Bab 37 | Dibalik Sebuah Undangan

1906 Kata

Giska menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah yang muram, dia baru saja selesai dirias oleh Sani. Helaan napasnya terdengar panjang, ada kilat amarah yang menyalang-nyalang dalam tatapan matanya. "Sudah selesai, Nyonya. Anda terlihat sangat cantik." Bisik Sani mengulum senyumnya dengan raut yang mengagumi kecantikan Giska. "Tutup mulut kamu. Keluar sekarang!" Ucap Giska membuat senyum di wajah Sani langsung luntur, dia mengangguk kaku lalu keluar dari kamar majikannya itu. Giska menggeram dengan amarah yang tertahan, marah pada dirinya sendiri dan marah pada keadaan. Dia mengalami demam selama hampir tiga hari, bahkan rencana staycation yang sudah ditawarkan Juna juga harus batal karena sampai kemarin keadaannya tidak membaik. Di hari kedua, demamnya justru lebih tinggi,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN