimat tertentu yang jelas terucap. Hani menuntunnya ke kamar mandi. Dengan telaten dia mengurus dan mengajari putranya. Walaupun lelah, tetapi hatinya sangat bahagia. Anak memang anugerah Tuhan yang luar biasa dalam hidup kita. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Hani memilih untuk mengabaikan itu. Pikirnya entah siapa yang menghubunginya sore begini. Wanita itu berencana akan menelepon balik setelah selesai mengurus anaknya. Hani menyerahkan putranya kepada Ardi di kamar. Lalu, dia mengambil ponsel di atas nakas. Ada panggilan dari nomor tak dikenal. Telepon rumah lagi, entah itu dari siapa. Jika memang ada hal yang penting, biasanya akan menghubungi lagi. Benar saja, tak lama ada panggilan masuk dengan nomor yang sama. "Selamat sore. Apakah ini benar dengan Ibu Hani?" Terdengar suara seorang wanita di seberang sana. "Ya. Saya sendiri," jawab Hani. "Kami dari PT. Langit Jaya. Apakah benar pada tanggal 23 Januari Ibu mengirimkan lamaran pekerjaan di perusahaan kami?" tanya wanita itu lagi. "Iya benar, Mbak." "Oh, baiklah." Jantung Hani berdetak kencang. Dalam hatinya bertanya ada apakah ini. Semoga saja suatu pertanda baik. "Begini, Ibu. Kami ingin menyampaikan bahwa Ibu dipanggil untuk sesi wawancara lanjutan dengan tim kami. Besok pagi jam sembilan." "Baik," jawab Hani yakin. "Apakah Ibu bersedia?" "Apa? Eh, iya. Saya bersedia datang besok pagi," ucapnya terbata. Hani merasa gugup, antara percaya dan tidak. Rasanya, dia ingin bersorak girang sewaktu mendengarnya. "Baiklah. Kami menunggu kedatangan Ibu besok pagi pukul sembilan." Wanita itu mengulangi ucapannya. "Iya. Saya akan datang," jawab Hani dengan semangat empat lima. "Baik, Ibu. Kami tunggu kedatangannya. Selamat sore." Sambungan telepon terputus. Air mata Hani perlahan mengalir. Haru, segenap perasaan bercampur aduk di dadanya. Hani bergegas masuk ke kamar dan melihat Ardi sudah tertidur. Putranya sedang asyik bermain sendiri dengan bola plastik. Anak itu sesekali melempar ayahnya dan tertawa senang. Ardi tampak kelelahan setelah seharian membantu istrinya mengurus rumah dan menjaga anak mereka. Setiap Hani membuat kue, dia yang akan pergi ke pasar dan berbelanja semua bahan. Kadang-kadang Ardi membantu di dapur jika putra mereka sedang rewel. Namanya juga anak-anak, tidak bisa jauh dari ibunya. Hani tertawa melihat pemandangan itu. Bola yang memantul berkali-kali di kepala Ardi, tetapi dia tidak sadar sama sekali. Hal sederhana yang membuatnya bahagia. Hani memutuskan waktu yang tepat adalah nanti malam. Dia akan menceritakan semua kepada Ardi. Semoga suaminya ridho. Dia sudah tak sabar ingin segera menyampaikan kabar baik ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN