Sementara itu di Jakarta, Alin sedang menikmati semua perhatian publik padanya. Ia semakin sibuk karena ke mana pun ia pergi, tidak ada tempat yang aman untuknya. Para wartawan terus mengejarnya, memintanya untuk menanggapi tentang berita yang sedang hangat itu. “Kakakmu ke mana, Mala?” tanya Alin saat Mala berkunjung ke butiknya. “Pulang ke rumah ibu mertuanya, sama istrinya.” Alin mengerutkan kening bingung. “Serius?” “Iya.” Mala menjawab santai sambil duduk bersandar di sofa ruang kerja Alin. “Kenapa mereka malah pulang ke rumah ibu mertua kakakmu? Mereka nggak mungkin berniat ngebiarin masalah ini begitu saja kan?” Alin benar-benar tak mengerti dengan keputusan yang diambil Bima dan istrinya. Mala menghela nafas kemudian mengedikkan bahu. “Nggak ngerti. Tapi, sebelum mereka pergi