10 | Aku mau, Wening!

1458 Kata
Pijar lampu neon di ruang kerja Wening terasa menusuk mata. Di atas meja jati yang permukaannya mulai kusam, tumpukan map merah berisi laporan utang dan surat peringatan dari bank berserakan seperti reruntuhan benteng yang siap runtuh kapan saja. Wening memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Ia belum tidur dengan benar sejak kejadian di kontrakan Banyu semalam. Bayangan ciuman Banyu dan aroma hujan masih membekas, tapi realita di depan matanya jauh lebih pahit daripada sekadar rindu yang tak sampai. Pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Suara gemerincing aksesori dan langkah kaki yang berirama angkuh masuk begitu saja. Aditi, adik tirinya, melangkah masuk dengan gaun musim panas yang tampak mahal, wajahnya dipoles riasan sempurna seolah-olah dunia di luar sana baik-baik saja. "Mbak Wen, sibuk banget sih?" tanya Aditi tanpa dosa. Ia langsung mendaratkan bokongnya di kursi empuk di depan meja kerja Wening. Wening menghela napas panjang, mencoba menahan emosi yang sudah di ubuk tanduk. "Ada apa, Dit? Aku lagi banyak kerjaan,” kata Wening. Aditi mengerucutkan bibirnya, lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar tas kulit berwarna beige dari merk ternama. "Mbak, lihat deh. Ini limited edition. Temen-temenku udah pada punya. Aku kurang lima puluh juta lagi buat nebus ini. Bisa ya, Mbak? Pakai kas kantor dulu atau apa gitu,” katanya enteng. Wening sontak mendongak. Matanya menatap Aditi dengan tatapan tak percaya yang bercampur dengan rasa muak. "Lima puluh juta? Dit, kamu sadar nggak sih perusahaan kita lagi di posisi mana? Buat bayar listrik pabrik bulan depan aja aku masih muter otak, dan kamu datang minta uang buat tas?" Aditi memutar bola matanya, dengan tanpa dosa menyandarkan punggung dengan gaya bosan ke kursi. "Duh, Mbak ... jangan dramatis, deh. Masalah keuangan itu, kan, sebenernya ada solusinya, tapi Mbak sendiri yang bikin susah. Mas Barata itu udah kayak keran duit yang siap dibuka kapan aja. Tinggal Mbak bilang 'iya', semua masalah ini bakal beres dalam semalam. Tas aku kebeli, utang Mbak lunas, Papa sama Mama juga tenang." "Pernikahan bukan transaksi, Aditi!" Suara Wening meninggi, tangannya gemetar menahan amarah. "Halah, sok idealis! Dari dulu Mbak itu keras kepala banget. Disuruh nikah sama pilihan Papa lima tahun lalu malah kabur, eh pulangnya malah nambah beban bawa bocah. Si Bumi itu ... untung sekarang udah ada bapaknya yang urus. Jadi Mbak bisa bebas sekarang. Udah, nikah aja sama Mas Barata. Dia ganteng, kaya, dan yang paling penting dia mau nerima Mbak yang udah punya anak. Kurang apa lagi?" balas Aditi tanpa rasa berdosa sama sekali. Wening merasa jantungnya seperti diremas. Kalimat Aditi yang menganggap kehadiran Bumi sebagai beban benar-benar menyulut api di dadanya. Bumi adalah satu-satunya alasan mengapa Wening masih sanggup berdiri hingga detik ini, tapi di mata adik tirinya, anak itu hanyalah sebuah kesalahan yang menghambat bisnis keluarga. "Jaga mulut kamu, Dit," desis Wening dengan suara rendah yang sangat berbahaya. "Bumi bukan beban. Dia anakku. Dan aku bukan barang dagangan yang bisa kamu tawarkan ke Barata cuma supaya kamu bisa beli tas branded,” imbuhnya. Aditi berdiri, wajahnya menunjukkan rasa kesal yang sama besarnya pada sang kakak. "Mbak Wen itu bener-bener egois, ya? Mikirin perasaan sendiri terus. Kalau perusahaan ini bangkrut, kita semua yang kena! Papa bisa serangan jantung kalau tahu asetnya disita. Mbak mau itu terjadi? Cuma karena Mbak masih berharap sama montir dekil itu?" "Keluar." "Mbak!" "KELUAR!" teriak Wening sambil menunjuk pintu dengan jari gemetar. "Jangan pernah datang ke ruanganku lagi kalau cuma mau bahas Barata atau minta uang. Keluar sekarang sebelum aku panggil satpam!" Aditi mendengkus kasar. Ia menyambar tas kecilnya dan melangkah pergi sambil menghentakkan kaki. "Terserah! Lihat aja nanti kalau Mbak beneran jadi gembel sama si Banyu itu, jangan nangis-nangis ke aku ya!" Pintu tertutup dengan bantingan keras. Wening ambruk di kursinya, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Isakan kecil lolos dari bibirnya. Ia merasa sangat sendirian di tengah lautan masalah ini. Keluarganya sendiri justru menjadi orang pertama yang mendorongnya ke dalam jurang bernama Barata. Belum sempat ia menenangkan diri, ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan, tapi terasa lebih menekan. Seorang staf keuangan masuk dengan wajah yang pucat pasi dan kening yang berkeringat dingin. "Bu Wening ... maaf mengganggu," ujar staf itu dengan suara bergetar. "Ada apa lagi, Pak?" tanya Wening, mencoba menghapus sisa air mata di sudut matanya dengan cepat. "Di bawah, Bu ... perwakilan serikat karyawan sudah berkumpul di lobi. Mereka mendengar desas-desus kalau gaji bulan ini akan terlambat lagi. Mereka menuntut kejelasan sekarang juga, Bu. Beberapa dari mereka sudah mulai mogok kerja di area produksi,” jelasnya. Wening memejamkan mata erat-erat. Serasa ada batu besar yang menghantam kepalanya. Di satu sisi, ia dihimpit oleh tuntutan keluarga yang tak punya hati, dan di sisi lain, ia memikul beban hidup ratusan kepala keluarga yang bergantung pada tanda tangannya. Dunia seolah sedang berusaha meremukkan Wening hingga ia tak punya pilihan selain menyerah pada Barata. Di tengah keputusasaan itu, wajah Banyu tiba-tiba muncul di benaknya. Tatapan mata pria itu semalam yang begitu dalam, pelukannya yang hangat ... Wening merindukannya. Ia sangat merindukannya. Namun, justru karena rindu itulah, Wening semakin kuat untuk tidak melibatkan Banyu. Ia tak ingin Banyu melihat kehancurannya. Wening bangkit dari kursi, merapikan blazer-nya dengan gerakan mekanis. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang ia miliki. "Baik, Pak. Saya akan temui mereka di lobi. Tolong siapkan data arus kas terakhir, saya akan bicara jujur pada mereka,” katanya. Ia melangkah keluar ruangan, merasa seolah sedang berjalan menuju medan eksekusi. Di kepalanya hanya ada satu doa. Semoga Tuhan memberinya jalan selain harus menjual jiwanya pada pria seperti Barata. *** Wening berdiri di depan gerbang kayu kontrakan Banyu, tangannya gemetar memegang gagang payung hitam yang melindunginya dari basah. Ia menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya yang sesak. Sejujurnya, ia malu. Kejadian semalam, momen keintiman yang ia putus paksa dengan kebohongan demi kebohongan membuatnya merasa seperti pengecut. Namun, rindu pada Bumi dan mungkin pada pemilik kontrakan ini ternyata jauh lebih kuat daripada rasa malunya. Wening melangkah perlahan, suara langkah kakinya teredam oleh deru hujan. Begitu sampai di depan pintu, ia ragu untuk mengetuk. Namun, sebelum tangannya terangkat, pintu kayu itu sudah terbuka lebih dulu. Banyu berdiri di sana. Tidak ada guratan amarah atau sikap dingin yang Wening takutkan. Sebaliknya, pria itu menatapnya dengan sorot mata yang jauh lebih hangat. "Masuk, Wen," ujar Banyu lembut, tanpa ada nada sinis sedikit pun. Ia mengambil alih payung dari tangan Wening, menutupnya, dan mempersilakan wanita itu masuk ke dalam kehangatan ruangannya yang sempit namun menenangkan. Di atas ambal, Bumi sedang tengkurap dengan buku gambar dan beberapa krayon yang berserakan. Bocah itu mendongak, matanya berbinar seketika. "Mama!" seru Bumi riang. Ia tidak langsung menghambur memeluk, tangannya menunjuk ke arah buku gambarnya. "Lihat, Ma! Bumi lagi diajarin Papa gambar mobil balap yang bisa terbang!" Wening terpaku di ambang ruang tengah. Pemandangan itu begitu kontras dengan kekacauan yang baru saja ia alami di kantor. Di sini, di ruangan yang hanya beralaskan ambal tipis ini, segala tuntutan karyawan, ocehan Aditi, dan ancaman Barata seolah lenyap tertutup oleh tawa polos Bumi dan kehadiran Banyu yang begitu tenang. Banyu berjalan ke dapur kecilnya, lalu kembali dengan segelas teh manis hangat yang uapnya masih mengepul. Ia meletakkannya di dekat Wening yang kini duduk bersimpuh di samping Bumi. "Minum dulu," kata Banyu pelan. Ia ikut duduk, tapi kali ini ia tidak menjaga jarak. Bahunya nyaris bersentuhan dengan bahu Wening. Wening menyesap teh itu, merasakan kehangatannya mengalir ke kerongkongannya. Ia melirik Banyu dari sudut mata. Ada sesuatu yang berbeda dari pria ini malam ini. Tatapan Banyu tidak lagi menghakimi dan menuntut. Ada empati yang begitu dalam, seolah pria itu sudah tahu beban berat apa yang sedang Wening pikul di pundaknya. "Ma, tadi Papa bilang, besok Bumi boleh ikut Papa ke bengkel lagi," celoteh Bumi sambil terus menggoreskan krayon merahnya. "Tapi kata Papa, Mama juga harus ikut biar kita bisa makan es krim bareng." Wening tersenyum getir, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah Banyu, suaranya nyaris hilang. "Nyu, aku–" Banyu meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Wening, memberikan remasan lembut yang sangat menguatkan. "Nggak usah nolak dengan penjelasan panjang lebar. Malam ini, cukup jadi Mama-nya Bumi aja. Lupain yang terjadi di luar sana,” kata Banyu. Wening tertegun. Bagaimana Banyu bisa tahu? Bagaimana pria yang ia anggap hanya seorang montir ini bisa memberikan ketenangan yang bahkan tidak bisa diberikan oleh keluarganya sendiri? Namun, Wening tak mau terlihat lengah. Ia melepaskan genggaman tangan Banyu dan berdeham pelan. “Sebaiknya kita nggak terlihat terlalu akrab, Nyu. Aku nggak mau–” Cup! Wening terhenyak. Satu kecupan mendarat di sudut bibirnya tanpa aba-aba. Sontak ia menoleh ke arah Banyu yang kini menatapnya tanpa berdosa. “Tapi aku mau,” sahut Banyu cepat. Wening hanya bisa mematung. Sejujurnya, ia juga menginginkan hal yang sama. Namun, bukankah semalam Banyu sudah ingin menyerah ketika ia bilang jika Barata adalah calon suaminya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN