Malam itu hujan baru saja reda ketika seorang pria yang tak lain adalah Taram duduk di sebuah restoran yang tenang di sudut kota. Tempat itu tidak terlalu ramai—cukup sunyi untuk percakapan yang tidak ingin didengar orang lain.
Ia duduk di meja pojok, mengenakan kemeja gelap, wajahnya setengah tertutup bayangan lampu redup. Hingga tak lama kemudian seorang pria datang.
Langkahnya tegap. Jas hitam rapi, sepatu mengilap, dan ekspresi wajah yang datar—terlalu datar untuk sekadar tamu biasa.
Pria itu berhenti di depan meja. “Tuan Taram.”
Taram tidak langsung menatapnya. Pria yang dikenal kaku sebagai pengawal Bima Narendra itu justru tersenyum kilas, “Kamu masih memanggilku seperti itu rupanya.”
“Itu perintah, jelas saya masih ingat.” pria itu duduk tanpa diminta. Hening sejenak sebelum melanjutkan, “saya datang membawa pesan.”
Taram akhirnya mengangkat wajah. “Aku sudah tahu. Kakek mengirimmu. Seperti biasa.”
Pria itu mengangguk. “Beliau mulai kehilangan kesabaran, Tuan muda. Beliau ingin Anda kembali, segera.”
“Apa sudah ada yang tahu bahwa aku di kota ini?” Kata-kata itu terasa berat meski diucapkan dengan datar.
“Tidak ada. Informasi mengenai Anda tetap bahwa Anda masih di London.”
Taram terdiam. Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal. Teringat bahwa situasinya tidak semudah sebelumnya.
“Aku tidak bisa pergi sekarang, Devan.”
“Karena wanita itu, Tuan?”
Tatapan Taram langsung berubah tajam.
“Jaga ucapanmu.”
Pria itu sedikit menunduk, namun tidak benar-benar merasa bersalah. Ya, dia sudah tahu perihal pernikahan dadakan yang terjadi di rumah—tempat tuan muda itu menyamar menjadi pengawal.
“Aku masih ingin menunggu bagaimana semua ini berlanjut,” lanjut Taram lebih tenang, tapi tegas. “Aku tidak bisa meninggalkan Zelaya begitu saja.”
“Tapi Tuan muda tidak punya pilihan,” kata pria itu. “apalagi keluarga besar sudah mencarikan tuan muda calon istri.”
Taram tertawa kecil—kering. “Yang mereka pedulikan memang hanya status. Sudah jangan diperjelas, aku sudah tahu.”
Pria itu menatap lurus ke arah Taram. Dia adalah satu-satunya anak buah Taram yang tahu semuanya mengenai tuan muda itu.
“Semua yang tuan muda lakukan apakah belum cukup?” Devan melirih, bagaimana pun dia harus memastikan agar tuan mudanya tidak salah langkah. “Bima tidak akan pernah bisa keluar dari rumah itu, Tuan. Bagaimana pun itu rumah Bima.”
“Tapi aku berutang nyawa. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana pria tua itu menyelamatkanku.” Taram menatap meja, rahangnya mengeras. Teringat saat Bima Narendra menyelamatkannya dari kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawa.
“Yang Tuan muda lakukan selama 1 bulan ini sudah lebih dari cukup apalagi dengan terus mengalirkan dana ke perusahaan Narendra.” Devan sedikit menghela napas. “saya hanya tidak ingin Tuan mempertaruhkan segalanya.”
Hening kembali menyelimuti meja mereka. Sampai Akhirnya Devan mengambil sikap. “Saya mohon cepatlah kembali sebelum Kakek turun tangan sendiri.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan ancaman, tapi justru terasa lebih menakutkan karena ada pemegang takhta yang ikut bersuara.
Taram mengangkat wajahnya perlahan. “Beri aku waktu. Aku akan menyelesaikan semuanya di sini dan setelah itu aku akan kembali.”
Devan langsung berdiri. “Saya akan menyampaikannya,” namun ia berhenti sejenak sebelum pergi. “tapi ingat, Tuan muda… waktu Anda tidak sebanyak yang Anda kira.”
Langkahnya menjauh.
Meninggalkan Taram sendirian di meja itu.
Untuk beberapa saat, Taram hanya duduk diam. Menatap kosong ke arah cangkir kopi yang sudah dingin di atas meja.
“Semua ini…” gumamnya pelan, “tidak seperti yang aku rencanakan di kali pertama menginjakkan kaki.”
Di tempat lain
Apartemen kecil itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Zelaya duduk di dekat jendela, memeluk lututnya, menatap lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan. Ia sendirian di sana karena kepergiannya sore tadi tidak serta merta membawa Taram.
Bukan berniat meninggalkan.
Dia hanya tidak tahu bagaimana menghadapi pria itu setelah semua hal yang terjadi. Dia juga bingung bagaimana menjelaskan pada Taram tentang situasi saat ini dan sekarang, bohong jika dia tidak mengkhawatirkan Taram yang masih ada di rumah Sekar. Sungguh dia takut Sekar berbuat kejam.
Lalu Jodi Diningrat?
Ditinggalkan Jodi memang membuatnya terluka tetapi otaknya tentu masih berpikir waras untuk tidak terlalu memikirkan. Bagaimana pun, pria itu sudah meninggalkannya dan sekarang ada orang lain yang lebih penting dari pria k*****t itu.
Ponsel di atas lantai berdering pelan. Nama salah satu pelayan bernama Bi Rika tertera dan Laya pun segera mengangkatnya.
“Bagaimana, Bi? Apa Taram sudah pulang?” sebelumnya bi Rika memberitahu jika Taram tidak di rumah. Sepertinya ke rumah sakit untuk mengambil obat tuan Bima.
“Sudah pulang, Non.”
“Kalau begitu tolong tetap awasi, Bi. Jangan beritahu Taram apa pun. Kita lihat saja bagaimana tindakan Ibu.”
“Baik, Non Laya. Tapi kalau pada akhirnya Taram diusir juga bagaimana?” bi Rika adalah pelayan yang paling dekat dengan Laya. Tentu wanita setengah baya itu bisa dipercaya.
“Aku akan menjemputnya.”
**
Tidak ada lagi tenang seperti sebelumnya. Bahkan kalau pun setiap waktu berada dalam tekanan, Zelaya tidak pernah merasa seterpuruk ini sebelumnya.
Beberapa menit lalu pengacara Sekar menghubungi bahwa mulai hari ini dia tidak bisa bekerja di perusahaan lagi. Tentu saja peraturan itu berlaku selama dia tidak menurut yang berarti tidak menceraikan Taram seperti yang Sekar mau.
Zelaya menelungkupkan wajah sembabnya ke atas lutut.
Lagi-lagi dia harus mengambil keputusan dalam kalut. Sekar benar-benar tahu menekannya sampai tak berkutik tapi bagaimana pun Taram adalah manusia yang punya perasaan. Untuk kali ini, dia akan sedikit membangkang.
“Ayah maafkan aku. Aku tidak mungkin menyakiti perasaan Taram yang selama ini sudah menjaga ayah dan menyelamatkanku dari malu jadi untuk sementara waktu, aku harus menjauh dulu.”
Tangan Zelaya mengepal.
Ia tahu wanita jahat itu tidak akan berhenti sampai dia mengaku kalah.
Drttt!
Ponsel yang berada di atas ranjang tiba-tiba berdering. Cepat Zelaya meraihnya dan nama Bi Rika yang tertera, sungguh membuat jantung Zelaya hampir berhenti berdetak.
“Nyonya Sekar sudah mengusir Taram, Nona.”
Bahu Laya mengendur.
Lagi-lagi Taram menjadi korbannya.
“Sekarang Taram di mana?”
“Mengemasi barang-barangnya di paviliun belakang.”
“Kalau begitu, saya akan ke sana.”
Zelaya bergegas. Sebentar mengganti baju tidurnya kemudian menutup apartemen yang beruntung bisa dia beli dari hasil bekerja. Tentu setelah sembunyi-sembunyi dari Sekar karena wanita itu tentu tidak akan membiarkan dia berdiri tanpa tali kekangan.
“Taxi,” panggil Laya dan dia pun siap menjemput suami penggantinya.