Dia yang Terluka

1020 Kata
Suasana rumah yang biasanya penuh dengan hiruk-pikuk geng Nando kini terasa sunyi. Delima duduk di samping tempat tidur Nando yang terbaring lemah. Wajahnya terlihat pucat, dengan luka-luka yang masih memar dan darah yang belum sepenuhnya berhenti mengalir dari tubuhnya. Selama beberapa jam terakhir, Delima tidak henti-hentinya merawat Nando. Gadis itu membersihkan luka-lukanya, memberi obat, dan memastikan suaminya tetap sadar. Serangan mendadak yang terjadi tadi sore datang dengan cepat dan tidak terduga. Geng lain mencoba menyerbu markas mereka, membuat kerusuhan dan kekacauan. Dalam kekalutan itu, Nando yang berusaha melindungi anak buahnya malah terluka parah. Walaupun takut, Delima tetap mencemaskan Nando. Dia tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini. Merawat lelaki menyeramkan yang kini menjadi suaminya. "Sudah selesai." Delima berkata lembut sambil mengelap darah yang masih menetes di dahi suaminya. "Kamu harus bertahan. Jangan pergi... aku masih membutuhkanmu." Nando hanya terkulai lemah. Tatapan matanya terpejam rapat-rapat. Delima menggenggam tangan Nando, berusaha memberikan kekuatan. Meski hatinya dipenuhi dengan kecemasan. Tiba-tiba, Nando menggerakkan bibir, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Delima mendekatkan wajahnya, berharap bisa menangkap kata-kata yang mungkin keluar dari bibir lelaki itu. "Delima Maharani..." Nama itu terdengar begitu lembut, dipanggil dengan penuh kasih. Delima terkejut. Ia menatap wajah Nando yang masih tampak pucat. Namun ada ketulusan dalam suaranya yang membuat hati gadis itu bergetar. "Kenapa... kamu menyebut nama aku?" Delima bertanya, tak bisa menyembunyikan kebingungannya. Nando membuka matanya perlahan. Tatapannya masih agak kabur. Namun ketika ia melihat Delima ada di samping, ekspresinya seketika berubah. Ada kehangatan yang tidak bisa Nando sembunyikan. Meskipun ia terbaring lemah. "Aku... hanya ingin memastikan kamu di sini," kata Nando pelan. "Kamu... tidak akan meninggalkanku, kan?" Delima merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya. Gadis itu ingin mengatakan bahwa ia tidak mungkin meninggalkan Nando. Namun kata-kata itu terasa begitu berat untuk diungkapkan. Dalam hati, Delima merasa perasaan itu bukan hanya sekadar rasa tanggung jawab sebagai istri, tetapi ada yang lebih dari itu. "Jangan bicara seperti itu." Delima mengusap pipi Nando dengan lembut. "Aku di sini. Kamu harus sembuh." Nando tersenyum tipis, meskipun ia tampak kelelahan. "Aku tahu. Aku... merasa tenang kalau kamu ada di sini." Delima merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Kata-kata Nando terasa begitu dalam, seolah ia bisa merasakan perasaan yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan. Tanpa sadar, Delima mulai merasakan hal yang sama. Perasaan yang datang begitu cepat, begitu tulus. Nando bukan hanya seorang pemimpin geng yang keras. Ia adalah seseorang yang sangat berarti baginya. Nando mencoba untuk duduk, tetapi tubuhnya terasa sangat lemah. Delima segera membantu, menyangga tubuhnya dengan hati-hati. "Kamu harus istirahat. Jangan paksa dirimu terlalu keras." Nando menatapnya intens, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih. "Delima... aku ingin berterima kasih. Selama ini aku tidak pernah menyangka kamu akan peduli sebanyak ini. Kamu begitu... berbeda." Delima merasa terharu. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hatinya begitu penuh, begitu bergejolak dengan perasaan yang selama ini ia coba sembunyikan. "Kamu tidak perlu berterima kasih," jawabnya perlahan. "Ini... karena aku peduli padamu." Kata-kata itu keluar begitu tulus, dan untuk pertama kalinya, Delima merasa tidak ada yang perlu ia sembunyikan. Ia menyadari, perasaannya terhadap Nando bukan sekadar rasa simpati atau tanggung jawab. Nando menatap Delima dengan mata yang lebih dalam, seolah mengerti tanpa perlu diucapkan. Mereka saling terdiam dalam keheningan. Namun di antara keduanya, ada koneksi yang begitu kuat dan begitu intim. Nando akhirnya meraih wajah Delima dengan tangan yang lemah tetapi pasti. Dan tanpa peringatan, ia menyentuh bibir istrinya dengan lembut dan penuh kehangatan. "Delima, aku... tidak tahu bagaimana menjelaskan semua. Aku hanya tahu, aku merasa tenang kalau ada kamu di sini. Aku tidak ingin kehilangan kamu." Delima mengangguk pelan, merasakan air mata yang mulai menggenang. "Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini, di sampingmu." Nando tersenyum, meskipun wajahnya masih tampak lemah. "Terima kasih, Delima. Terima kasih." *** Nando terbaring dengan selimut setengah menutupi tubuhnya. Delima, yang sudah selesai membereskan kotak P3K, berdiri ragu di sudut ruangan. Ia ingin kembali ke kamarnya untuk beristirahat setelah hari yang melelahkan. Namun, suara berat Nando menghentikan langkahnya. "Delima, tunggu," panggil Nando dengan suara serak. Delima menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat. "Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" Nando menatapnya dengan mata penuh harap. "Jangan pergi. Aku... aku tidak mau sendirian malam ini." Delima terdiam sejenak, mencoba mencerna permintaan itu. "Aku cuma ke kamar. Kalau kamu butuh sesuatu, aku bisa langsung ke sini." Nando menggeleng pelan. "Aku butuh kamu di sini. Temani aku... tolong." Permintaan itu membuat Delima bingung. Hatinya melembut, tetapi ada sedikit canggung yang menyelimuti pikirannya. "Aku... tidak yakin ini ide bagus." "Aku cuma mau kamu di sini. Aku janji tidak akan macam-macam," kata Nando, suaranya terdengar jujur dan penuh kerinduan. "Aku cuma mau kamu di sebelahku." Setelah beberapa saat, Delima akhirnya mengangguk. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi sofa. Nando menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang untuk Delima. Dengan canggung, Delima berbaring di sampingnya, tubuhnya kaku seperti papan. "Kamu nyaman?" tanya Nando sambil meliriknya. Delima mengangguk kecil. "Aku... ya, aku nyaman." Padahal, jantungnya berdegup kencang, merasa aneh berbaring sedekat ini dengan suaminya yang sebelumnya terasa begitu jauh. Tanpa berkata apa-apa lagi, Nando tiba-tiba meraih tubuh Delima dan memeluknya erat. "Maaf, Delima. Aku tahu aku sering nyakitin kamu," bisiknya sebelum akhirnya terdiam. Delima membeku di pelukannya, tetapi ia bisa merasakan ketulusan dalam cara Nando menahannya. "Istirahatlah, Nando. Kamu butuh tidur," katanya pelan, mencoba tetap tenang. Tidak butuh waktu lama, napas Nando mulai melambat, tanda bahwa ia telah tertidur. Delima tetap terjaga, memperhatikan wajah suaminya yang terlihat damai dalam tidurnya. Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya, campuran antara lega, sayang, dan sedikit ragu. Setelah beberapa saat, Delima perlahan menggeser tubuhnya, mencoba melepaskan pelukan Nando tanpa membangunkannya. Namun, saat ia hendak berdiri, Nando tiba-tiba mengigau. "Delima... jangan pergi," gumamnya pelan, tangannya bergerak seolah mencoba mencarinya. Hati Delima mencelos mendengar igauan itu. Ia menggigit bibirnya, merasa tak tega meninggalkan suaminya. Perlahan, ia kembali berbaring di sebelah Nando, membiarkan tangan pria itu melingkar di pinggangnya. "Baiklah," bisik Delima pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku akan tetap di sini." Ia memejamkan mata, mencoba mengabaikan perasaan campur aduk di dalam dirinya. Napas hangat Nando di dekatnya membuatnya merasa aneh, tetapi sekaligus nyaman. Dalam diam, ia akhirnya tertidur, tubuhnya tetap berada dalam pelukan Nando.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN