Jonathan menekan lutut Zee, membuat kakinya tertahan di matras. Eh, dia hanya pegang lutut, aman nih, gak kayak di mimpi, batin Zee, menghela napas lega. “Angkat badanmu, fokus pada otot perut, sampai lutut,” perintah Jonathan, suaranya tegas. Zee mengerahkan seluruh tenaganya. Perutnya berdenyut, otot-ototnya menjerit. Dia berhasil mengangkat bahunya, tetapi mencapai lutut rasanya mustahil. Gerakannya terlihat sangat kaku dan kesulitan. Melihat perjuangan Zee, Jonathan melunak sedikit. “Tidak apa-apa kalau tidak sampai lutut. Semampumu saja,” katanya, nadanya kini lebih tenang. “Lakukan sepuluh repetisi, ulangi tiga kali.” Tubuh Zee serasa terbakar. Meskipun berada di ruangan gym yang ber-AC, keringat dingin membanjiri pelipisnya dan menetes ke matras. Setiap hitungan terasa sangat b

