Bab 5 -Tidak Asing Lagi

1344 Kata
Cahaya layar ponsel menerangi wajah Laya yang pucat. Sudah entah berapa kali ia menatap nama yang sama, nomor yang sama, dan hasil yang sama—tidak ada jawaban. Ia menekan tombol panggil sekali lagi. Hening. Lalu suara operator yang dingin dan tak berperasaan kembali terdengar, menyatakan bahwa nomor yang dituju tidak aktif. Laya menurunkan ponselnya perlahan. Rahangnya mengeras, matanya menatap kosong ke depan. Ada sesuatu yang menggumpal di dadanya—bukan hanya sedih, tapi juga marah. “Kenapa harus seperti ini Jodi?” gumamnya pelan. Bukan perpisahan yang membuatnya seperti ini tapi cara Jodi pergi—tanpa kata, tanpa alasan, seolah semua yang pernah mereka jalani tidak berarti apa-apa lah yang membuatnya begitu terluka. Dengan napas berat, Laya kembali mengangkat ponsel dan mencari nama lain. Ratih. Panggilan itu tersambung lebih cepat. “Lay?” suara Ratih terdengar dari seberang. “Kamu baik-baik saja ‘kan?” Laya tidak langsung menjawab. Ia menelan sesuatu di tenggorokannya sebelum akhirnya berkata, “Aku baik-baik saja dan apakah kamu sudah bisa menghubungi Jodi?” “Tetap tidak bisa. Nomor si k*****t itu mati.” Laya memejamkan mata sesaat. Meski sudah tahu jawabannya, tetap saja mendengarnya dari orang lain terasa berbeda. “Aku juga ke rumahnya tadi pagi,” lanjut Ratih. “masih kosong seperti kemarin. Kata satpam yang aku temui sih, keluarga Jodi ke luar negeri.” Kosong. Kata itu memang terus menggema di kepala Laya. “Jodi itu jahat sekali,” bisik Laya hampir tak terdengar. “aku sudah menyia-nyiakan waktu 2 tahunku dengan orang yang salah dan sekarang, aku mengorbankan masa depan seseorang.” “Laya ...,” suara Ratih melembut, penuh kekhawatiran. Dia tahu semuanya dan pria yang menjadi suami Laya sampai harus menanggung beban juga. “mungkin ini yang terbaik untuk kamu. Bukankah lebih baik ketahuan sekarang sifat buruknya dari pada sudah jadi suami?” Laya tidak menjawab namun dia membenarkan kata-kata Ratih barusan. “Sekarang jangan buang-buang waktu dengan memikirkan pria b******n itu lagi. Cukup pikirkan bagaimana kamu menyelesaikan masalahmu kali ini.” Percakapan itu berakhir. Sunyi kembali memeluk ruangan hingga suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Laya menoleh. Menemukan Taram berdiri di sana, masih dengan sikapnya yang tenang dan kaku seperti biasa. “Ada apa?” tanya Laya singkat. Sedikit kikuk saat tatapan yang terkadang lembut dan terkadang tajam itu memperhatikannya, “Masih mencoba menghubungi dia?” Laya terdiam. Cukup terkejut karena pria itu berani menanyakan hal ini. “Kamu masih berharap dia kembali?” kali ini suara Taram lebih rendah dari pada tadi. Pria itu melangkah mendekat—seperti ada kilatan emosi di matanya sebelum Taram menggumam, “katamu kita tidak terikat pekerjaan pengawal dan majikan lagi, jadi apakah salah jika aku bertanya perihal masalah ini?” Laya masih mencoba berpikir. Kalimat Taram sedikit ambigu—tidak jelas karena di antara dirinya dan Taram tidak hanya ikatan pekerjaan tetapi suami istri juga. Ah bukankah dia sudah menjelaskan jika hubungan ini sekedar di atas kertas, kenapa harus berpikir jauh? “Berharap?” Laya mengulang kata yang diucapkan Taram lalu tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip luka. “Mana mungkin aku menaruh harapan pada orang yang sudah meninggalkanku, tega mempermalukanku di depan banyak orang juga.” Taram tidak menyela. Ia hanya menatap, menunggu. “Aku cuma ingin tahu alasannya,” lanjut Laya, suaranya kini lebih tegas meski masih menyimpan getar. “bagiku ini sangat tidak masuk akal. Dia pergi begitu saja padahal pernikahan ini bukan perjodohan. Kami sudah menjalin hubungan cukup lama. 2 tahun dan semuanya baik-baik saja.” Tangan Laya mengepal pelan di pangkuan. “Kalau memang dia tidak mau menikah, harusnya jujur saja sedari awal. Aku bukan orang yang akan memaksa.” Taram menghela napas pelan. Ada sesuatu di matanya—seperti memahami, tetapi juga menyimpan sesuatu yang tidak ingin dia katakan. Dia tidak mungkin terlalu banyak menaruh simpati. Tiba-tiba Laya beranjak. Seolah ingin mengalihkan pembicaraan wanita itu berjalan ke meja kecil di dekat jendela lalu mengambil sebuah tube kecil di sana. “Ini,” katanya sambil menyerahkan benda itu pada Taram. Taram menerimanya, mengernyit sedikit. “Salep?” Laya mengangguk. “Untuk luka di punggungmu. Aku lihat masih belum kering.” Taram terdiam sejenak, menatap benda itu, lalu kembali ke Laya. Ada sedikit perubahan di wajahnya—halus, tapi terasa. Baru kali ini ada seseorang yang tulus memberinya perhatian tanpa karena atau imbalan. “Kapan kamu melihatnya?” Laya mengulum bibir sebentar. Sedikit ragu tapi dia harus menjawab agar Taram tidak berpikir macam-macam. “Tadi pagi saat kamu ganti baju, maaf tidak sengaja.” Taram hampir tersenyum tapi ditahannya. Ini benar-benar perasaan asing yang menyusup begitu saja. “Terima kasih.” “Kalau aku bantu obati bagaimana?” Sebuah pertanyaan konyol meluncur tetapi Laya sadar diri bahwa Taram tidak bisa mengobati lukanya sendiri. “ini tanggung jawabku juga dan kamu pun tidak bisa melakukannya tanpa bantuan.” “Baik jika kamu tidak keberatan.” Taram bersiap membuka baju tapi lagi-lagi dia memastikan kata-kata putri sulung majikannya itu, “Kamu serius, Lay?” “Iya kenapa tidak? Kamu belum mengobatinya ‘kan? Kalau dibiarkan nanti infeksi, bagaimana?” dengan gerakan dagu, Laya pun menunjuk bagian punggung. “buka.” Taram mengangkat alis, seolah mempertimbangkan. Namun tanpa banyak protes, ia akhirnya menarik kaus yang menutupi tubuh bagian atasnya dan saat itulah Laya terdiam. Matanya sedikit membesar tanpa bisa ia kendalikan. Tubuh Taram… jauh dari bayangannya. Bukan sekadar kuat, tapi juga terbentuk jelas. Bahu lebar, punggung kokoh dengan otot-otot yang tampak tegas dan bekas cambuk memanjang di sana justru membuat tubuh itu terlihat semakin keras. Untuk beberapa detik, Laya lupa harus berbuat apa. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh seorang pria dan tanpa sadar menelan ludah. Taram yang merasakan keheningan itu perlahan menoleh. Tatapannya langsung menangkap ekspresi Laya—kaku, gugup, dan … jelas sekali sedang berusaha bersikap biasa. Sudut bibir Taram terangkat tipis. “Kenapa?” tanyanya dengan nada suara sedikit lebih ringan. “baru pertama kali melihat pria bertelanjang d**a?” Laya langsung tersentak, wajahnya memanas seketika. “Tidak juga,” balasnya cepat, sedikit ketus untuk menutupi kegugupannya sedang Taram malah diam-diam mengulas tawa. Dia tahu gadis itu sedang mengelak. Laya mendekat lagi, kali ini dengan gerakan yang sedikit lebih kaku. Ia membuka tutup salep, berusaha fokus pada tugasnya. “Jangan bergerak,” katanya berusaha terdengar tegas. “Baik, Nona,” jawab Taram santai. Laya mengernyit mendengar panggilan itu lagi tetapi ia tidak membalas. Ia mulai mengoleskan salep ke luka di punggung Taram dengan hati-hati. Sentuhan pertama membuat Taram sedikit menegang. “Perih?” tanya Laya refleks. “Sedikit,” jawabnya tapi nadanya terdengar lebih santai dari yang seharusnya. Laya menghela napas pelan, lalu melanjutkan dengan lebih lembut. Jemarinya bergerak perlahan, berhati-hati agar tidak menyakiti namun justru kedekatan itu yang membuat suasana berubah. Jarak mereka terlalu dekat. Laya bisa merasakan hangat tubuh Taram, bahkan aroma samar yang asing tetapi sama sekali tidak mengganggu. Ia mencoba fokus pada luka itu, tapi pikirannya mulai berantakan dengan sendirinya. Taram sesekali melirik ke arah Laya, memperhatikan setiap perubahan kecil di wajah wanita itu. “Kamu gugup,” ucapnya tiba-tiba. Laya langsung berhenti sejenak. “Tidak.” “Kamu lama sekali mengoleskan salep,” lanjut Taram santai. “Aku hati-hati.” “Atau … kamu memang tidak terbiasa sedekat ini dengan pria?” Laya langsung menekan salep sedikit lebih keras tanpa sengaja. Taram mendesis pelan. “Itu bukan hati-hati.” Laya menarik tangannya cepat. “Salahmu sendiri banyak bicara.” Dan Taram malah tersenyum tipis, jelas tidak keberatan. Laya pun melanjutkan dengan lebih fokus. Kali ini tanpa banyak bicara. Perlahan membuat suasana menjadi lebih tenang. Namun sesuatu telah berubah. Di antara keheningan itu… ada rasa canggung yang berbeda. Bukan tidak nyaman—justru terlalu sadar akan keberadaan satu sama lain. Setelah selesai, Laya menarik tangannya. “Sudah,” katanya singkat. Taram berdiri perlahan, mengambil kembali kaosnya, tapi sebelum benar-benar menutup diri, ia menoleh pada Laya. “Terima kasih.” Laya hanya mengangguk, berusaha kembali terlihat biasa. Namun saat Taram berbalik, sudut bibirnya kembali terangkat tipis. Seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang menarik. Bahwa Taram dan dirinya tidak lagi asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN