Satu bulan telah berlalu sejak Arya pergi ke Singapura dan sampai saat ini kami tidak pernah berkomunikasi lagi, bahkan ia juga tidak pernah menghubungi Arsen hanya untuk sekedar menanyakan kabar. Namun meskipun begitu aku tetap melanjutkan hidupku dan menjalani rumah tanggaku dengan Arsen, walaupun terkadang aku masih memikirkan Arya. Ya, memang tidak mudah menghapus nama pria itu dari hatiku. Lagipula, kami pernah begitu dekat sehingga sulit bagiku untuk melupakan dirinya. "Ngomong-ngomong, kemarin aku ngeliat statusnya pak Arya" Elina berkata dan aku menoleh ke arahnya. "Status?" aku mengerutkan dahi dan refleks bertanya, karena aku penasaran status apa yang dimaksud oleh rekan kerjaku itu. "Status apa?" "w******p" jawab Elina sambil menatap semangkuk mie ayam miliknya. "Oh, iya, ak

