Dua orang itu duduk berhadapan. Mereka menatap satu dengan yang lain dengan penuh kasih sayang.
"Mas. Aku minta izin buat kerja lagi. Boleh, ya?"
Suara lembut Hani sedikit meruntuhkan pertahanan Ardi. Sejak dulu, dia memang sulit untuk menolak semua permintaan istrinya.
"Kamu yakin?" tanya Ardi dengan raut wajah kecewa.
Tatapan mata Ardi begitu tajam. Dia seperti tidak rela dengan keputusan yang diambil istrinya.
"Iya, Mas. Aku yakin banget. Ini juga kan buat Zydan. Enggak mungkin kita ngerepotin orang lain terus," jawab Hani tegas.
"Tapi, Dek--"
"Mas kan belum dapat kerjaan lagi. Sambil nunggu, gak apa-apa ya kalau aku kerja dulu sementara ini."
Memang tidak mudah bagi Hani, tetapi semoga ini yang terbaik untuk semua. Hanya ini satu-satunya cara agar mereka masih bisa bertahan hidup sampai suaminya bekerja lagi.
"Kasihan Zydan, Dek. Dia masih kecil. Masih butuh ibunya. Masa' kamu tinggal kerja?" protes Ardi.
Jika Hani pergi ke pasar sebentar saja, abang akan merengek mencari ibunya. Apalagi jika istrinya bekerja. Tentulah anak itu akan kesepian setiap hari.
"Aku kan cuma sebentar aja, Mas. Sore sudah pulang. Weekend juga kan masih bisa nemenin Zydan main. Sama ngurusin rumah. Boleh, ya?" bujuk Hani lagi.
"Zydan gimana nanti?" tanya Ardi meragu.
Sebenarnya Ardi masih berat hati melepas Hani bekerja di luar. Anak mereka masih kecil. Dia juga lebih suka dilayani istri di rumah.
Jika Hani bekerja, dia akan pergi seharian. Istinya pasti sibuk mengurus banyak hal di luar sana. Menghabiskan waktu dengan banyak orang, yang bahkan Ardi sendiri tidak tahu siapa saja.
Dulu sewaktu Zydan belum ada, Ardi mengizinkan Hani bekerja. Sekarang situasinya sudah berbeda. Jika istrinya tetap ngotot, itu berarti ada anak yang harus dikorbankan. Hal ini berat untuk dia putuskan.
Sebagai kepala keluarga, harusnya Ardi yang bertanggung jawab akan semua. Namun, dengan kondisi begini, mau tidak mau istrinya yang akan mengambil alih untuk sementara waktu.
"Nitip budhe sebelah," jawab wanita itu tenang.
Hani bukannya tidak percaya jika Ardi yang mengurus anak mereka. Walaupun bisa, tetapi laki-laki memang kadang kurang telaten momong anak kecil.
"Mas sendiri gimana?"
Hani bertanya itu sembari tersenyum geli. Dalam hati wanita itu berkata, sebenarnya bukan anak mereka yang manja, tetapi ayahnya.
Ardi sudah terbiasa dimanja istrinya dengan pelayanan yang baik di rumah. Jika Hani bekerja, sudah pasti beberapa hal akan dia akan lakukan sendiri.
"Belum tau." Lelaki itu tertunduk lemah.
"Mas ikut pelatihan aja yang temen Mas tawarkan waktu itu. Biar ada kegiatan sampai dapat kerja lagi. Lumayan juga uang sakunya."
Hani menawarkan solusi, daripada suaminya uring-uringan terus di rumah. Kegiatan semacam itu cukup bagus dan memberikan dampak positif. Peserta jadi mempunyai keahlian baru yang bisa diterapkan di dunia kerja.
"Tapi mas gak tertarik sama pelatihan itu. Bukan bidangnya mas."
Ardi menolak. Dia tidak suka dipaksa melakukan sesuatu hal yang tidak disukainya.
"Gak apa-apa, Mas. Dicoba aja dulu. Mana tau dapat keahlian baru. Dapat temen baru juga. Mungkin dari mereka nanti ada info lowongan kerja."
Tidak gampang meyakinkan Ardi. Lagipula ini pasti akan berdampak pada semua aspek rumah tangganya. Namun, Hani tak mau memikirkan itu terlalu mendalam. Lebih baik dia tetap berpikiran positif dari pada menduga hal buruk yang belum tentu terjadi.
Hani juga belum mencoba, mana tahu berhasil. Di luar sana, ada banyak ibu-ibu bekerja dan tetap nyaman saja dengan anak-anak yang tetap diurus dengan baik.
Anak bukanlah penghalang bagi seorang wanita untuk berkarir. Asal si ibu mengerti dan tahu batasan yang mana hak dan mana kewajiban. Hani sangat optimis dia bisa menjalani keduanya walaupun tidak sepenuhnya adil.
"Kamu tega?"
Ardi masih berusaha meyakinkan. Mungkin saja istrinya berubah pikiran. Tabungan mereka masih cukup untuk beberapa bulan ke depan.
"Biasanya kalau aku nganter kue juga Zydan dititip sama Budhe. Lagian dia sayang banget sama anak kita. Kayak cucunya sendiri."
Hani mengucapkan itu sembari menggendong putranya dipangkuan. Anak tiga tahun itu hanya menyimak apa yang menjadi pembicaraan orang tuanya, tanpa mengerti apa maksudnya.
"Itukan cuma sebentar. Ini seharian, loh. Kamu kerja dari pagi sampai sore."
Ardi masih saja berargumen. Rasanya dia masih belum rela. Lelaki itu lebih suka Hani di rumah saja dan mengurus mereka.
"Mas. Kita kan belum coba."
Hani kembali berusaha meyakinkan Ardi memang tidak gampang dipengaruhi dalam beberapa hal, terutama menyangkut anak mereka. Suaminya tidak mau sembarangan memutuskan sesuatu.
"Kalau kamu kangen, gimana? Kamu kan, gak pernah pisah lama-lama sama Zydan."
"Nanti tiap makan siang aku telepon Budhe. Biar dia senang."
Ardi menarik napas panjang lalu terdiam sesaat. Lelaki itu membuang pandangan dan mengusap wajah berulang kali.
"Oke tapi kamu janji pulang tepat waktu. Jangan keluyuran. Setelah mas dapat kerja lagi kamu resign. Gak boleh kerja lagi!" katanya tegas.
Hani mengangguk, tanda setuju dengan apa yang diinginkan Ardi. Mereka membuat kesepakatan. Harus ada kejelasan sebelum segala sesuatu diputuskan.
"Iya. Tapi Mas ridho kan kalau aku kerja lagi?" Hani menggenggam tangan suaminya.
Bagaimanapun juga kerelaan suaminya yang dia cari untuk saat ini. Jika Ardi tidak memberikan izin, maka tidak akan ada kebaikan apa pun di dalamnya. Dia memegang teguh prinsip itu.
"Iya. Tapi kamu jaga diri. Jangan macam-macam. Mas kasih izin."
Ardi mengusap kepala Hani, lalu mencium pelipisnya sekilas. Betapa lelaki itu sangat sayang kepada istrinya. Wanita penyabar yang penuh kasih sayang dan kelembutan pada keluarga.
Mereka asyik berbincang, hingga ucapan sang putra memutus pembicaraan.
"Bunda, mana bola aku?" tanya Zydan itu dengan suara yang lucu.
Hani meletakkan putranya ke pangkuan Ardi dan berjalan menuju sudut kamar.
"Ini, Sayang."
Hani mengambil sebuah bola di dalam keranjang yang penuh dengan tumpukan mainan. Anak itu bersorak kegirangan setelah mendapat apa yang dia mau.
"Besok Zydan bobok sama Uti di sebelah, ya. Bunda mau pergi bentar."
Hani mengucapkan itu, lalu memeluk putranya dengan erat. Setitik air matanya menetes, sedih karena selama ini belum pernah berpisah lama. Entah nanti dia sanggup atau tidak, semoga saja dia kuat.
"Mau antal kue?" tanya anak itu. Matanya manatap ibunya dengan polos. Wajah lucunya membuat mereka berdua terharu.
"Iya, Sayang. Mau antar kue sebentar." jawab Hani dengan senyum tulus. Abang pasti mengerti dengan keputusan yang dipilih ibunya.
"Belikan aku bola," katanya lagi.
Hani dan Ardi tertawa melihat tingkahnya. Putra mereka memang lucu sekali. Matanya bulat seperti Ardi. Badannya gempal karena minum s**u yang banyak. Namun, mulutnya seperti Hani, bawel dan menggemaskan.
"Lah kan udah banyak." jawab Ardi sambil menunjuk keranjang mainan.
"Walna bilu belum ada."
Mereka berdua kembali tertawa melihat kelucuan anak itu. Ardi yang tiga bulan ini nampak lemas dan kehilangan semangat, kini kembali ceria.
Terima kasih Tuhan. Hani memeluk erat tubuh mungil itu sehingga lengan mereka bertiga saling bertautan.
"Maafkan bunda ya, Nak. Bunda bakalan ninggalin kamu sementara waktu buat bantu ayah. Zydan yang pinter ya di rumah. Jangan rewel. Jangan nakal," bisiknya.
Sebuah kecupan sayang Hani hadiahkan di pipi putranya. Lalu, wanita itu mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Ardi merengkuh Hani dengan erat, lalu membisikkan kata-kata agar istrinya merasa tenang. Sekalipun belum bekerja lagi, dia berjanji akan tetap melindungi keluarga.