Bab 9 πŸ’

848 Kata
Kamar tidur utama di vila kaca itu bener-bener kedap suara, tapi Vero samar-samar masih bisa mendengar bunyi deru angin malam yang menghantam tebing bersalju di luar sana. Di dalam sini, suasananya berbanding terbalik 180 derajat. Hawa panas sisa permainan mereka beberapa saat lalu masih terasa menggantung di udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin Gavin dan wangi sensual khas tubuh Vero yang bikin suasana makin intim. Vero berbaring telungkup dengan malas, menyembunyikan separuh wajahnya di bantal bulu angsa yang empuk banget. Selimut tebalnya cuma menutupi bagian pinggang ke bawah, membiarkan punggung mulusnya yang seksi terekspos bebas di bawah temaramnya lampu kamar. Gavin sendiri lagi duduk bersandar di kepala ranjang, kelihatan santai banget cuma pakai celana tidur panjang tanpa atasan. Tangan kirinya memegang sebuah tablet, tampaknya lagi mengecek beberapa email pekerjaan yang masuk dari Jakarta, sementara tangan kanannya dengan super santai mengusap-usap punggung polos Vero dengan gerakan memutar yang lembut. "Om!" panggil Vero, suaranya kedengaran agak redam karena wajahnya masih nempel di bantal. "Hm?" Gavin menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet, tapi gerakan tangannya di punggung Vero sama sekali gak berhenti. "Kita beneran balik ke Jakarta lusa?" tanya Vero akhirnya, membalikkan posisinya jadi berbaring miring sambil menopang kepalanya pakai satu tangan, menatap profil samping wajah Gavin yang kelihatan tegas dan tampan banget dari dekat. Gavin mematikan layar tabletnya, meletakkannya di meja nakas samping tempat tidur, lalu menoleh menatap Vero. "Iya, lusa pagi penerbangan kita. Kenapa? Masih betah di sini? Kamu mau kita perpanjang liburannya seminggu lagi?" Vero buru-buru menggeleng. "Eh, enggak usah! Malah enak kalau cepat balik. Aku cuma ... masih agak kepikiran aja sih. Rasanya hidup aku kayak naik roller coaster dalam waktu tiga hari ini. Datang ke Islandia sebagai turis kantoran biasa yang stres, pulang-pulang malah bawa status baru jadi ... ya, wanitanya Om Gavin.” Gavin terkekeh rendah, suara tawa berat yang selalu berhasil bikin perut Vero berdesir aneh. Pria itu menggeser posisi duduknya jadi agak merosot, lalu menarik tubuh Vero agar masuk ke dalam dekapannya. Vero dengan senang hati menyandarkan kepalanya di d**a bidang Gavin, menghirup dalam-dalam wangi tubuh pria matang itu yang entah kenapa selalu bikin dia merasa aman sekaligus ... pengen digoda lagi. "Kamu gak perlu khawatir soal apa pun, Vero. Semua hal tentang kamu di Jakarta udah diatur sama orang-orang saya. Apartemen kamu udah siap, bahkan tim personal shopper juga udah saya suruh buat isi lemari pakaian kamu dengan barang-barang baru," ucap Gavin santai, mengusap bahu polos Vero dengan posesif. Vero melongo dikit, mendongak menatap rahang Gavin. "Hah? Personal shopper? Om bener-bener ya, gak usah berlebihan gitu dong. Aku masih punya baju-baju di kosan yang layak pakai tahu." "Baju-baju lama kamu biar diurus orang buat diberesin dari kosan. Di apartemen baru nanti, kamu cuma perlu bawa diri kamu aja. Saya lebih suka melihat kamu pakai pakaian yang sesuai dengan selera saya," balas Gavin dengan nada dominan yang khas, tapi ada binar nakal di matanya. "Kayak bikini hitam kamu tadi sore, atau ... kaos oversized yang bikin kaki jenjang kamu kelihatan jelas." "Dasar m***m!" cibir Vero sambil mencubit pelan d**a Gavin, membuat pria itu malah mempererat pelukannya di pinggang Vero sampai tubuh mereka bener-bener menempel tanpa celah. "Saya cuma m***m sama kamu, Veronika," bisik Gavin tepat di depan bibir Vero, bikin wajah wanita itu otomatis merona merah lagi. Gavin menunduk, mengecup bibir bawah Vero yang agak bengkak karena permainan panas mereka sebelumnya, menghisapnya pelan dengan kelembutan yang bikin Vero langsung lemas seketika. Sentuhan Gavin itu emang bener-bener kayak sihir. Baru aja Vero merasa capek dan pegal di seluruh tubuhnya, begitu bibir pria itu menyentuh kulitnya lagi, gairah di dalam dirinya seolah langsung tersulut kembali dengan cepat. Kedua tangan Vero yang awalnya diam di atas d**a Gavin, perlahan merayap naik, meremas rambut hitam Gavin yang berantakan di bagian belakang kepalanya. Gavin melumat bibir Vero dengan ritme yang lambat tapi dalam, seolah ingin menikmati setiap detik malam terakhir mereka di tebing Islandia ini. Tangannya yang besar di bawah selimut gak tinggal diam, tangan itu mulai merayap turun dari punggung, beralih meremas b****g padat Vero dengan gemas, membuat Vero refleks melenguh kecil di sela-sela ciuman mereka. "Nghhh ... Om Gavin ... udah dong, katanya besok mau jalan-jalan pagi," cicit Vero begitu tautan bibir mereka terlepas. Napasnya memburu cepat, matanya kembali sayu menatap mata elang Gavin yang sudah menggelap total digerogoti gairah baru. "Jalan-jalan paginya bisa siang, sayang. Sekarang ... fokus ke saya dulu," bisik Gavin dengan suara serak yang super seksi. Gavin membalikkan tubuh Vero dengan mudah, membuat wanita itu kini berada di bawah kungkungannya kembali. Tatapan mata Gavin seolah menelanjangi Vero luar dalam, bikin gairah di antara mereka makin memuncak. Tanpa membuang waktu lagi, Gavin kembali menyatukan tubuh mereka, membawa kehangatan yang luar biasa di tengah dinginnya malam Islandia. "Ahh ... Om ... pelan-pelan," desah Vero pasrah, mencengkeram erat sprei kasur mewah di bawahnya saat d******i Gavin kembali mengambil alih seluruh kesadarannya. Di balik dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah laut utara yang sunyi, malam itu kembali diisi oleh suara desahan manja Vero dan deru napas berat Gavin yang saling bersahutan, mengunci janji intim yang bakal terus mereka bawa sampai ke Jakarta nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN