Bab 2: Aksara

888 Kata
Sebuah mobil mewah keluaran Eropa masuk ke rumah besar dengan pagar tinggi. Rumah mewah itu kini hanya ditinggali oleh sepasang suami istri Wardhana beserta para asisten rumah tangganya. Aksa tahu ayahnya sengaja pulang agar dirinya menemui laki-laki itu di rumahnya. Satu hal yang dihindari Aksa sejak remaja, sejak ia meninggalkan rumah di usia belia untuk melanjutkan pendidikannya. Aksa menempuh masa SMA-nya di asrama selama tiga tahun. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di luar negeri hingga magister. Selepas kuliah, ia sempat bekerja satu tahun di luar, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan masuk ke perusahaan ayahnya. Sejak kembali ke Indonesia, Aksa memilih tinggal di apartemen. Dia hampir tak pernah menginjakkan kakinya di rumah kecuali harus menemui ayahnya. Karena itu ayahnya sengaja pulang lebih awal agar putranya itu mencarinya di rumah. Arya Prasetya Wardhana menatap lurus putranya, yang terdengar begitu yakin akan permintaannya. “Bagaimana kalau Papa tidak mau?” “Maka kita akan menanggung kerugiannya bersama,” jawab Aksa intimidatif. Arya terkekeh. “Kamu pikir Papa peduli?” Aksa menatap tajam ayahnya. “Aku rasa Papa gak akan suka kalau aku melibatkan Opa.” “Kamu memang kurang ajar, Aksara.” Ganti Aksa yang terkekeh. “Mungkin aku mendapatkannya dari ayahku.” Keduanya saling menatap sengit, sebelum Arya Wardhana akhirnya mengalah. Ia menghela napas berat. “Kapan kamu berangkat?” “Lusa. Aku letakkan semua laporan yang mungkin akan Papa butuhkan besok di ruangan Papa.” “Siapa saja yang kamu bawa?” “Hanya Haris.” Haris adalah satu-satunya asisten pribadi yang bisa bertahan lama mendampingi Aksa. “Berhati-hatilah. Kamu tidak hanya menghadapi saingan bisnis. Tapi ada aktivis-aktivis idealis yang mungkin akan tetap bertahan melawanmu apapun taruhannya,” ayahnya mengingatkan. “Aku tahu. Karena itu aku hanya memerlukan Haris untuk mengurus pekerjaanku sementara aku turun ke lapangan.” “Pamit Opamu.” “Dan membuat orang-orang Opa ikut turun kemudian menyulitkanku melakukan pendekatan ke warga?” tanya Aksa retoris. “Siapa tahu kamu membutuhkan mereka, Aksa.” “Aku hanya akan menghadapi orang-orang desa kan?” “Jangan meremehkan mereka. Orang-orang itu didampingi LSM yang diisi orang-orang berpendidikan tinggi. Dan perusahaan-perusahaan semen itu jangan kamu lupakan. Mereka juga punya kepentingan besar di sana. Dan dua di antaranya perusahaan besar yang sedang saling berebut kekuasaan.” “Mestinya mereka bisa menyingkir dengan sukarela karena kita jelas berbeda bidang dan visi.” “Tetap saja kamu bisa saja dianggap sebagai ancaman bagi mereka yang ingin menguasai daerah itu. Kabari perkembangannya sama Papa. Jangan gegabah. Lebih baik menunggu sebentar, daripada berantakan semuanya.” Aksa mengangguk. Dia tahu, ayahnya tak akan membiarkannya menanggung segala kesulitan perusahaan sendirian, seberapapun tajamnya masalah pribadi antara mereka berdua. * Bening masuk kembali ke ruangan setelah dokter memberitahukan kondisi pasien yang amnesia. Ia bahkan tak bisa mengingat kembali siapa dirinya. Tapi dokter memberikan satu kantong kecil berisi cincin milik pasien yang di dalamnya terdapat ukiran serupa huruf Jawa kuno. Aksara. Bening meletakkan kantong kecil itu di atas telapak tangan Aksa. “Cincin kamu. Sepertinya mereka melepasnya saat mengobati jarimu. Benar kamu tak ingat siapa dirimu? Namamu juga kamu gak ingat?” Aksa menggeleng. Ia mengamati kantong kecil yang ada di tangannya kini. Cincin itu. Cincin yang dulu diberikan orang tuanya saat ia masih remaja. “Di cincin itu ada ukiran nama. Apa mungkin itu namamu?” “Bisa tolong bukakan?” Bening meraih kantong kecil itu dan membukakannya. Ia menyerahkannya pada Aksa yang mengamati cincin itu sambil menahan nyeri di buku-buku jarinya. Sebuah nama memang terukir di sana dengan elegan. Aksa bahkan tak yakin betul itu namanya. Ukiran itu digoreskan dalam huruf yang tak Aksa kenali. “Jadi benar namamu Aksara?” Aksa mengerutkan kening. Jadi benar tulisan itu adalah namanya dan gadis ini bisa membacanya? “Anggap saja begitu kalau memang benda ini ada sama aku sebelumnya.” Bening menghela napas. Ia menemukannya tanpa identitas. Dan laki-laki ini lupa siapa dirinya. Bagaimana caranya menghubungi keluarganya? “Tak adakah yang bisa kamu ingat sedikitpun? Keluargamu barangkali, agar kami bisa menghubungi mereka untuk menjemputmu.” Aksa mengerjapkan matanya. Ia tahu masalah berikutnya yang akan muncul dengan kondisinya yang amnesia ini. Kemana ia akan tinggal. “Jam berapa sekarang?” “Sepuluh lima belas,” Bening melirik jam di pergelangan tangannya. Aksa ingat, jam tangannya yang sempat ia lempar ke bawah. Satu-satunya identitas yang melekat di tubuhnya sudah ia buang jauh sebelum dirinya hilang kesadaran. Itu adalah usaha terakhirnya agar Haris nanti bisa menemukannya sebelum ia mati entah karena apa. Sebab Aksa cukup yakin, kecelakaan itu adalah sabotase. Mungkin saja mereka menunggu di sana untuk memastikan usahanya menghilangkan Aksa berhasil. “Kamu akan pulang?” “Tidak ada kendaraan untuk pulang. Temanku tadi sudah pulang duluan.” Heru memang Bening minta agar tetap melakukan koordinasi terkait hasil rapat yang mereka ikuti dengan berbagai pihak di kantor kecamatan. Ia tadinya berharap bisa segera menyusul Heru menggunakan ojek. Tapi karena kondisi pasien yang tanpa identitas, terpaksa Bening tinggal lebih lama. “Dokter bilang, keadaanmu cukup stabil, kecuali ingatanmu. Jika malam ini tak ada keluhan, kamu bisa pulang besok,” lanjut Bening. “Kamu tinggal di mana?” “Kampung terakhir sebelum pantai yang akan kamu tuju. Kamu sedang menuju ke pantai kan? Atau seseorang meninggalkanmu begitu saja di pinggir jalan?” “Aku tidak tahu. Aku boleh ikut pulang denganmu nanti?” Bening menghela napas. Perkara apa lagi ini?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN