Sudah lewat sepuluh menit sejak Anne pamit ke toilet. Ben masih berdiri bersama Rio dan seorang investor senior, namun telinganya tidak sepenuhnya menangkap isi percakapan. Anggukan-anggukannya hanya gerakan mekanis, pikirannya justru sibuk menghitung menit, matanya berulang kali melirik jam tangan dan pintu hall tempat Anne menghilang. Istrinya itu tak biasa-biasanya pergi selama ini jika hanya ke toilet. Stok kesabarannya habis! Ia menepuk bahu Rio singkat. “Saya permisi ke toilet,” ujarnya sambil melipirkan pandangan ke lawan bicara lainnya. Rio mengangguk, Investor itu pun mengangguk ramah. Sepertinya mereka tak menaruh curiga sama sekali. Ben melangkah keluar dari kerumunan ballroom yang padat, menuju lorong dengan bias cahaya kekuningan. Baru beberapa meter, ponsel di genggamannya