BAB.1 Kedatangan Mas Seno
Denting jam di dinding terdengar begitu keras di ruang yang sepi itu. Suara jarum yang berpindah setiap detik seperti mengingatkan Inggrid bahwa waktu terus berjalan, sementara ia sendiri masih tertinggal di masa lalu.
Di meja makan, tiga botol kecil berisi s**u putih tersusun rapi, masih hangat setelah baru dipompa dari tubuhnya sendiri. Ia menatapnya lama, seperti menatap sesuatu yang hidup. Bibirnya bergetar, senyum samar terlukis dengan getir.
“Ini untukmu, Nak...” bisiknya, lirih.
Tangannya menyentuh label di botol, tanggal hari ini, seolah masih menjaga rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan sejak tiga bulan lalu. Bedanya, tak ada bayi yang menunggu di kamar. Tak ada tangisan lembut yang memanggilnya dari buaian. Hanya hening, dan bunyi mesin kulkas yang berdesis lembut setiap kali pintunya dibuka.
Di dalam kulkas itu, berjejer botol-botol kecil dengan tulisan tangan yang sama, tanggal yang berbeda, hari demi hari. Semuanya penuh. Inggrid menatapnya lama, sebelum akhirnya menutup pintu perlahan, seolah takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur di balik dinginnya.
Ia masih mengenakan daster putih lusuh, rambutnya diikat asal, matanya sembab. Tak ada yang tahu berapa kali ia menangis setiap malam. Tak ada yang tahu betapa kerasnya ia mencoba meyakinkan diri bahwa yang dilakukannya bukanlah kegilaan.
Bahwa menyimpan ASI untuk bayi yang sudah tiada bukanlah bentuk kehilangan kendali, tapi sebuah cara untuk tetap merasa menjadi ibu.
Sejak bayi mungilnya pergi di hari kelahirannya, rumah kecil itu berubah menjadi makam kenangan. Setiap sudut menyimpan sesuatu: ranjang bayi yang masih berselimut lembut, mainan gantung berbentuk bintang, dan selembar foto hitam putih hasil USG yang kini mulai memudar.
Inggrid tidak pernah benar-benar bisa melepaskan.
Kadang, di tengah malam, ia mendengar suara tangisan samar dari arah kamar bayi. Kadang pula, ia memeluk bantal kecil itu erat-erat sambil berbisik, seolah bayi itu masih di sana, masih hidup.
Ia tahu semua orang menyebutnya “belum siap.” Tapi di dalam hatinya, ia merasa seperti masih menjadi seorang ibu, hanya saja tanpa anak untuk disusui.
Hari itu langit tampak berat. Awan kelabu bergulung di atas genteng, dan aroma tanah basah menyelinap dari jendela yang tak tertutup rapat. Saat suara ketukan terdengar di pintu depan, Inggrid sempat terdiam. Ia jarang menerima tamu. Hampir semua orang sudah berhenti berkunjung sejak pemakaman.
Ketukan itu terdengar lagi. Tiga kali, berat dan teratur.
Dengan langkah ragu, Inggrid berjalan ke depan. Ia membuka pintu sedikit, dan di sana berdiri seorang pria yang dulu begitu akrab dalam hidupnya, Seno.
Seno, kakak dari almarhum suaminya.
Tubuhnya tegap seperti biasa, tapi wajahnya tampak jauh lebih pucat, lebih kosong dari terakhir kali Inggrid melihatnya di pemakaman adiknya. Di tangannya ada sebuah tas kecil, dan di dalam pelukannya, seorang bayi mungil tengah tertidur pulas dengan topi rajut biru menutupi kepala kecilnya.
“Mas Seno...” suara Inggrid nyaris hanya napas.
Pria itu tersenyum samar, meski jelas senyum itu lebih banyak menahan duka. “Boleh aku masuk?”
Inggrid mengangguk. Ia membuka pintu lebih lebar, dan Seno melangkah masuk, membawa aroma hujan bersamanya.
Begitu duduk di sofa, Seno memandang bayi di pelukannya lama sekali. Jemarinya membelai pipi lembut itu dengan tatapan yang tak mampu disembunyikan, penuh kehilangan.
“Dia Delon,” ujarnya akhirnya. “Anakku.”
Inggrid menelan ludah. “Aku dengar kabar... tapi aku nggak sangka, Mas akan datang sendiri.”
Seno menarik napas panjang. “Iya. Dinda... dia pergi cepat sekali. Malam itu dia demam, aku kira hanya flu biasa. Tapi pagi-pagi, dia sudah tak bernapas.”
Suara itu retak di ujung. Inggrid memalingkan wajah, matanya mulai basah lagi. Duka memang punya cara aneh untuk menyalakan kembali luka lama. Mendengar kehilangan orang lain, seolah menghidupkan kembali kehilangan sendiri.
Beberapa detik hanya diisi hening. Hanya suara hujan di luar dan napas kecil bayi yang tertidur di d**a ayahnya.
“Aku... nggak tahu harus bagaimana,” Seno akhirnya berkata. “Aku harus kembali bekerja minggu depan. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi di rumah. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku takut Delon akan tumbuh tanpa sentuhan.”
Tatapan Seno lalu terarah pada Inggrid. Dalam mata itu, ada sesuatu yang tak bisa dihindari, permohonan yang dalam, dan keputusasaan yang jujur.
“Aku butuh bantuanmu, Grid,” katanya lirih. “Aku ingin kamu menjadi ibu s**u bagi Delon.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi mengguncang seperti petir.
Inggrid terpaku. Bibirnya bergetar, dadanya naik-turun cepat. “Mas Seno... jangan bercanda.”
“Aku serius.”
“Aku nggak bisa.”
Seno menatapnya, matanya merah. “Kamu bisa. Aku tahu itu. Aku tahu kamu masih memompa ASI untuk...”
“Cukup!” Inggrid memotong cepat. Nada suaranya meninggi, gemetar. Ia berdiri, membalikkan tubuh. “Jangan bawa-bawa itu, mendiang anakku, Mas Seno. Aku belum siap.”
Suasana hening. Delon menggeliat pelan, hampir menangis. Seno segera mengayun-ayunkan pelukannya, berusaha menenangkan. Suara bayi itu membuat Inggrid memejamkan mata, mencoba menahan isak yang mulai naik ke tenggorokan.
Seno menatap punggung Inggrid yang gemetar. “Aku tahu ini berat. Tapi aku juga kehilangan, Grid. Aku juga sendiri sekarang. Dan anak ini... dia butuh seseorang yang bisa memberinya kasih sayang.”
Inggrid menatap lantai. Air matanya jatuh, satu-satu. “Mas tahu... setiap malam aku masih mimpi menyusui anakku. Aku bahkan masih dengar tangisnya kadang-kadang. Lalu Mas Seno datang, membawa bayi lain dan memintaku.”
Suaranya pecah, tak sanggup melanjutkan.
Seno berdiri perlahan, mendekat. “Aku tidak ingin memaksamu. Tapi... mungkin ini bukan hanya tentang Delon.” Ia berhenti sebentar. “Mungkin ini juga tentangmu, Grid. Tentang caramu sembuh.”
Inggrid menoleh pelan. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu di sana, kejujuran yang menelanjangi luka.
Untuk pertama kalinya, Inggrid menatap wajah Seno bukan sebagai iparnya, tapi sebagai seseorang yang juga kehilangan, juga hancur, juga mencari pegangan.
Malam itu, setelah Seno pergi, Inggrid tak bisa tidur. Kata-kata pria itu berputar di kepalanya tanpa henti. “Mungkin ini juga tentang caramu sembuh.”
Di luar, hujan masih turun, menghapus jejak langkah yang sempat terdengar di halaman. Di dalam, Inggrid menatap kulkas yang kini terasa terlalu penuh. Ia membuka pintunya. Cahaya putih menerangi wajahnya yang sayu.
Tiba-tiba, semua botol itu terasa seperti beban.
Ia mengambil satu. Menatap cairan putih di dalamnya, lalu menutup mata.
“Kalau benar ini bisa menolong seseorang,” bisiknya pada dirinya sendiri, “mungkin sudah saatnya aku melepaskan sedikit dari milikku.”
Dan esok paginya, ketika Seno datang lagi dengan Delon dalam gendongan, Inggrid tidak lagi menolak.
Tangannya gemetar saat menerima bayi itu. Tubuh kecil itu terasa hangat di pelukannya, napasnya lembut menyentuh kulit leher Inggrid. Hatinya bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang baru, sesuatu yang hampir ia lupakan: rasa hidup.
Seno berdiri di dekatnya, memperhatikan dalam diam. Tatapan matanya lembut, tapi dalamnya ada badai yang sulit dijelaskan.
Inggrid perlahan mendudukkan diri di sofa, mengelus kepala kecil Delon. Bayi itu mulai mencari, dengan gerak naluriah yang begitu familiar.
Air mata Inggrid jatuh saat ia akhirnya mendekapkan bayi itu ke dadanya. Ia menahan napas, dan dunia seperti berhenti berputar sesaat.
Di ruangan itu, antara isak kecil dan kehangatan kulit, dua jiwa yang kehilangan menemukan sesuatu yang mereka tak tahu masih ada, sebuah penghubung, halus tapi nyata.
Dan Seno, berdiri beberapa langkah dari mereka, hanya bisa menatap. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergerak pelan, sesuatu yang dulu mati bersama Dinda, kini seperti hidup kembali. Tapi bersamaan dengan itu, ada pula rasa bersalah yang menyelinap seperti bayangan.
Ia memalingkan wajah, menatap ke luar jendela. Hujan telah reda. Tapi dalam dadanya, badai baru mulai terbentuk.
Sejak hari itu, Seno sering datang. Kadang hanya untuk menjemput Delon setelah seharian di rumah Inggrid. Kadang, ia tinggal sedikit lebih lama, sekadar makan malam bersama.
Setiap kali ia datang, suasana rumah itu berubah. Tak lagi sepi, tak lagi terasa seperti makam kenangan. Ada tawa kecil, ada tangisan bayi, ada aroma masakan yang hangat.
Tapi di balik semua itu, ada hal lain yang tumbuh diam-diam. Tatapan yang terlalu lama, keheningan yang terlalu sarat makna.
Inggrid sering memergoki dirinya menunggu suara ketukan di pintu. Dan Seno, entah mengapa, selalu menemukan alasan untuk datang lebih cepat.
Di antara botol s**u, tatapan lembut, dan kenangan masa lalu, mereka berdua mulai berjalan di tepi jurang yang tak bernama.
Belum cinta, belum pula dosa. Hanya dua orang dewasa yang kehilangan, mencoba saling menambal luka, tanpa tahu apakah mereka sedang menyembuhkan, atau justru membuka luka yang baru.