Jenuh Akan Rumah

979 Kata
Rumah. Seharusnya tempat untuk pulang, melepas penat, dan merasa utuh. Tapi malam ini, begitu aku masuk dan mencium aroma masakan yang hangat dari dapur, yang kurasa justru… beban. Aku meletakkan tas di sofa dengan malas. Tiba-tiba langkah kecil berlari ke arahku. “Ayah pulang!” Nazwa. Putriku. Ia menyambutku dengan pelukan hangat di kaki, lalu mengangkat selembar kertas warna-warni yang tampak kusut karena terlalu erat digenggam. “Aku gambar Ayah tadi di sekolah! Ayah lihat, ya? Ayah suka?” Matanya berbinar, senyumnya tulus. Aku hanya menatap sekilas. Gambar jelek, coretan tak karuan. Entah kenapa itu justru menambah pusing di kepala. Nazwa yang sejak dulu selalu kurindukan setiap pulang kerja, kini terasa asing. Aku tak ingin bicara, tak ingin tersenyum. Aku berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun. “Ayah marah, ya…?” tanyanya lirih. Suaranya terdengar retak. Aku tak berbalik. Aku hanya ingin makan dan segera beristirahat. Dari balik bahu, kudengar suara Nadira, lembut tetapi bergetar. “Ayah cuma capek, Sayang. Bukan karena kamu…” "Tapi aku pengen main sama Ayah," rengek Nazwa. "Nanti kalau Ayah udah gak capek. Sekarang kamu ke kamar dulu, main sendiri. Nanti Bunda temani." Langkahku terhenti saat mendengar percakapan mereka, tapi aku tetap masuk kamar. Entah kenapa… bahkan senyum anakku sendiri pun terasa terlalu berat untuk kutanggapi hari ini. "Ayah mau makan?" Suara Nadira menyambutku dengan lembut. Ia muncul dari balik pintu kamar dengan celemek bermotif bunga kecil. Rambutnya masih basah—sepertinya baru selesai wudu. Ia tersenyum, wajah polos dan tulus seperti biasa. Aku mengangguk pelan, lalu mengganti pakaian. Langkah kakiku berat menuju meja makan. Aku tahu dia ingin bicara. Aku tahu dia pasti sudah menungguku dari sore tadi. Tapi tubuh dan pikiranku… ingin cepat selesai dan kembali ke kamar. "Aku masak kesukaan Ayah malam ini. Sayur asem sama ikan goreng sambal matah," ujarnya sambil menata piring. “Tadi aku beli ikan segar di pasar kecil dekat kelurahan.” "Hm." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Selebihnya hening. Nadira duduk di seberangku. Ia menatapku penuh harap. Tapi aku sibuk dengan piring, mengunyah dengan cepat, tanpa rasa. Mungkin karena lelah. Mungkin karena... pikiranku masih di kantor. Masih pada tawa Kalya sore tadi. Pada matanya. Suaranya. Dan Nadira di depan… seolah tak mampu mengalihkan pikiranku. "Besok aku mau ke pengajian ibu-ibu RW. Boleh, ya?" ucapnya pelan. Aku mengangguk tanpa mengangkat wajah. "Trus, minggu depan kayaknya ada undangan dari Pak Camat. Aku bisa ikut, kan?" "Untuk apa ikut?" tanyaku datar. Nadira terdiam. Wajahnya perlahan berubah. "Kan... istri Kapolsek biasanya hadir." Aku meletakkan sendok dan menatapnya dengan mata yang tak bisa kujelaskan nadanya. “Tapi kamu nyaman? Dengan busana seperti itu, duduk di antara istri-istri pejabat yang pakai tas branded dan baju bagus?” Tatapan Nadira mulai redup. Ia menatap celemek dengan tangan yang meremas sudutnya perlahan. "Kenapa, Mas? Penampilanku selama ini bikin malu, ya?" Aku menghela napas. “Nggak gitu maksudku.” "Tapi itu yang Mas pikirkan, kan?” Ia menatapku—kali ini bukan dengan tatapan lembut, tapi dengan luka yang ia coba sembunyikan. Aku tahu dan itu... membuatku makin tak nyaman. “Dira,” ujarku akhirnya, mencoba netral. “Kamu tahu aku makin banyak bergaul dengan orang penting sekarang. Gaya hidup mereka, cara bicara mereka... semuanya beda. Aku cuma khawatir kamu—” “Kamu malu aku nggak seperti mereka?” potongnya. Aku diam. Dan diamku... adalah jawaban paling kejam. Malam itu, Nadira duduk di ruang tengah sendirian, menggulung sajadah kecil sambil mendengarkan murottal dari ponselnya. Tapi telingaku terasa panas sendiri mendengar lantunan ayat-ayat itu. Kenapa? Karena rasanya Nadira makin jauh dariku. Atau... aku yang menjauh. Aku masuk kamar lebih dulu, pura-pura sibuk membuka laptop. Padahal yang kulakukan hanya membuka-buka folder kerja, sambil sesekali membuka layar ponsel, berharap ada notifikasi dari Kalya. Tak ada. Tapi aku tetap menunggu. Pintu kamar terbuka perlahan. Nadira masuk dan duduk di ujung ranjang. Ia membuka kerudung panjangnya, melipatnya rapi. Masih dalam diam. "Mas..." suaranya pelan. "Boleh aku tanya sesuatu?" Aku mengangguk tanpa menoleh. “Kamu... masih sayang aku?” Aku terdiam. Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Jujur... aku tidak siap. Karena jawabannya tidak sesederhana 'ya' atau 'tidak'. "Aku... capek, Dira," ujarku akhirnya. "Terlalu banyak beban sekarang. Di kantor. Di luar. Aku butuh ruang." "Ruang?" Nadira mengulang kata itu dengan suara bergetar. "Kita ini suami istri, Mas. Rumah ini ruang kita bersama. Kalau kamu butuh ruang yang nggak ada aku... itu artinya kamu nggak mau bersamaku lagi, ya?" Aku mengusap wajah, frustasi. “Kamu mulai lebay.” “Lebay?” Suaranya naik satu oktaf. “Aku istrimu, Mas! Aku punya hak buat tahu apa yang kamu rasain. Tapi kamu terus tutup diri. Pulang dingin, tatapanmu kayak aku orang asing. Apa aku berubah sebegitu parah sampai kamu nggak mau ngelihat aku lagi?” Aku mendongak menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa... bersalah. Tapi bersalah yang kusimpan diam-diam. Karena ego seorang pria... kadang terlalu takut mengakuinya. "Aku cuma... butuh waktu," ujarku akhirnya. Nadira mengangguk kecil. “Aku tunggu. Tapi jangan terlalu lama, Mas. Soalnya aku juga manusia. Aku juga punya batas.” *** Setelah Nadira tertidur, aku masih terjaga. Lampu kamar kupadamkan, tapi cahaya dari layar ponselku menari di wajah. Kubuka chat Kalya. Tak ada pesan masuk. Tapi ada foto profil barunya—selfie dengan pakaian dinas, wajah cerah, dan senyum menggoda. Tanganku nyaris mengetik sesuatu. Tapi kuhapus. Kuketik lagi. “Kalya, makasih untuk hari ini. Saya senang lembur bareng kamu.” Kukirim. Tak sampai semenit, centang dua biru. Dibaca. Kalya membalas. “Saya juga senang, Pak. Kapan-kapan kita ulang lagi, ya 😊” Aku tersenyum kecil. Dan rasa jenuh di rumah... entah mengapa berubah jadi semacam kelegaan. Tapi itu… kelegaan semu. Yang kubayar dengan air mata diam istri, yang tertidur di sebelahku. Tengah malam, aku terbangun karena mendengar suara tangis pelan. Kupalingkan kepala. Nadira tertidur memeluk mukenanya, pundaknya bergetar. Kupandangi wajahnya. Dan yang kulakukan hanya... membalik badan. Aku membiarkannya menangis dalam diam, karena aku terlalu pengecut untuk menenangkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN