Seketika ruangan Rian berubah suasana. Dari yang tadinya menyegarkan, kini terasa sesak sebab kedatangan Jefry. Bukan karena Rian grogi atau panik dengan datangnya seorang laki-laki yang selama ini menjadi sahabat kekasihnya, Reina. Tapi, karena kedatangan Jefry dengan ekspresi yang sulit dibaca, juga diamnya lelaki itu meski waktu sekian menit telah berlalu, membuat suasana canggung itu begitu terasa. "Kalau kamu belum mau mengatakan apapun, lebih baik gunakan waktu istirahat ini dengan ...." "Reina sangat menderita setelah penolakan yang kamu lakukan dulu." Rian belum selesai dengan kalimatnya ketika Jefry tiba-tiba memotong. Tak ayal, kedua alisnya langsung bereaksi dengan menatap wajah Jefry yang tajam menatap ke arahnya. Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam toilet di man