Bab 2 : Kepura-puraan yang Melelahkan

1845 Kata
Aletha duduk di kursi meja makan dengan kaki menyilang santai sembari mengunyah rotinya. Ia masih memakai pakaian tidur satin berwarna gading yang jatuh lembut membungkus tubuhnya. Rambut kecokelatan panjang ia ikat asal sedikit berantakan, memberi kesan baru bangun tidur yang justru terlihat sangat cantik untuk ukuran manusia biasa. Ia kembali mengoleskan selai alpukat ke atas roti panggangnya sebelum sayup-sayup mendengar pintu utama rumah keluarga Dirgantara terbuka tepat ketika suara denting sendok masih terdengar pelan dari tangannya. Dan pagi itu langit bahkan belum benar-benar terang. Aletha kini dengan jelas mendengar suara langkah kaki dari sepatu heels yang mendekat. “Aletha.” Suara panggilan lembut yang tanpa menoleh pun Aletha tahu siapa pemiliknya. Ia mengangkat wajahnya perlahan dengan malas, sembari menggoyang-goyangkan ujung kakinya. Di ambang ruang makan, Evelyn terlihat berdiri dengan senyum anggun yang sangat khas. Wanita itu mengenakan dress putih sederhana dipadu dengan cardigan tipis warna biru pucat. Di tangannya terdapat sebuah pot kaca berisi bunga lily putih yang masih segar. Cantik, tenang dan sempurna. Aletha menyunggingkan senyum lalu kembali menunduk untuk mengigit rotinya. “Aku datang terlalu pagi?” tanya Evelyn mendekat ke arah Aletha. Aletha langsung memasang senyum yang manis menatap sang kakak. “Tentu saja tidak, kau bebas datang kapanpun ke rumah ini," jawabnya asal. Pelayan segera menarikkan kursi untuk Evelyn, tetapi wanita itu lebih dulu berjalan ke samping Aletha. “Aku membawakan ini untukmu." Evelyn meletakkan pot bunga yang ia bawa dengan hati-hati di atas meja makan di samping Aletha. “Bunganya baru mekar semalam.” Aletha mengamatinya, beberapa tangkai bunga lily putih, harumnya lembut, tidak terlalu menusuk. “Cantik sekali, terima kasih." Evelyn mengangguk kecil. Senyumnya menghangat. Sejak dulu Evelyn memang menyukai bunga. Beberapa tahun lalu setelah menikah, Aletha dengar dari cerita Tante Helena, kakaknya itu membuka sebuah toko bunga, toko yang dihadiahkan oleh sang suami. Dan sekarang sepertinya dia sudah punya beberapa cabang. Aletha masih ingat dengan jelas bagaimana tante Helena bersemangat memuji Adrian karena rasa sayangnya pada Evelyn, demi hobi Evelyn, Adrian sampai membuatkan toko bunga cantik secara khusus yang desainnya mendatangkan arsitek dari Paris. Kisah cinta yang sangat romantis, bukan? Sungguh memuakkan. "Datanglah sesekali ke toko ku, dan pilihlah bunga yang kau suka," tawar Evelyn. Aletha menunduk sebentar, pura-pura memperhatikan kelopak bunga yang nampak sangat cantik itu. “Toko bunga, ya?” Ia tertawa kecil. “Sangat cocok untukmu, Kak Evelyn," lanjutnya dengan senyum yang dibuat sangat manis. Ya, benar-benar cocok. Sangat lembut, rapuh dan membosankan. Kalimat yang hanya bisa bergema di kepala Aletha. Evelyn akhirnya duduk di sampingnya. “Maaf, aku tidak menjemputmu kemarin, ayah tidak memberitahu--.” “Tidak masalah," potong Aletha sebelum Evelyn menyelesaikan ucapannya. Wanita itu tersenyum sabar. “Tapi tetap saja, aku merasa kecewa.” Aletha menoleh pelan hingga tatapan mereka bertemu beberapa detik. Di wajah Evelyn nampak ketulusan yang tidak dibuat-buat. Dan justru itu yang paling Aletha benci. Karena dia selalu terlihat seperti manusia baik. “Aku sudah terbiasa sendiri, jadi bagiku tidak masalah, kau tidak perlu merasa kecewa," tukas Aletha akhirnya, ia tersenyum lagi. Cantik, manis tapi palsu. Aletha tidak ingin melanjutkan drama perasaan tidak enak antara kakak adik yang bahkan bagi Aletha terasa kaku. Sudah. Cukup. Jangan mendramatisir karena hal yang sepele. Ada rasa canggung yang Evelyn rasakan begitu mendengar ucapan Aletha. Ia tahu, mungkin ayahnya sangat sibuk dan Aletha kurang perhatian dari sang ayah. Evelyn juga merasakannya sendiri setelah ibunya meninggal sejak ia lulus sekolah menengah atas, segalanya jadi terasa berbeda. Dulu, ibunya selalu ada untuk Evelyn, tapi lambat laun setelah ibu pergi, Evelyn menjadi asing. Ia sangat paham apa yang dirasakan Aletha. Sendirian, sama-sama sudah tidak mempunyai ibu di dunia ini, walaupun uang dari sang ayah tidak akan pernah habis memanjakan mereka, tapi sosoknya yang bahkan jarang ada membuat rasa kesepian di hati masing-masing. Evelyn mengusap pelan daun kecil pada pot bunga itu sebelum kembali menatap Aletha dengan senyum hangat. “Aku dengar kau menjadi lulusan terbaik di universitas mu, Aletha?" Aletha menyandarkan tubuhnya ke kursi, masih memegang cangkir kopinya dengan santai. “Mm. Iya, cukup baik." Ia mengangkat bahu kecil. “Cukup baik?” Evelyn tertawa pelan. “Ayah bilang kau lulus lebih cepat. Kau lulusan terbaik dari universitas elite di Australia dengan double degree atau master muda. Itu tidak hanya cukup baik, Aletha. Kau yang terbaik. Ayah memamerkan hal itu pada seluruh keluarga dan rekannya." Aletha tersenyum tipis. Senyum penuh kepuasan diri yang nyaris tidak bisa ia disembunyikan. “Benar, aku memang lulusan terbaik. Sesuai harapan ayah.” Tidak ada keraguan dalam nada suaranya. Seolah dunia memang sudah seharusnya mengakuinya. Bangga. Hanya rasa itu yang ada dalam diri Evelyn untuk Aletha. Tidak seperti dirinya yang mungkin jauh dari harapan sang ayah. “Itu luar biasa, Aletha.” “Tentu saja.” Aletha meminum kopinya perlahan. “Aku tidak mungkin pulang dengan hasil yang biasa.” Kalimat itu terdengar arogan. Dan Aletha sengaja membuatnya terdengar seperti itu. Evelyn hanya tersenyum maklum, seakan sudah terbiasa dengan sifat Aletha. “Jadi setelah ini kau akan menetap di Indonesia?” Aletha mengangguk pelan. “Aku sudah cukup dengan hidup bermalas-malasan disana.” Matanya bergerak malas ke luar jendela besar ruang makan. “Aku ingin mulai menerapkan ilmu yang aku dapat untuk bekerja.” “Di perusahaan, ayah?” Aletha menatap Evelyn dan tersenyum kecil. Apa yang kau harapkan, Kak Evelyn? Tidak ada tantangan sama sekali di perusahaan Ayah. Batin Aletha. “Tentu saja tidak, aku sama sekali tidak berniat berada di bawah kendali Ayah," jawabnya kemudian. Ada ambisi besar di matanya. Evelyn memperhatikan beberapa detik sebelum berkata pelan, “Kau benar-benar mirip Ayah.” Senyum Aletha memudar. “Itu bukan sebuah pujian untukku.” Suasana mendadak sedikit sunyi. Evelyn yang tersadar mencoba mengalihkan topik sebelum membuat suasana hati adiknya memburuk. Ini adalah hari yang baik, dimana Aletha cukup banyak berbicara padanya. Sebelum-sebelumnya ia akan bersikap dingin. “Aku yakin kau akan sangat sukses dimanapun kau bekerja, Aletha. Kau punya kemampuan besar." Aletha menoleh pelan padanya. “Tentu," jawabnya terdengar terlalu percaya diri. Nyaris seperti ancaman halus. Karena Aletha Maharani Dirgantara memang tidak pernah dilahirkan untuk menjadi wanita biasa yang hanya mengurus bunga. "Ah, aku juga harus meminta maaf padamu, karena selama kau penempuh pendidikanmu, aku tidak pernah mengunjungimu." "Bukankah aku yang melarangnya?" jelas Aletha. "Tetap saja, seharusnya aku datang." "Aku bersyukur kau menuruti keinginanku, Kak Evelyn. Karena aku memang tidak ingin bertemu siapapun. Karna kau dan yang lain tidak pernah datang, jadi aku bisa fokus menyelesaikan studiku," kata Aletha tak peduli. Aletha memang dengan terang-terangan melarang siapapun mengunjunginya termasuk Evelyn, kecuali jika ingin dibenci oleh Aletha, silahkan datang. Hanya Tante Helena yang Aletha izinkan menemuinya, itupun untuk memenuhi keperluan Aletha, walaupun terkadang ayahnya muncul tiba-tiba. Aletha memutar pelan sendok kecil di dalam cangkir kopinya, membiarkan suara denting halus memenuhi jeda di antara mereka yang tiba-tiba dirundung kesunyian. Tatapannya turun sebentar ke cincin pernikahan di jari Evelyn. Berlian itu indah. Sangat indah. Berlian yang seharusnya miliknya. Dan entah kenapa membuat d**a Aletha terasa tidak nyaman. “Jadi…” Aletha melipat tangannya ke depan d**a dan kembali menyandarkan punggungnya ke kursi. “Bagaimana kehidupan pernikahanmu?” Tanya Aletha dengan nada suaranya ringan, manis. Seolah hanya pertanyaan biasa dari seorang adik yang perhatian. Evelyn tampak sedikit terkejut, mungkin karena Aletha jarang menanyakan hal pribadi seperti itu, apalagi menanyakan tentang pernikahannya. Ia tersenyum kecil. “Baik," jawabnya sederhana. "Apakah pernikahan selalu semanis drama romantis?" Pancing Aletha yang bahkan dia sudah tahu jawabannya. "Kadang kami bertengkar karena hal-hal