Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa.
Sunyi, tenang, damai, sampai—
“Aaah!”
Teriakan Laya memecah keheningan rumah dan Taram yang memang berniat mengajak nona muda itu sarapan, refleks menoleh ke arah sumber suara.
Tanpa pikir panjang Taram berlari menuju kamar mandi dan mengetuk pintu dengan pukulan.
“Laya? Kamu kenapa?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara kecil seperti sesuatu terjatuh.
BRAK!
Taram yang kesabarannya setipis tisu dibelah empat, pun tanpa ragu mendobrak pintu hingga terbuka lebar. Sampai lupa jika pintu ruangan yang dia dobrak agak berbahaya dan pemandangan di depan sana sempat membuat alisnya mengernyit dalam.
Laya duduk di lantai dengan posisi bersimpuh—memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih, halus tanpa cela. Rambutnya tergerai basah, dan beruntung tubuh Laya sudah terbalut jubah mandi dengan rapi—hingga cukup membuat Taram mengalihkan canggung yang tiba-tiba saja membuat tubuhnya panas.
“Kamu kenapa?” Taram bersuara lagi meski kali ini napasnya terasa sedikit berat.
Laya mengangkat wajahnya pelan. Ekspresinya menahan nyeri sekaligus kesal karena tindakan Taram yang di luar nalar. Beruntung dia sudah memakai jubah mandi atau pria itu akan benar-benar dia hajar. “Kepleset.”
Taram langsung melihat ke bawah.
Ada sabun yang tergeletak tak bersalah hingga ia menghela napas panjang, rahangnya mengeras. “Kamu menginjak sabun?”
Laya mengangguk pelan, sedikit malu. “Tidak sengaja. Aku pikir sabunnya—“
“Dasar ceroboh,” potong Taram tanpa basa-basi dan Laya harus mendengus lagi.
“Aku juga tidak mau jatuh, ya .…”
Taram tidak menjawab. Ia mendekat, lalu tanpa banyak bicara membungkuk dan mengangkat tubuh Laya begitu saja.
“Taram! A—apa yang kamu lakukan?” Laya refleks mencengkeram bahu pria itu. Sekali lagi dibuat serangan jantung dengan tindakan Taram yang dengan santainya malah menyuruhnya diam hanya dengan tatapan tajam.
Taram membawa Laya keluar dari kamar mandi kemudian menuju tempat tidur. Menurunkan tubuh Laya dengan perlahan di atas kasur, memastikan Laya duduk dengan nyaman. “Bagian mana yang sakit?” tanyanya dan kini suaranya sedikit lebih rendah.
Laya mengerutkan kening, mencoba mengingat karena keterkejutannya belum reda. “Kaki.”
Taram langsung berlutut di depan ranjang, tangannya dengan hati-hati memegang pergelangan kaki Laya.
“Yang ini?” tanyanya, menekan pelan.
Laya meringis. “Bukan, agak ke atas.”
Taram menggeser tangannya sedikit, lalu berhenti saat melihat sesuatu.
Memar—di betis Laya dan warna kemerahannya perlahan berubah kebiruan. Ekspresi Taram langsung berubah.
Laya yang juga melihat ke arah yang sama pun menjelaskan, “Sepertinya terbentur pas jatuh.”
Taram diam beberapa detik, lalu mengangkat pandangannya ke arah Laya. “Kamu memang seceroboh ini?”
Laya langsung mengerucutkan bibir. “Tadi itu kecelakaan.”
“Kecelakaan yang bisa kamu hindari kalau kamu lebih hati-hati, Lay.”
Laya hendak membalas tapi melihat cara Taram kembali menatap memar di kakinya, begitu fokus, serius dan penuh perhatian, pun membuat Laya mengatup bibir rapat.
“Diam di sini,” ucap Taram sebelum berdiri. “jangan ke mana-mana.”
“Ya, memangnya aku bisa ke mana?”
Taram mengabaikan cicitan Laya kemudian keluar sebentar.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan kotak P3K di tangan dan tanpa banyak bicara seperti biasa, ia duduk lagi di depan Laya. Membuka kotak itu lalu mulai mengoleskan obat dengan hati-hati di betis Laya yang cukup pas di genggaman. Menyentuh dengan ringan karena tidak mau menambah sakitnya.
Laya memperhatikan diam-diam. Tindakan pria itu memang kerap kali kontras dengan wajah kakunya. “Terima kasih, Ram,” gumamnya pelan.
Taram tidak langsung menjawab. Tangannya tetap bekerja, merapikan perban tipis di sekitar memar.
Bibir tipis bergelombang yang kerap kali melontarkan kalimat pedas itu tetap mengatup sampai akhirnya pekerjaan Taram selesai dan Taram menatap Laya tepat di matanya.
“Lain kali jangan begini lagi.” Taram mengerjap, bukan seperti itu kalimat yang harusnya keluar. Ia pun cepat-cepat menambahi, “aku benci orang ceroboh. Apalagi menyusahkan seperti kamu.”
Taram beranjak meninggalkan kamar dan Laya yang melihat punggung tegap itu telah hilang di balik pintu, pun hanya bisa menahan tawa.
Sekalipun kaku, tetap saja pria itu tulus. Ah salahnya juga harus menciptakan masalah sepagi ini, stok kesabaran Taram hari ini pasti makin menipis.
Tak lama pria itu datang lagi dan kali ini membawa segelas s**u. “Minum,” titahnya seperti biasa dan Laya pun menurut tanpa berani membantah. Ia meneguk s**u itu secara perlahan dan gerak tangan Taram yang mengambil handuk kecil kemudian meletakkannya ke atas kepala, nyaris membuatnya tersedak.
Keduanya berpandangan dan Taram mengerti maksud kerutan di dahi Laya.
“Cuma mau membantu mengeringkan biar kamu tidak masuk angin,” jelasnya datar dan Laya langsung tidak menyetujui.
“Tidak usah. Biar aku saja. Aku masih bisa.”
Laya tersenyum begitu tangan Besar Taram telah lepas yang berarti pria itu tidak memaksa tapi langkah Taram yang menuju nakas dan mengambil sesuatu dari sana, pun membuat Laya mengendur bahu dengan raut wajah pasrah.
Harusnya dia tidak lupa jika pria kaku itu tidak akan pernah mengubah keputusannya—begitu saja.
“Aku bisa sendiri,” Laya hendak mengambil hair dryer di tangan Taram tapi tidak dapat.
“Sudah diam saja.”
“Aku serius, Taram.”
“Iya, Laya.” Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk menghentikan protes Laya dan akhirnya, tiada yang bisa wanita itu lakukan selain duduk pasrah.
Suara hair dryer mulai terdengar dan hangatnya udara perlahan menyentuh rambut Laya. Taram berdiri di belakangnya, satu tangan mengarahkan alat sedang tangan lainnya sesekali merapikan helaian rambut yang masih basah. Gerakannya tidak terburu-buru tapi justru terlalu hati-hati untuk seseorang yang biasanya kaku.
Laya terdiam. Awalnya canggung karena seumur hidup tidak pernah ada pria yang melalukannya tapi sekarang, ada rasa hangat yang juga menyelusup di hatinya.
Pria kaku ini, terlalu banyak meninggalkan kesan.
“Taram .…”
“Hm?”
“Kamu sering seperti ini?”
Taram tidak langsung menjawab. Tangannya tetap sibuk mengeringkan ujung rambut Laya. “Seperti apa?” tanyanya kemudian.
“Mengurus orang.”
Taram mendengus pelan. Mana ada pewaris utama perusahaan investasi raksasa Mataram Company mengurus orang? Yang ada, puluhan pelayan lah yang mengurusnya.
Laya sedikit menoleh, tapi tangan Taram Refleks mendorong pipi Laya hingga Laya kembali menghadap ke depan.
“Jangan gerak, nanti kena panas.”
“Tapi kamu kelihatan … terbiasa.” Laya masih tak menyerah. “apa di rumah majikan yang sebelumnya kamu diberi tugas seperti ini juga? Atau ... kamu biasa mengurus kekasihmu?”
Taram lagi-lagi mendengus. “Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita.”
“Kalau begitu tebakan yang pertama benar?” sungguh Laya ingin melihat ekspresi Taram sekarang tapi pria itu tetap menahan agar dia tidak bergerak. Dan ia pun tahu jika hidup pria kaku itu benar-benar tidak mudah. “setelah ini jangan bekerja sebagai pengawal pribadi lagi. Lebih baik jadi satpam perusahaan atau instansi dan aku pastikan pekerjaanmu lebih layak dari sebelumnya. Aku janji.”
Kalimat Laya ini, lagi-lagi membuat Taram diam di tempat.
Seperti sebelumnya ia tak punya jawaban, pun tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
**
Pintu kamar baru saja tertutup setelah Taram keluar beberapa menit yang lalu. Hendak menyusul Taram untuk sarapan pagi bersama, ponsel Laya yang tergeletak di atas meja justru berdering.
Laya segera meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera, cepat-cepat Laya mengangkat panggilan.
“Iya, Bi? Ada apa?” Laya mendadak khawatir karena jika bi Rika sudah menghubungi, berarti ada sesuatu yang terjadi. Apalagi suara perempuan itu terdengar tergesa.
“Nona Laya maaf mengganggu pagi-pagi, tapi saya dengar kabar penting.”
Laya mengernyit. “Kabar apa?”
“Ada yang bilang tuan Jodi Diningrat sudah pulang.”
Hening.
Seolah waktu berhenti sesaat ketika Jari Laya sedikit mengeras—mencengkeram ponselnya yang baru dibeli. “Pulang?” ulangnya pelan tanpa sadar napasnya juga tertahan.
“Iya, Nona. Katanya baru tadi malam. Saya juga belum tahu pasti tapi kabarnya sudah beredar.”
Laya tidak langsung menjawab.
Di kepalanya, berbagai pertanyaan yang sebelumnya sudah dia kubur dalam-dalam kembali ke permukaan.
Kenapa baru sekarang? Kenapa baru datang setelah semua berantakan?
Ada dorongan kuat di dadanya. Dorongan untuk mencari tahu, untuk menuntut jawaban, dan setidaknya menuntut alasan kenapa Jodi meninggalkannya begitu saja.
Namun belum sampai Laya beranjak, suara Taram kemarin mulai memenuhi kepala. Begitu saja membuat dorongan tadi tertahan dan mengembalikan akal sehat Laya yang sempat terhempas.
“Bi,” suara Laya kembali stabil meski lebih pelan dan terdengar pedih, “terima kasih sudah memberitahu tapi sekarang sudah tidak penting lagi.”
Bi Rika terdiam dan Laya jelas tahu apa yang wanita setengah baya itu pikirkan. “Pria berengsek itu … bukan urusan saya lagi. Hubungan kami sudah berakhir sejak dia meninggalkan saya di hari pernikahan.”
Hening sebentar, sampai akhirnya bi Rika menjawab, “Baik, Nona. Saya turut senang mendengarnya.”
“Sekali lagi terima kasih, Bi.”
“Sama-sama, Nona dan tetap jaga diri.”
Panggilan itu ditutup dan Laya pun menurunkan ponselnya perlahan.
Tatapannya kosong beberapa detik.
Jodi sudah pulang.
Kalimat itu masih menggema di kepalanya meski kali ini rasanya berbeda.
Bukan lagi luka yang langsung menusuk. Bukan juga kecewa yang membuatnya teramat kalut. Hanya seperti, sisa perih yang belum sepenuhnya hilang.
Laya memejamkan mata sejenak lalu menghembuskan napas pelan. “Ya, memang bukan urusanku lagi dan aku tidak akan merendahkan harga diri.”
“Laya?”
Pintu kamar terbuka dan refleks Laya menyimpan ponselnya di atas ranjang. Menarik perhatian tatapan tajam Taram yang saat itu tentu melihat.
“Ada apa?” perubahan raut wajah Laya membuat curiga dan Taram tidak bisa menahan rasa penasaran.
Laya beranjak kemudian tersenyum lebar. Berusaha menutupi kemelut yang terjadi barusan. “Tidak ada apa-apa. Semua baik.”
Taram tidak langsung percaya. Ia melangkah mendekat lalu menatap Laya lebih dalam. “Siapa yang kamu hubungi?”
“Ratih,” jawab Laya cepat. “Ratih mengajak keluar.”
Taram masih diam. Tatapannya belum lepas hingga membuat Laya menahan napas. Berurusan dengan si kaku satu ini memang membuatnya tidak bisa mengendalikan situasi seperti biasa, padahal dia direktur perusahaan yang menghendel banyak karyawan tapi menghendel manusia satu ini dia malah tidak bisa.
“Kenapa memangnya?” tanya Laya sedikit menantang. Sebentar mengerling mata nakal. “apa kamu—“
Taram memutar badan. Wanita satu ini mulai bertingkah dan entah kenapa dia malah suka. “Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya tidak mau kamu menyusahkanku lagi kalau Ratih sampai mengajak kamu melakukan hal bodoh lain.”
Laya tertawa pelan. Dengan berani dia memutar tubuh tegap Taram kemudian mendorongnya keluar dari kamar. “Kamu tenang aja,” katanya ringan. “aku akan menjadi teman yang baik mulai sekarang.”
Laya mendorong tubuh Taram sampai duduk di kursinya dan untuk pertama kalinya, ia menatap pria itu dengan tatapan berbeda.
Jodi bukan lagi sesuatu yang ingin ia kejar.
Bukan lagi sesuatu yang perlu ia jelaskan.
Dan tentu, bukan sesuatu yang perlu ia bagi dengan Taram.