bc

Pria Terlarang Milik Aletha

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
billionaire
revenge
forbidden
love-triangle
age gap
second chance
arranged marriage
arrogant
badboy
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
bxg
bold
childhood crush
affair
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Aletha Maharani Dirgantara adalah bentuk kesempurnaan seorang wanita, di usianya yang menginjak dua puluh empat tahun, Aletha sudah memiliki segalanya. Cantik, cerdas, dan lahir dari keluarga konglomerat yang otoriter menjadikan Aletha wanita yang ambisius. Aletha akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan, termasuk Adrian Martadinata, cinta pertamanya, pria beristri yang seharusnya menjadi suaminya.Adrian tak kalah tangguh, ia menggenggam seluruh kenikmatan dunia. Jabatan, kekuasaan, keluarga harmonis, juga istri cantik bernama Evelyn Dirgantara, satu-satunya wanita yang ia cintai yang merupakan kakak tiri Aletha.Namun, bagi Aletha, Evelyn bukan hanya sekedar kakak, melainkan musuh yang harus dihancurkan. Aletha menyimpan dendam selama bertahun-tahun kepada Evelyn, anak dari wanita yang telah merampas ayahnya dari sang Ibu, mencuri nama Dirgantara dengan tidak tahu malunya.Kini, dunia harus memihak pada Aletha, agar Evelyn merasakan kehilangan yang sama, pengkhianatan yang sama. Aletha akan ambil semuanya dan merebut kembali apa yang seharusnya miliknya. Ya, pria terlarang yang bernama Adrian."Aku tidak peduli dosa apa yang akan aku lakukan, selama kau yang seharusnya milikku menjadi milikku, meski harus kuseret keluar dari rumah tanggamu."~Aletha Maharani Dirgantara~

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Langit membentang biru, menggantung bersih tanpa celah memperlihatkan sang matahari yang bersinar terik, kilaunya menembus dinding kaca raksasa gedung pusat penerbangan internasional yang masih dipenuhi lalu lalang penumpang. Suara pengumuman penerbangan bersahut-sahutan dengan deru koper yang ditarik dan percakapan samar dari berbagai arah, menciptakan irama khas yang hanya dimiliki sebuah bandar udara. Ketika dunia sedang sibuk-sibuknya, langkah seseorang muncul dengan tenang dan teratur yang langsung mencuri perhatian. Seorang gadis yang tidak mungkin luput dari pandangan berjalan keluar dari pintu kedatangan dengan dagu terangkat dan ketukan hak tinggi dari sepatunya terdengar sangat anggun juga percaya diri, seolah-olah lantai marmer itu memang dibuat khusus untuknya. Dress yang ia kenakan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya, elegan tanpa berusaha terlalu keras. Rambut cokelat panjang terurai dalam gelombang halus di leher jenjangnya, bergerak pelan setiap kali ia melangkah, seakan tertiup angin yang hanya berpihak padanya. Wajahnya cantik, tetapi bukan sekadar cantik biasa. Kecantikan yang tanpa sadar membuat orang lain menoleh hingga dua kali ke arahnya, walaupun dibalut dengan keangkuhan. Ya, gadis itu Aletha. Aletha Maharani Dirgantara. Seorang yang baru saja kembali ke negaranya. Tangannya menyeret koper berwarna cokelat s**u dengan santai, tidak terburu-buru. Ia bahkan tidak peduli pada orang-orang yang hampir menyingkir dengan sendirinya dari jalur yang ia lalui. Dua pria berbadan tegap segera mendekat begitu ia keluar dari pintu utama. Tanpa menghentikan langkahnya, gadis itu melirik sekilas, cukup dengan satu gerakan kecil dari jemarinya. Koper yang ia bawa langsung diambil alih oleh kedua pria tersebut, tanpa ucapan terima kasih keluar dari mulutnya dan tidak ada basa-basi. Aletha memang tidak terbiasa melakukannya. heels-nya berdetak pelan namun pasti berjalan keluar, ke arah mobil mewah hitam yang sudah menunggu. Beberapa orang masih memandangnya, sebagian terpesona, sebagian lagi hanya bisa bertanya-tanya siapa gadis cantik itu sebenarnya. Aletha berhenti sejenak melepas kacamata hitam yang sedari tadi menutup mata indahnya, sebelum pintu mobil dibukakan oleh salah seorang pria yang menjemputnya. Sorot matanya menyapu sekitar, dingin, menilai lalu tersenyum, senyuman yang tidak bisa diartikan. Akhirnya tanpa ragu, ia masuk ke dalam mobil, duduk dengan anggun seolah dunia memang sudah disiapkan untuknya sejak awal. Pintu mobil tertutup rapat, meredam riuh bandara menjadi kesunyian yang nyaman. Aroma leather yang mahal memenuhi ruang, berpadu dengan pendingin udara yang sejuk. Gadis itu langsung duduk bersandar, lalu dengan santai menyilangkan kakinya. Dress-nya terangkat sedikit, tetap elegan dan tetap terkontrol. Tangan Aletha sudah sibuk dengan ponsel, jemarinya bergerak cepat, menurutnya, dunia di dalam layar itu jauh lebih menarik daripada dunia di luar. Ia mengambil potret dengan telapak tangan yang menopang dagu dan senyuman yang manis tetapi berbahaya. Dalam sekali bidik, ia mengunggah poto tersebut di media sosial miliknya dengan menambahkan keterangan 'Aku sudah kembali, maka bersiaplah'. Di kursi depan, salah satu dari dua pria tadi, yang merupakan pengawal pribadi Aletha sejak kecil bernama Pak Surya, melirik lewat kaca spion. “Nona, Tuan besar tidak bisa menjemput. Beliau masih ada urusan bisnis," ucapnya yang tidak mendapatkan reaksi apapun dari Aletha. Bahkan kelopak matanya pun tidak terangkat hanya untuk sekedar merespon. Aletha sudah tahu, itu adalah informasi yang terlalu biasa untuk ditanggapi, bahkan setelah empat tahun ia pergi, Aletha sudah bisa menebaknya. Empat tahun ia pergi dan tiga tahun tanpa kepulangan. Nyatanya tidak ada yang berubah. Ayahnya tetap sama, terlalu sibuk, terlalu tenggelam dalam dunia yang tidak pernah benar-benar melibatkan dirinya sebagai anak. Lelaki tua itu hanya bisa menuntut Aletha untuk menjadi yang terbaik. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Bukan sedih atas sikap ayahnya, bukan juga kecewa. Tetapi karena mengingat sesuatu, sesuatu yang mungkin tidak bisa hilang dari ingatannya seumur hidup. Karena bosan, Aletha akhirnya menyimpan kembali ponselnya. “Langsung ke rumah, Nona?” tanya Pak Surya dengan hati-hati. Baru kali ini gadis itu mengangkat wajahnya. Pertanyaan yang baru saja dilontarkan Surya mematik jiwa liarnya. Mata Aletha berkilat. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak sederhana. Ia memiringkan kepala sedikit, lalu tersenyum licik, penuh rencana. “Rumah?” ulangnya pelan, seolah kata itu terdengar asing. Suasana mendadak hening, lalu Aletha menyandarkan tubuhnya lebih santai, menatap lurus ke depan. “Tidak." Suaranya lembut, tetapi mengandung ketegasan yang tidak bisa dibantah. “Aku ingin langsung ke M.D.Corp,” lanjutnya dalam satu kalimat, namun cukup untuk membuat suasana di dalam mobil berubah. *** Logo berwarna hitam dan emas bertuliskan M.D. Corp terpampang megah di puncak gedung pencakar langit pusat kota. Aletha keluar dari mobil, memperhatikan gedung bertingkat megah yang ada di hadapannya. Lantai marmer hitam mengilap, langit-langit tinggi, dan pantulan cahaya lampu kristal yang membuat siapa pun tampak kecil di dalamnya. Namun tidak berlaku pada Aletha. Ia tetap berdiri tegak di tengah lobi, menengadah sedikit, memperhatikan gedung itu dengan sorot mata yang tajam, bibirnya melengkung tipis. "Kau beruntung sekali, Evelyn,” gumamnya sinis, nyaris seperti bisikan yang mengandung racun. Langkahnya kemudian bergerak maju dengan ketenangan pasti, dan penuh klaim tak kasat mata. Heels-nya masih berdetak lembut, tapi cukup untuk menarik perhatian. Satu per satu kepala menoleh. Lagi dan lagi, semua mata tertuju pada Aletha termasuk resepsionis yang ingin mencegahnya masuk karena melihat gadis asing yang terlalu mencolok untuk diabaikan berada di kantornya. Resepsionis yang semula tersenyum profesional langsung berubah waspada. Ia bergegas maju, mencoba menghentikan. “Maaf, Nona, apakah Anda sudah memiliki janji---” Kalimat itu terpotong. Bukan karena Aletha berbicara. Melainkan karena tatapannya. Tajam, dingin, dan menekan. Aletha justru mendominasi, memaksa mereka menghentikan ucapannya. Hanya satu lirikan dan cukup untuk membuat si resepsionis terdiam, kata-kata berikutnya lenyap begitu saja. Udara seolah menegang. Aletha bahkan tidak perlu menyentuhnya. Ia hanya melangkah lewat. Karena memang... Siapa yang berani menghentikannya? Hari ini, ia hanya ingin “menyapa” seseorang. Seseorang yang selama bertahun-tahun bahkan detik ketika ia resmi menjadi saudara Aletha, belum pernah sama sekali Aletha temui. Kakak iparnya. Bak mendapat jackpot, belum sempat Aletha menuju lift, pintu elevator di sisi lain lobi terbuka. Dan di sanalah dia yang Aletha cari. Aletha berhenti, matanya langsung mengunci target. Senyumnya perlahan terangkat. Tak perlu bertanya-tanya darimana Aletha tahu wajah kakak iparnya, sedangkan ia saja tidak hadir dalam pernikahan mereka. Aletha mengenalnya, bahkan jauh sebelum pria itu menjadi milik Evelyn, kakak tersayangnya. Pria itu terlihat keluar dengan langkah tegas, dikelilingi beberapa orang berpakaian rapi, mungkin pengawal, atau mungkin asisten penting. Auranya langsung terasa berbeda. Dominan. Dingin. Tidak tersentuh. Tidak mau membuang waktu dan menunggu pria itu pergi, tanpa ragu, Aletha melangkah cepat ke arahnya hingga mereka hampir berpapasan. Timing-nya presisi, Aletha sudah memperhitungkan sejak awal. Dan dalam hitungan detik. Ia sengaja menjatuhkan dirinya ke arah pria itu. Refleks. Sang pria yang sejak awal tidak menyadari keberadaannya menghindar dengan cepat. Terlalu cepat. Namun Aletha bukan seseorang yang bergerak tanpa rencana. Jika ia harus jatuh, maka ia tidak akan jatuh sendirian. Otak cerdiknya berpikir cepat, tangan Aletha terulur menangkap dasi pria itu dengan cengkeraman yang pasti. Tarikan itu cukup. Seketika, keseimbangan mereka hilang dan mereka berdua jatuh terduduk di lantai marmer dingin, di tengah lobi yang kini seketika sunyi sebelum berubah menjadi riuh. Napas tertahan. Semua mata membeku di satu titik. Aletha masih menggenggam dasi pria itu cukup dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Mata Aletha menatap lurus ke dalam mata pria itu. Tenang, berani, dan penuh permainan. Sementara pria itu juga menatap balik Aletha dengan sorot terkejut yang cepat berubah menjadi tajam dan penuh tekanan. Waktu terasa melambat hingga suara-suara mulai kembali terdengar berbisik-bisik, langkah kaki, kepanikan kecil dari orang-orang sekitar. Beberapa orang sudah bergerak mendekati mereka, bersiap membantu pria itu untuk berdiri dan mungkin juga siap memarahi si penyebab kegaduhan tersebut. Namun, sebelum itu terjadi, Aletha tersenyum manis tanpa rasa panik dan takut sedikitpun, bahkan terlalu manis untuk situasi seperti ini. “Maaf, kakiku terpeleset, Kakak Ipar,” ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
698.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
938.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
335.9K
bc

Not just, the Beta

read
335.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook