It Is Always Easier To Criticize Than To Create

2813 Kata

Deya setengah berlari menuju ruangan tempat Erlan dirawat. Ia tak peduli dengan banyak tatapan mata para pengunjung rumah sakit yang juga tengah berjalan di sepanjang koridor, seakan bertanya-tanya kenapa wanita itu menangis dan tergesa-gesa. Saat memasuki ruangan, Erlan tengah terbaring, sedang di sampingnya ada Arka yang duduk di satu kursi. Melihat kedatangan Deya, Arka beranjak dan mempersilakan Deya untuk duduk. Erlan menatap Deya dengan seulas senyum menghias wajahnya. Deya yang sudah menangis dari tadi menghambur memeluknya. Erlan mengusap kepala Deya dan menenangkannya. “Sudah jangan nangis, aku nggak apa-apa.” Arka yang mematung memandang adegan di depannya seketika menyadari bahwa banyak istri mengkhawatirkan keadaan suami dan terkadang perhatian mereka dianggap berlebihan, pa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN