Lembur Bersamanya

901 Kata
Sore itu, matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi kantor sudah mulai sepi. Beberapa anggota pamit satu per satu, pulang ke rumah masing-masing. Tapi aku tetap duduk di balik meja kerjaku, menunggu satu orang. Kalya. Sengaja kuatur jadwal laporan lanjutan Unit PPA sore ini, tepat pukul lima, agar ia terpaksa lembur—denganku. Mungkin ini salah. Atau setidaknya... abu-abu. Tapi entah mengapa aku tidak peduli. Ada sesuatu dari Kalya yang... membuat hari-hariku tak lagi terasa datar. Tok tok. “Masuk.” Pintu terbuka. Kalya masuk dengan map di tangan dan senyum yang entah mengapa terasa hangat sekali sore itu. “Maaf telat, Pak. Tadi bantu ibu-ibu korban KDRT isi laporan dulu.” “Bagus. Duduk sini.” Aku menunjuk kursi di depan. “Santai aja. Kita nggak buru-buru.” Kalya duduk. Meletakkan map, lalu membuka halaman pertama sambil menjelaskan. Tapi aku... jujur, tak sepenuhnya menyimak. Tatapanku sesekali jatuh pada matanya yang bulat. Cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga. Cara dia tertawa kecil ketika membahas tingkah laku korban yang emosional tapi lucu. “Eh, masa tadi ada ibu-ibu ngomel. Katanya pelaku KDRT-nya bukan suaminya, tapi mantan pacar anaknya yang ngaku-ngaku calon menantu. Pusing saya.” Kalya tertawa pelan. Aku ikut tertawa. “Di dunia ini banyak orang gila, Kalya. Sayangnya, makin hari makin banyak yang lolos ke masyarakat.” “Haha, itu kenapa kita harus waras, Pak.” Aku menatapnya, masih sambil tersenyum. Dan untuk sepersekian detik, ruangan ini terasa terlalu sempit untuk dua orang dengan detak jantung yang tak lagi biasa. Waktu beranjak ke pukul enam lebih. Kantor sudah benar-benar sepi. Laporan tinggal sedikit. Tapi aku masih belum ingin menyuruh Kalya pulang. “Kalya,” kataku sambil menyandarkan punggung di kursi. "Ya, Pak?" “Kamu betah di sini?” Ia mengangguk cepat. “Betah banget. Jujur ya, Pak. Baru di tempat ini saya ngerasa pendapat saya dihargai." "Oh, ya?" tanyaku penasaran. Dia mengangguk. Dan itu membuatku semakin bersemangat mendengar ceritanya. "Dulu... saya kayak cuma tempelan seragam doang.” “Kamu punya potensi besar,” ujarku pelan. “Saya lihat itu.” Tatapan matanya berubah. Lembut dan seperti berucap terima kasih tanpa kata. Lalu entah siapa yang memulai, obrolan berubah jadi santai. Kami bicara soal kuliah Kalya dulu di Yogya. Tentang hobinya nonton drama Korea. Tentang kenapa dia suka warna biru pastel, dan bagaimana dulu dia bercita-cita jadi guru TK. “Kok nggak jadi guru TK?” tanyaku. Ia tertawa. “Karena waktu SD saya pernah diganggu orang gila pas pulang sekolah. Sejak itu saya selalu pengen jadi orang yang bisa lindungin perempuan lain. Jadi... ya, masuk polisi.” Aku tergelak. Suaranya yang lucu membuatku mabuk kepayang. Rasanya aku enggan pulang dan mau berlama-lama di kantor saja. Seandainya saja bisa, maka Kalya akan kubawa pulang sekalian. Astaga. “Kamu kuat, Kalya.” Ia menatapku. “Pak Damar juga.” Aku membalas tatapannya. Dan dalam detik itu, kami tak berkata apa-apa, tapi banyak yang tercipta di udara. Sesuatu yang menggoda... dan tak seharusnya tumbuh. Sayangnya, semua momen itu tiba-tiba buyar saat ponselku tiba-tiba bergetar. Kutengok layarnya. Nadira. Istriku. Kupandangi nama itu beberapa detik, lalu dengan satu sentuhan, kutekan tombol silent, dan meletakkan ponsel terbalik di meja. “Ditelepon, Pak?” tanya Kalya pelan. Aku menggeleng. “Nggak penting.” Ia hanya tersenyum kecil, seolah mengerti lebih dari yang kuucapkan. “Kalya...” kataku lagi, dengan suara nyaris berbisik. “Kamu tahu kamu cantik?” Ia terkekeh pelan, lalu menunduk sebentar. “Pak Damar ini... bisa aja.” “Aku serius.” Ia menatapku lagi. Kali ini tanpa senyum. Hanya mata yang berbicara. Dan mata itu bilang: “Aku tahu. Tapi jangan ucapkan.” Aku berdiri. Berjalan ke arah jendela. Di luar, malam mulai turun. Lampu-lampu jalan menyala. Tapi suasana hatiku… mulai tak punya arah. “Kalau kamu keberatan saya bicara seperti ini, saya minta maaf,” kataku pelan. Langkah kaki Kalya terdengar mendekat. Ia berdiri tepat di sampingku, menatap ke luar juga. “Saya nggak keberatan, Pak.” Deg. “Kalau saya keberatan... saya pasti udah pulang dari tadi.” Suara tawa kami kembali terdengar di ruangan. Tawa yang pelan, canggung, tapi hangat. Aku sudah lupa berapa kali kutatap wajahnya malam itu. Lupa sudah berapa kali ingin kuperpanjang waktu agar ia tak perlu pulang. Sampai akhirnya ia melirik jam tangannya. “Wah, udah jam delapan aja. Saya pulang dulu ya, Pak.” Aku mengangguk pelan, tapi hatiku seolah tak rela. Ia membereskan mapn, lalu menatapku sejenak. “Terima kasih buat malam ini.” “Untuk laporan?” tanyaku mencoba bercanda. “Untuk... semuanya,” jawabnya pelan. Ia melangkah ke pintu. Tanganku nyaris terulur. Tapi tak kulakukan. Karena saat itulah... layar ponselku kembali menyala. 12 panggilan tak terjawab dari Nadira. 3 pesan masuk. Kubuka satu. Nadira: “Mas, kamu kenapa? Aku nungguin. Makan malam udah dingin. Kamu nggak angkat juga.” “Mas, kamu marah ya?” “Mas... aku takut ada apa-apa.” Tanganku bergetar pelan. Tapi belum sempat kubalas, pintu terbuka lagi. Kalya menyelipkan kepala. “Pak... kalau suatu hari saya ngerasa... nyaman banget kerja di sini, itu salah siapa ya?” Aku menatapnya. Dan sialnya... aku tak bisa menjawab. Kalya tersenyum pelan. Senyum yang memporak porandakan hatiku. Senyum yang membuat mataku tak sanggup berkedip. “Besok kita lembur lagi, Pak?” Aku tak menjawab. Lalu entah kenapa… kupencet tombol matikan daya di ponsel. Aku tak ingin membalas apapun pertanyaan dari Nadira. Dan dalam hati, kutahu... aku sedang menyalakan sesuatu yang seharusnya padam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN