Pagi itu, hujan turun deras, menyelimuti seluruh rumah dengan suasana sepi dan tenang. Delima duduk di samping tempat tidur Nando, sambil mengaduk secangkir teh perlahan. Di luar, suara rintik hujan terus berjatuhan tanpa henti. Namun di dalam rumah itu, waktu terasa berjalan lebih lambat—penuh ketenangan dan diam yang menenangkan. Nando perlahan membuka mata. Tubuhnya masih terasa sakit karena lukanya belum benar-benar sembuh. Pandangannya bertemu dengan mata Delima. Untuk beberapa detik, keduanya terdiam, saling menatap tanpa kata. “Pagi…” suara Nando serak, pelan tapi hangat. Delima menatapnya balik, mencari sesuatu di balik tatapan itu. Ada yang berbeda pagi ini. Nando terlihat lebih tenang dari biasanya. Meski wajahnya masih tampak lemah, tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan—se

