Program Diet

803 Kata
Heri, yang tak menyadari kegaduhan batin Zee, melanjutkan, “Kalau begitu kita masuk ke ruang konsultasi untuk pemeriksaan tubuh dan menentukan program latihan serta menu diet yang cocok.” Ia memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Zee tiba-tiba nampak sangat antusias. Sesekali ia melirik Jonathan, yang berjalan dengan aura begitu tenang dan cool. **** Di ruang konsultasi yang bersih, penuh dengan peralatan pemeriksaan medis, Jonathan mulai melakukan evaluasi fisik pada Zee. Ia memeriksa tekanan darah, mengukur kadar glukosa, dan mencatat beberapa data vital lainnya. “Dari hasil pemeriksaan, semua normal,” kata Jonathan, menjeda sebentar sambil meneliti kembali catatan di tangannya. “Karena sejauh ini tidak ada riwayat penyakit lambung, saya rasa Intermittent Fasting akan lebih cocok, diimbangi dengan menu makanan tinggi protein.” “Intermittent Fasting?” tanya Zee ragu. Ia mengangkat alis. Jujur saja, ia tidak pernah bisa tahan lapar lama-lama. “Ya. Untuk mencapai berat badan ideal—kamu perlu menurunkan sekitar lima belas kilogram,” jelas Jonathan. “Lima belas kilo … itu butuh waktu berapa lama?” tanya Zee, suaranya sedikit mencicit. Jonathan menatapnya dengan tatapan serius. “Jika kamu menuruti semua planning yang sudah dirancang, waktu paling realistis adalah tiga bulan.” “Apa tidak bisa lebih cepat, ya?” pinta Zee, meringis kecil, mencoba memasang wajah memelas. Jonathan mendengus. “Tiga bulan itu sudah yang paling cepat.” Nadanya terdengar dingin dan sinis. "Ganteng sih ... tapi ternyata judes amat, ya," gumam Zee dalam hati. “Hari ini cukup untuk penjabaran planning latihan. Untuk sesi latihan fisik, kita mulai besok,” kata Jonathan menutup sesi konsultasi. “Oh … aku kira hari ini langsung mulai,” ucap Zee dengan nada kecewa yang kentara. “Ah, maaf sebelumnya. Aku belum sempat memberitahukan kalau latihan akan dilakukan sehari setelah sesi perencanaan program,” Heri menyela dengan cepat, berusaha menengahi. “Gue cabut dulu, Her. Sudah sore,” potong Jonathan, langsung beranjak pergi tanpa menoleh sedikit pun atau berpamitan kepada Zee. Melihat tingkahnya, wajah Zee langsung cemberut. "Sepertinya dia cowok dengan kepribadian buruk! Tidak ada ramah-ramahnya sama sekali. Padahal gue ini kliennya, yang bayar dia, mana bayarnya mahal lagi!" gerutu Zee dalam hati, menahan kekesalan. **** Jonathan melangkah keluar dari ruang konsultasi, berjalan datar menuju lobi. Begitu tiba di area lobi, langkahnya sejenak terhenti. Perhatiannya teralihkan pada layar televisi besar yang menyiarkan berita hiburan. Di sana, Sella Anastasya, aktris layar lebar yang sedang naik daun, tampak sedang dikerubungi wartawan karena gosip cinta lokasi dengan lawan mainnya. Di layar televisi: “Sella, apa benar kalian sudah berpacaran?” desak salah satu wartawan di tengah kerumunan yang riuh. Sella hanya membalas dengan senyum misterius yang menantang, lalu dengan cepat ia masuk ke dalam mobil mewahnya. Ia meninggalkan para pemburu berita yang jelas belum puas dengan respons singkatnya. Setelah melihat adegan itu, Jonathan kembali melangkah. Wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun ekspresi seolah tayangan itu tak berarti apa-apa baginya, dan ia melanjutkan jalannya menuju area parkir. **** Di sebuah kafetaria yang memang disediakan khusus di gedung Gym, Sifa dan Zee sedang sibuk membolak-balik daftar menu yang didominasi hidangan sehat. “Serius, menunya cuma rebusan doang?” protes Zee, wajahnya langsung cemberut sambil membolak-balik buku menu berkali-kali. “Ini kan kafe memang dikhususkan buat anak Gym, Zee. Lo harus mulai biasain dari sekarang,” jawab Sifa santai. Zee mendengus keras. “Eh, Sif,” Zee mendekat dan berbisik, “Lo nyadar gak sih, si Jonathan tadi orangnya judes banget?” Sifa berpikir sejenak. “Iya sih … mukanya agak serem, tapi kata Mas Heri dia orangnya baik, kok.” “Semoga … “. ucap Zee terlihat pasrah. “Eh, tapi dia cakep kan?” goda Sifa, menaik-turunkan kedua alisnya. “Iya juga sih,” aku Zee, "tapi jujur, gue lebih suka cowok yang biasa-biasa aja asal ramah." “Oke deh. Nanti gue tanyain Mas Heri, dia sudah punya pacar apa belum. Lumayan, kan, kalau belum …” Sifa mengedipkan mata sambil menyikut lengan Zee pelan. “Apaan sih lu!” balas Zee, pipinya memerah karena salah tingkah. “Gue tahu kok … lo udah naksir, kan?” goda Sifa lagi, tidak menyerah. “Ih! Siapa juga yang naksir sama cowok jutek kayak gitu!” bantah Zee, meskipun suaranya tidak setegas biasanya. **** Jonathan tiba di depan pintu unit apartemennya. Seorang gadis sudah menunggunya di sana, berdiri membelakangi pintu dengan topi dan masker yang menutupi nyaris seluruh wajahnya. “Aku sudah menunggumu lama dan aku tidak bisa masuk, kau sudah mengganti PIN-nya, ya?” tanya gadis itu dengan suara yang terdengar teredam oleh masker. Gadis itu berjalan cepat menghampiri Jonathan yang hanya terdiam, dengan sorot mata Jonathan yang masih tajam dan terkunci padanya. Tanpa jeda atau basa-basi, dan tanpa menunggu izin sedikit pun, gadis itu menerjang maju dan memeluk Jonathan dengan gerakan manja yang mengejutkan, "aku sangat merindukanmu Jo".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN