Perlahan, aku membuka mata, namun bibirku langsung melengkung membentuk sebuah senyuman, saat melihat-Arsen yang berada di sebelahku dengan kedua mata yang terpejam. "Selamat pagi Arsen" ucapku dengan suara yang sengaja aku pelankan, agar tidak mengganggu tidurnya. Lalu aku terdiam, memandangi wajah tenangnya tanpa berkata apa-apa lagi. Namun jika boleh jujur, aku merasa begitu senang, sebab disaat aku membuka mata, wajahnya lah yang pertama kali kulihat, dan ingin rasanya, untuk seterusnya selalu seperti ini, tapi itu berarti-aku harus menikah dengannya. "Nah, itu lah mantan loe yang sampai saat ini masih loe gamonin. Loe yakin, mau kembali sama dia? Emangnya loe udah siap, diposesifin, dan terus dicemburuin? Belum nikah aja udah posesif banget, gimana kalau nanti udah jadi suami? Engga

