Cahaya matahari pagi tipis menerobos masuk melalui celah gorden otomatis yang terbuka sebagian, menerangi kamar utama penthouse yang super luas itu. Vero perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan silaunya cahaya. Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa hangat yang membungkus seluruh tubuhnya, disusul oleh rasa pegal yang menjalar di sekitar pinggang dan paha dalamnya, sebuah pengingat nyata atas apa yang terjadi sepanjang malam tadi. Vero mencoba bergerak, tapi sebuah lengan kekar yang berurat menempel erat di pinggangnya, mengunci tubuh mungilnya tanpa celah. Vero menoleh pelan dan mendapati wajah Gavin yang masih terpejam di sampingnya. Dalam posisi tidur seperti ini, gurat tegas dan ekspresi intimidasi yang biasanya selalu melekat pada sang

