Kayla berusaha keras menahan apapun reaksi yang ingin tubuhnya lakukan. Menahan mimik wajah sedatar mungkin, menahan degup jantung agar detaknya tidak menggila, menahan kakinya agar tak berlari menerjang pria yang kemarin baru saja menciumnya. Menahan untuk tak kemudian memeluknya erat dan mencium puas aroma tubuhnya. Kayla menelan ludah menghalau pikiran kotornya. Kayla baru saja selesai memindahkan masakannya ke atas piring saji dan meletakkannya di atas meja makan. Melirik jam digital di dapur yang masih menunjukkan pukul 16.54 ini bahkan belum waktunya pulang kantor, tapi pria ini sudah berada di sini, di hadapannya. Kayla menyandarkan pinggulnya pada pinggiran wastafel dapur sambil bersedekap, menatap balas tatapan Agastya yang tak kalah dingin menghujam. Kayla tak mau kalah kali in

