bc

SENTUHAN LIAR PERSONAL TRAINER KU

book_age18+
10
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
doctor
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
brilliant
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Zee ingin membalas dendam setelah dicampakkan. Jonathan ingin melarikan diri dari pengkhianatan kekasihnya. Mereka bertemu di gym, dipertemukan oleh malam kelam yang kabur dalam ingatan.

Dari kebutuhan yang sama, mereka sepakat berpura-pura menjadi kekasih. Sebuah sandiwara yang justru menumbuhkan cinta tulus.

Namun, di balik kenyamanan itu, tersembunyi sebuah tragedi. Ayah kandung Zee adalah sopir truk yang menyebabkan kecelakaan fatal, merenggut nyawa ibu Jonathan.

Saat kebenaran merobek hati mereka hingga berkeping-keping, Jonathan memilih lari. Tetapi takdir kembali mempertemukan mereka di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk masa lalu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Patah Hati
“Maaf, aku udah gak cinta. Kita putus saja.” Kalimat singkat dan menusuk itu masih berputar-putar, melukai telinga Zee. Pernyataan putus dari David, sang kekasih, yang disampaikan melalui telepon tiga hari lalu, terasa seperti tamparan yang berulang. Sudah tiga hari Zee mengurung diri di kamar. Wajahnya sembab, jejak tangisan yang terus berulang menghiasi pipi. Di sekelilingnya, bungkus-bungkus makanan ringan berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kesendiriannya. Selama ini, setiap kali Zee merasa tertekan, ngemil adalah pelarian satu-satunya. Kenyamanan instan itu kini berujung pahit: tubuhnya membengkak tak terkendali. Dan ironisnya, perubahan fisik itulah yang David jadikan alasan untuk meninggalkannya. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Zee yang kini terduduk di lantai, bersandar lesu pada tepi ranjang. “Zee, ini gue ... buka dong. Sudah tiga hari lo ngurung diri begini,” ucap Sifa, sahabat terdekat Zee, dari balik pintu. Zee menghela napas panjang, akhirnya menyerah. Selama tiga hari, Sifa memang gigih datang, tetapi Zee selalu menolak diganggu siapa pun. Begitu pintu terbuka, Sifa langsung memeluk Zee yang tampak sangat lusuh dan kuyu. “elo ini, ya ... bisa-bisanya ambil cuti cuma buat nangis begini,” tegur Sifa, namun nadanya sarat akan kekhawatiran. Pelukan Sifa meruntuhkan pertahanan terakhir Zee. Ia seketika menangis tersedu-sedu. “Sudah, sudah. David tidak pantas kamu tangisi. Sudah sering gue bilang kalau dia selingkuh, elo saja yang selalu menyangkal,” ujar Sifa lembut, menepuk-nepuk punggung Zee. “Gue benci! Masa hanya karena gue jadi gendut, dia selingkuh! Padahal gue sudah ... sudah kasih semuanya!” rintih Zee, suaranya terbenam di d**a Sifa, disusul tangisan yang semakin keras. Beberapa saat kemudian, tangisan Zee mereda. Kedua sahabat itu kini duduk berhadapan di atas ranjang. “Zee ... bukannya gue mengiyakan alasan David, tapi ... elo kayaknya memang harus diet deh,” ucap Sifa ragu, hati-hati agar tidak menyinggung. “Nah, lo juga ikut-ikutan kan, nge-bully gue!” Zee kembali histeris, meski kali ini lebih tertahan. “Bukan begitu, Zee. Ini demi kesehatanmu juga. Laki-laki di mana-mana memang sama, fisik itu nomor satu. Kamu itu cantik, hanya saja berat badanmu yang berlebihan membuat kecantikan itu seolah tertutup,” jelas Sifa. “Gue harus bagaimana, dong? lo tahu, kan? Sudah berapa kali gue coba diet? Keto-lah, low-carb, mayo—hampir semua metode sudah gue jalani, tapi hasilnya?” keluh Zee putus asa. “Tapi elo tidak olahraga, kan? Kunci utama diet itu ya olahraga, Gym. Sekarang juga gue mau ajak elo ke tempat Gym langganan gue”. Jeda sejenak, Sifa menghela nafas penuh semangat. “Trainer di sana semuanya dokter, jadi mereka bisa bantu program pola makan dan latihannya sekaligus,” putus Sifa, suaranya kini penuh tekad. “Dokter? Pasti mahal ya?” tanya Zee, nada suaranya terdengar ragu dan getir. “Memang mahal, sih … tapi gue sudah minta diskon besar-besaran. Pemiliknya … kebetulan pacar gue,” jawab Sifa, tersenyum sumringah, rona merah tipis menjalar di pipinya. Alis Zee terangkat. Ia memajukan bibir, sedikit kesal. “Oh, jadi ini ceritanya elo mau pamer pacar baru ke gue yang baru saja patah hati?” Sifa segera menyentuh lengan Zee. “Ya ampun, Zee. Bukan begitu! gue serius mau bantu elo. Lagipula, dia pemilik, bukan trainer. Udah, deh, jangan banyak drama! Pokoknya elo harus buruan siap-siap. Tidak ada penolakan!” Tanpa menunggu persetujuan, Sifa menarik tangan Zee yang gempal, membawanya ke kamar mandi. Ia memaksa Zee untuk mandi dan bersiap-siap, mengakhiri tiga hari masa berkabung di kamar. **** Di tengah gemuruh dentingan besi dan musik dance yang berdebam dari ruang utama gym, Heri menghampiri Jonathan yang tengah duduk di bangku datar sambil mengikat tali sepatu olahraganya. “Jo, please ... tolongin gue,” ucap Heri memohon dengan nada panik, suaranya bersaing dengan musik. Ia menyeka keringat di pelipisnya. “Gue sudah terlanjur terima DP, tahu-tahu tangan trainer gue cedera parah.” Jonathan memasang ekspresi bosan, lalu berdiri dan mengangkat sebatang barbell ringan untuk pemanasan. “Gue kasih lo uang, balikin saja DP itu, atau lo rekrut trainer baru” “Susah, Jo! Cari trainer yang profesional dan berprofesi dokter itu langka!” keluh Heri, menekan kata 'dokter'. “Gue sedang ambil cuti dari rumah sakit, Her. Gue mau santai. Gue mau jauh dari semua hal berbau kerjaan,” tolak Jonathan dingin sambil meletakkan barbell itu kembali. “Justru itu! Apa lo nggak bosan selama cuti cuma jadi tukang angkat beban dan nggak ngapa-ngapain? Gue tahu kenapa lo cuti—lo sedang menghindari Sella, kan?” tebak Heri. “Stop. Jangan bahas dia,” potong Jonathan cepat, memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras. Ia mengambil handuk, jelas ingin mengakhiri pembicaraan. “Makanya, Jo. Daripada lo terpuruk gara-gara patah hati, mending lo cari kesibukan yang produktif! Lo itu dokter spesialis ortopedi ditambah pengalaman Gym bertahun-tahun pasti bisa jadi personal trainer, Jo!” bujuk Heri, berusaha memanfaatkan skill sahabatnya. “Sebenarnya ini bukan masalah besar, Her. Lo tinggal balikin uang DP, masalah selesai, kan?” Jonathan mencoba kembali ke logika. Heri memajukan badannya, berbisik mendesak. “Jo, masalahnya gini ... cewek ini sahabat pacar gue. Gue nggak enak kalau menolak. Tuh cewek juga baru diputusin cowoknya, hanya gara-gara dia jadi gemuk. Lo nggak kasihan lihat cewek yang self-esteem-nya hancur?” Jonathan terdiam, pandangannya tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar gym. Wajahnya menunjukkan pertimbangan serius. “Ayolah, Jo ... bantu gue. Enggak lama, kok. Cuma lima belas hari saja!” bujuk Heri lagi, nadanya memelas, tahu bahwa ia sudah hampir berhasil. “Mas Heri!” Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring seorang gadis, Sifa. Ia melambaikan tangannya penuh semangat. Di sampingnya, Zee mengenakan setelan olahraga serba gelap, tubuhnya terlihat jelas berisi, kontras dengan para pengunjung gym lainnya. Heri membalas lambaian tangan itu, memberi isyarat agar kedua gadis itu menghampirinya dan Jonathan. “Itu mereka, Jo,” bisik Heri, matanya mendesak. “Lihat wajah cewek gemuk itu Jo. Matanya bengkak. Gue yakin dia sudah berhari-hari nangis tanpa henti. Lo nggak kasihan?” Heri hampir memaksa Jonathan untuk melihat dua gadis yang kini berjalan mendekat. Tak lama kemudian, kedua gadis itu berdiri di hadapan Heri dan Jonathan. “Ini Zee, yang akan ikut program latihan lima belas hari,” ucap Sifa memperkenalkan sahabatnya. “Zee,” sapa Zee pelan, ekspresinya terlihat muram dan sedikit canggung. Ia menyodorkan tangan untuk bersalaman dengan Heri. “Oh, Zee. Saya Heri. Kebetulan sekali, trainer-nya sudah ada. Ini, di sebelahku, namanya Jonathan,” kata Heri, tersenyum lega. Jonathan melirik ke arah Heri, alisnya terangkat tinggi, mengirimkan peringatan keras diam-diam kepada Heri atas pengkhianatan ini. “Hai, saya Zee. Mohon bantuannya,” ucap Zee tulus. Ia kemudian mengulurkan tangan ke arah Jonathan, menunggu sambutan. Namun, tangan Zee menggantung di udara. Jonathan tidak segera menyambutnya. Ia menatap Zee sebentar, wajahnya datar tanpa emosi. “Jo!” Heri menyenggol lengan sahabatnya itu dengan keras. Jonathan mendengus pelan, seolah sedang menelan paksaan pahit. “Hai ... saya Jonathan,” jawabnya singkat, akhirnya menyambut uluran tangan Zee. Genggaman tangan itu terasa dingin dan terpaksa. “Astaga, cowok ini cakep banget! Tinggi, tubuhnya berotot—bisa betah gue kalau gini. Tapi kok dia kelihatan gak senang gitu ya?” gumam Zee dalam hati, matanya tak lepas dari sosok Jonathan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.3K
bc

Too Late for Regret

read
334.8K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.3K
bc

The Lost Pack

read
449.5K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook