Bab 1: Accident
Langit sudah gelap saat mobil hitam itu melaju membelah jalanan berkelok dengan tanjakan dan turunan curam menuju ke arah pantai. Dari balik dinding-dinding karst yang keras, bulan sudah menampakkan bentuknya yang separuh. Tak utuh. Seperti isi pikiran Aksara.
Laporan dari anak buahnya tentang beberapa perusahaan yang jelas-jelas menghalangi ekspansi kawasan wisatanya sudah cukup membuatnya geram. Perusahaan-perusahaan itu bahkan menggunakan cara kotor untuk menyerang Aksa. Belum lagi rekaman cctv yang tak sengaja ia lihat di ponselnya. Aksa benar-benar muak. Bagaimana bisa semua terjadi bersamaan.
Aksara menggenggam setirnya lebih erat.
Mesin mobil itu meraung kecil saat Aksa memaksanya menaiki tanjakan terakhir yang paling curam. Tak ada lampu jalanan yang memadai. Hanya cahaya dari mobil Aksa yang menjadi satu-satunya penerangan. Pun tak ada kendaraan lain yang lewat.
19.23 demikian angka yang muncul di dashboard. Semestinya tak sesunyi ini kan? Aksa mengernyit, merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan kendaraannya.
“Sial,” dia berusaha meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Pagi tadi ia baru saja menggunakan mobil ini dan semua baik-baik saja. Satu kata melintas di kepalanya. Sabotase.
“Tidak mungkin”
Dia akan menurun, dengan jurang di sisi kiri, dan tebing di sisi kanan, Aksa berusaha mengingat rute yang akan dilaluinya itu. Mobil itu semakin tak terkendali. Sistem remnya tak berfungsi sama sekali. Ada bayangan pohon tinggi di depan sana.
Aksa akan memanfaatkannya untuk menghentikan laju mobilnya yang kian tak terkendali. Tapi ban kanannya sudah keburu selip, membuat mobil Aksa terdorong ke kiri.
Semua terjadi begitu cepat.
Aksara masih berusaha memutar setirnya untuk mengendalikan keadaan. Ia tak mau dikalahkan dengan begitu mudah. Tapi ban mobilnya sudah kehilangan cengkeramannya sepenuhnya.
Mobil masih bergerak. Tapi masuk ke arah cekungan bumi. Jurang yang mungkin dalam. Aksa melepas sabuk pengamannya, meski pilihan itu membuat tubuhnya semakin terguncang hebat. Dia berusaha keras mendorong pintu di sisinya, sebelum dirinya terkunci di dalam mobil di jurang yang dalam.
Aksa mendorong tubuhnya keluar, kemudian terguling di sisi kendaraannya yang juga berguling hebat menerabas apapun di depannya. Ia berusaha meraih pegangan, menahan laju tubuhnya.
Hingga sesuatu menghentikan laju tubuhnya. Tapi ia merasakan badannya terasa ngilu. Di bawahnya, ia melihat mobil yang dikendarainya masih merangsek turun, hingga kemudian berdebam keras. Cahaya merah terlihat dari sana.
Aksa menghela napas. Ia berusaha naik dengan sakit yang mulai menjalari sekujur tubuhnya. Jalanan begitu sunyi tadi. Aksa tak mungkin bertahan di cekungan yang tak terlihat orang.
Saat berhasil mencapai atas, tenaganya sudah tak bersisa. Waktu seakan kembali melambat. Aksa memejamkan matanya. Tubuhnya tergeletak dalam kegelapan di sisi jalanan yang sepi. Segalanya gelap.
*
“Kamu kayak lihat cahaya dari bawah enggak?” tanya Bening yang membonceng Heru dengan sepeda motornya. Mereka berdua baru selesai mengikuti rapat di kantor kecamatan.
“Cahaya apa? Mana ada cahaya?”
“Minggir bentar deh. Kayak bau sesuatu terbakar.”
“Sensitif,” Heru menurut. Ia menepi tanpa mematikan mesin motornya.
Bening turun. Melalui cahaya dari lampu sepeda motor Heru, Bening bisa melihat gundukan serupa tubuh manusia.
“Her, orang,” dia berlari mendekat. Ia mengeluarkan ponsel dan menyalakan senternya.
Heru menstandar motornya, tanpa mematikan mesinnya, agar mereka masih mendapatkan cahaya di malam yang gelap itu. Ia menyorotkan senter ponselnya ke arah bawah.
“Kamu sepertinya benar soal cahaya dan bau terbakar.”
Bening menempelkan ponselnya di telinga memanggil ambulans. Dia yakin orang ini bukan penduduk sekitar. Siapa yang akan menuju pantai dengan jalanan curam malam-malam begini.
“Alamat gak tidur lagi ini,” keluh Heru sembari duduk memeluk kakinya di sisi tubuh yang tergeletak menunggu ambulans datang.
“Ngantuk ya tidur aja. Biasa tidur dimanapun juga,” kata Bening.
*
Aksa membuka matanya perlahan. Bau obat-obatan terasa begitu tajam terperangkap di indra penciumannya. Kepalanya berdenyut. Ia mengerjap pelan, berusaha mengumpulkan potongan-potongan gambar yang berebut mengambil tempat di kepalanya.
“Sudah sadar?” suara seorang perempuan terdengar dari samping kanannya.
Aksa memejamkan matanya. Berusaha menyatukan potongan puzzle yang berantakan di kepalanya.
Demo warga. Laporan anak buahnya. Musuh bisnisnya. Rekaman cctv di apartemen. Dan kecelakaan itu.
“Kamu siapa?” Aksa menatap perempuan yang kini berdiri di sisinya.
“Bening,” jawabnya tegas. Tak ada keraguan dalam suaranya. Tatapannya pun tajam. “Aku panggilkan dokter sebentar,” ucapnya.
Aksa mengerjap heran. Tapi ia bersyukur ada orang yang menemukannya.
Bening kembali dengan seorang dokter laki-laki yang masih cukup muda. Dokter itu segera memeriksa Aksa kembali.
“Sepertinya oke. Gak ada masalah. Tinggal pemulihan saja. Alhamdulillah tidak ada luka dalam. Kita memerlukan identitas pasien.”
Bening menatap Aksa. “Kami menemukanmu tergeletak di pinggir jalan. Tanpa identitas. Tanpa alat komunikasi.”
Aksa teringat ponsel dan dompetnya masih ada di mobil yang terperosok masuk jurang dan mungkin terbakar habis. Tak ada identitas apapun yang melekat padanya.
Tapi ia ingat untuk apa ia ke daerah itu. Musuh-musuh bisnisnya yang menghasut warga agar Aksa menghentikan proyeknya. Rem mobil yang tiba-tiba tidak berfungsi. Apa seseorang menginginkan kematiannya?
“Suster,” dokter itu memanggil perawat yang kemudian datang membawa pena dan catatan. “Maaf, nama Bapak?” dokter itu bertanya.
Aksa menatapnya. Bayangan kecelakaan itu masih menguasai kepalanya. Itu pasti bukan kecelakaan murni. Mobilnya tidak mungkin tiba-tiba tanpa kendali. Ia ingat perusahaan yang berebut lahan dengannya. Musuh-musuh bisnisnya pasti akan senang mengetahui Aksa sudah mati.
“Aku…,” Aksa ragu. Tapi tak ada salahnya membuat mereka berpikir bahwa rencana mereka berhasil. “Aku tak ingat jelas,” akunya.
Bening menengok ke arah dokter.
“Ijinkan kami periksa kembali,” ucap dokter tersebut.
Bening menyingkir, memberi ruang pada dokter untuk memeriksa Aksa. Ponselnya berbunyi. Ia pamit keluar diikuti pandangan mata Aksa yang menatap lekat punggungnya.
Bening. Batin Aksa mengerja nama perempuan yang menyelamatkannya.
***