Prolog
Suasana rumah Bima Narendra tidak seperti biasanya. Terlihat berbeda dari segala sisi bahkan halaman rumah yang biasa sepi terlihat ramai sekali. Orang-orang asing dan mantan relasi memenuhi. Turut menjadi saksi karena hari ini adalah hari pernikahan putri pertama Bima dengan pria yang dicintai.
“Aduh ... bagaimana ini? Jodi belum datang, Laya! Sedang tamu undangan sudah datang semua dan menunggu cukup lama.” Suara Sekar—si pemilik rumah menggema memenuhi ruangan. Sontak saja membuat gadis yang hari ini menjadi pengantin wanita mendesah lirih dengan manik mata berkaca-kaca.
“Aku juga tidak tahu, Bu. Aku sudah menghubungi Jodi dari tadi tapi ponselnya tidak aktif. Mungkin sedang di perjalanan dan—“ suara Zelaya memelan di akhir. Memupuk rasa percaya di saat seperti ini memang sulit sekali. Terlebih rasa takut di hati tak dapat dipungkiri karena Jodi Diningrat—sang calon suami tidak biasanya seperti ini.
Sekar menghembuskan napas kasar. Dengan raut wajah yang tidak pernah bersahabat dengan sang anak tiri, dia lantas mendekat dengan lontaran kata-kata yang membuat Zelaya kian mawas diri.
“Terus hubungi Jodi! Jika dalam beberapa menit ke depan Jodi belum datang, kamu tahu sendiri jika Ibu tidak mungkin, dan tidak akan pernah mau menanggung malu!” Gebrakan di meja rias mengakhiri. Sekar angkat kaki dari kamar pengantin--meninggalkan Laya yang kali ini berusaha menghubungi orang lain.
“Ayo angkat .... Aku mohon angkat teleponku, Ratih.” Laya bangkit dari kursi. Wajah cantik berpoles makeup tipis—request Jodi, telah kehilangan percaya diri. Beribu impian yang dirajut bersama kekasih, lenyap seiring senyum manis yang seketika terlihat pedih. Menyisakan sesak yang nyaris membuatnya tidak bisa mengontrol diri jika saja kepercayaan itu telah diambil alih.
Kenapa Jodi? Kenapa jadi begini? Apa yang membuatmu ragu?
“Halo, Laya!” suara Ratih yang terputus karena helaan napas terdengar. Membuat binar mata Laya terpancar di tengah gelombang air mata yang siap tumpah.
“Ya, Ratih. Bagaimana? Apa kamu sudah bertemu Jodi?” Ratih adalah satu-satunya teman yang Laya punya dan selalu ada untuknya. “apakah Jodi dan keluarganya sudah berangkat?” Jemari Laya memeras risau. Bola mata teduhnya pun bergerak asal. Sungguh dia tidak mau kecewa dan gagal. “mereka sudah berangkat ‘kan?” yakinnya melawan pikiran buruk saat Ratih terdiam.
“Laya ...”
“Jawab, Ratih!”
“Jodi tidak ada di rumah berikut keluarganya juga. Kata satpam yang berjaga, Jodi dan keluarganya pergi dari semalam.”
Laya kehilangan kata-kata. Hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya jika saja sudut meja tidak menahannya. Untuk kali ini, riak air mata yang tumpah membasahi pipi putihnya telah menjadi bukti bahwa kepercayaannya benar telah dihancurkan oleh seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Keyakinannya disia-siakan, dan 2 tahun yang dia jalani bersama Jodi adalah buang-buang waktu saja.
“Kenapa ... Jodi?! Kenapa?!”
Prang!
Ponsel yang menghantam dinding terbelah menjadi dua. Alat-alat makeup yang tersusun rapi pun telah berserakan di lantai. Mengiringi isak tangis Laya yang tak tertahankan seiring rasa kecewa yang masih ingin melawan kenyataan.
Aku berjanji akan menjadikan kamu sebagai wanita yang paling bahagia di dunia ini, Zelaya.
Kata-kata terakhir Jodi memenuhi kepala. Selang 3 hari sebelum pernikahan semuanya masih baik-baik saja. Lalu kenapa Jodi secepat ini berubah? Kenapa Jodi meninggalkannya di hari pernikahan? Kenapa Jodi tega membuatnya kecewa?
“Tidak! Ini hanya mimpi. Jodi tidak mungkin meninggalkanku dengan cara seperti ini.”
Putus asa membuat Laya tidak berpikir waras.
Setelah ditinggal dengan cara sekeji ini, Laya masih saja membawa harapan bahwa dia akan menemukan Jodi segera.
Sayang, langkahnya harus tertahan oleh Sekar dan dua anak buah yang saat itu juga telah menahan Laya untuk tetap tinggal.
“Aku harus mencari Jodi, Bu. Tolong lepaskan aku.”
“Kita sudah tidak punya waktu, Laya. Para tamu undangan sudah datang dan agar tak menanggung malu, kamu harus tetap menikah.”
“Menikah? Apa maksud Ibu?” sudah merasa sesaknya dicampakkan, sekarang Laya masih harus menanggung syok berat. “bagaimana mungkin aku menikah dengan pria sem—“
Suara Laya tercekat.
Bergetar kemudian lenyap saat tangan berkuku panjang itu menekan rahang.
“Kamu mau ayahmu meregang nyawa setelah mendengar berita ini? Iya, Laya?” Laya menggeleng pelan. Masih dengan air mata berderai sampai riasan make up benar-benar berantakan. “kalau begitu turuti Ibu. Sebagai pertanggung jawaban perbuatanmu kamu harus mencari orang yang mau menggantikan posisi Jodi. Siapa pun tidak masalah, bawahan ayahmu juga tidak apa-apa asal malu ini bisa ditutupi. Asal nama terhormat keluargaku yang kamu sandang tidak ditertawakan orang, Zelaya!”
“Tapi siapa, Bu? Siapa yang mau jadi pengganti? Ini pernikahan, bukan permainan.”
Sekar nampak menimbang-nimbang. Mata Almond nya yang melirik sinis itu tiba-tiba melihat ke arah pengawal yang memegang Laya. Sebuah ide muncul di kepala.
“Di rumah ini banyak pengawal pria. Kenapa harus bingung harus mencari pengantin pria?”
Mata berair Laya membola. Sungguh tak menyangka dengan isi pikiran ibu tirinya tetapi, apa lagi yang bisa dia lakukan selain menuruti perintah. Semua yang terjadi di rumah ini tentu berdasar keputusan Sekar.
“Kalian berdua sudah menikah dan sopir pribadi keluarga ini pun sudah punya anak. Lalu siapa yang bisa menikah dengan Laya?” bersamaan dengan detik menegangkan itu, pengawal yang bekerja kurun waktu 1 bulan mendekat.
“Nyonya, maaf sebelumnya. Jam berapakah pemeriksaan tuan Bima?”
Bukannya menjawab, Sekar langsung menunjuk pengawal pria bernama Taram itu. Meneliti wajahnya yang cukup mendukung. Sangat cocok untuk diperkenalkan sebagai suami Zelaya di depan publik apalagi Taram itu masih lajang.
“Taram, hari ini aku perintahkan kamu menikahi Zelaya dan kamu tidak bisa menolak.”
Tangis Zelaya pecah.
Sungguh merasa berdosa karena akibat perbuatannya, pria bernama Taram itu harus menjadi korban.