kecil." Evelyn menerawang, mengingat hal-hal yang sudah ia lalui selama tiga tahun bersama sang suami. “Tapi Kak Evelyn mencintainya?" Bukan pertanyaan. Lebih seperti pengamatan. Aletha melihat binar di mata Evelyn ketika ia mulai menanyakan hubungannya dengan sang suami. Evelyn terdiam sesaat sebelum mengangguk kecil. “Aku mencintai Adrian.” Ada kelembutan dari cara wanita itu menyebut nama suaminya. Tulus dan tenang. Dan Aletha tidak menyukai itu. “Bagaimana dengan Adrian?” tanya Aletha lagi perlahan. “Apakah dia mencintaimu?” Kali ini Evelyn tidak langsung menjawab. Senyumnya masih ada, tetapi sedikit berubah lebih berhati-hati. “Adrian memang bukan pria yang pandai menunjukkan perasaan,” ucapnya lembut. “Tapi dia pria yang sangat baik," jawabnya diplomatis. Aletha hampir tersenyum sinis. Jadi bahkan istrinya sendiri tidak bisa mengatakan dengan yakin bahwa Adrian mencintainya? Itu sangat menarik. “Aku selalu sulit membayangkan kenyataan kalian menikah karena perjodohan, aku dengar dia pria yang dingin,” ujar Aletha sambil meminum kopinya sembari menyadarkan Evelyn bahwa pernikahan mereka dari awal hanya merupakan pernikahan bisnis. “Adrian tidak sedingin itu.” “Oh ya?” Evelyn tersenyum kecil, seolah sedang mengingat sesuatu. “Dia hanya tidak suka berbicara terlalu banyak. Tapi dia perhatian.” "Oh." Aletha mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tersenyum manis. "Aku ikut senang kalau begitu," dustanya terdengar sempurna. “Aku juga belum sempat bilang maaf karena tidak datang.” Kalimat itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sebuah permintaan maaf. Aletha memang tidak datang ke pernikahan kakak tirinya sendiri. Dan semua orang di keluarga tahu itu. Evelyn menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Kau pasti sangat sibuk waktu itu.” “Baguslah kalau kakak mengerti aku, kau memang yang paling perhatian," ucap Aletha blak-blakan tanpa rasa bersalah. Namun Evelyn malah tertawa kecil. “Kau tidak berubah sama sekali ya.” “Aku anggap itu pujian.” Evelyn kembali menatap pot bunga kecil di meja sebelum berkata pelan, “Aku sebenarnya masih berandai-andai jika kau datang hari itu.” Untuk pertama kalinya sejak Evelyn tiba, Aletha sedikit terdiam. Bukan karena merasa bersalah, tapi karena ada ketulusan dalam suara wanita itu. Dan Aletha tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi ketulusan tanpa merasa terganggu. Hal-hal yang paling Aletha benci adalah membiarkannya mempunyai simpati pada orang lain. Menurutnya itu hanya sebuah kelemahan. “Aku sudah mengucapkan maaf,” katanya akhirnya sambil tersenyum tipis. “Jangan membuatku mengulanginya dua kali.” Evelyn hanya tersenyum hangat. Dan Aletha membalas senyum itu dengan sempurna, meski jauh di dalam dirinya, ia berharap percakapannya dengan Evelyn segera selesai. “Aku senang kau datang pagi-pagi begini, Kak,” ujar Aletha sambil berdiri dari kursinya. “Tapi sebentar lagi aku harus pergi.” Evelyn menatapnya. “Kau mau kemana?” “Ada hal yang harus aku urus.” “Oh.” Evelyn memahami lalu ikut berdiri. “Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lebih lama.” “Aku harus mandi.” Evelyn menyibakkan rambutnya santai. “Dan aku tidak mau membuat orang menungguku.” Evelyn tertawa kecil. “Baiklah." "Mungkin sebentar lagi, nenek dan tante Helena akan sampai, tunggu saja kalau kau mau," tambah Aletha. Setiap pagi tante Helena selalu menemani nenek mereka untuk berjalan santai di taman. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Evelyn pun tahu, sehingga tidak menanyakan keberadaan mereka. Sedangkan sang ayah, mungkin sudah berada di kantor sejak subuh. Baru saja Aletha akan naik ke tangga menuju kamarnya, tetapi suara Evelyn kembali memanggilnya. "Aletha." Yang dipanggil berdecak kembali memutar tubuhnya malas dengan mengerutkan dahi. "Kalau kau butuh sesuatu, kabari aku," tawar Evelyn. “Tentu," ucap Aletha sambil melenggang pergi meninggalkan Evelyn tanpa rasa ragu. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Berlama-lama dengan Evelyn hanya akan membuatnya merasa menjadi seorang anak yang baik. Seorang yang akan lupa pada tujuannya. Tidak, Aletha tidak bisa begitu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN