11 | Lamaran Di Kamar Mandi

1285 Kata
Wening merasakan aliran listrik yang seolah menyengat sekujur tubuhnya. Kecupan singkat di sudut bibir itu tidak hanya meninggalkan sensasi hangat, tapi juga menghancurkan konsentrasi yang susah payah ia bangun. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai bertalu liar, lalu menatap Banyu dengan sorot mata yang berusaha keras untuk tetap tegas. “Nyu, berhenti. Jangan main-main,” bisik Wening, suaranya sedikit bergetar. “Kita itu cuma masa lalu. Semuanya udah selesai lima tahun yang lalu. Aku ke sini cuma buat Bumi, jadi tolong jangan berharap berlebihan. Kondisinya sudah beda,” imbuhnya. Banyu tidak terlihat tersinggung apalagi mundur. Ia justru menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu menatap Wening dengan tatapan yang sulit diartikan. Pengetahuan yang ia dapatkan dari sang Papa tadi pagi seolah memberinya amunisi tambahan. Ia tahu Wening sedang menjaga jatak hanya untuk melindungi dirinya sendiri. “Siapa yang bilang aku berharap? Aku nggak berharap, Wen. Aku cuma melakukan apa yang ingin aku lakukan,” sahut Banyu santai, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang nakal. Wening hendak mendebat, tapi Banyu sudah lebih dulu berpaling ke arah Bumi yang masih asyik dengan krayonnya. Banyu sengaja sedikit bergeser, memperkecil jarak hingga lututnya bersentuhan dengan paha Wening, membuat wanita itu semakin salah tingkah. “Bumi,” panggil Banyu, suaranya berubah lembut tapi penuh intrik. Bocah itu mendongak, matanya yang sipit berkedip lucu. “Kenapa, Pa?” “Bumi senang nggak kalau setiap hari kita bertiga begini terus? Makan bareng, tidur bareng, main bareng ... Papa sama Mama tinggal di satu rumah yang sama?” tanyanya. Mata Bumi seketika membelalak lebar, binar kebahagiaan terpancar jelas dari sana. Ia meletakkan krayonnya begitu saja dan berlutut tegak. “Seneng banget, Pa! Bumi mau tiap pagi bangun ada Papa, ada Mama juga. Jadi Bumi nggak perlu milih mau ikut siapa setiap hari!” kata bocah itu. Wening menggigit bibir bawahnya usai mendengar penjelasan sang putra, lalu menimpali. “Bumi, Sayang, nggak segampang itu. Rumah Mama, kan, jauh dari bengkel Papa–” “Ya Mama tinggal di sini aja! Kan, kasurnya masih muat kalau Bumi di tengah,” potong Bumi dengan logika polosnya yang mematikan. Ia kemudian menatap Banyu dengan raut wajah penuh harap. “Pa, kalau kita tinggal bareng, nanti Bumi bisa punya adik nggak? Temen Bumi di sekolah, si Raka, baru punya adik bayi kecil. Lucu banget. Bumi juga mau punya adik biar bisa diajak main bola,” imbuhnya. Wajah Wening seketika memerah sempurna, panasnya menjalar hingga ke belakang telinga. Ia nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar permintaan putranya yang sama sekali tidak terduga itu. Ia melirik tajam ke arah Banyu, berharap pria itu akan meredam pembicaraan absurd ini. Namun, yang didapatinya justru sebaliknya. Banyu tertawa kecil, suara tawa rendah yang terdengar begitu maskulin di telinga Wening. Ia mengacak rambut Bumi dengan gemas sambil terus melirik Wening yang kini sudah seperti kepiting rebus. “Wah, ide bagus itu, Jagoan,” sahut Banyu tanpa beban, matanya berkilat jahil. “Papa, sih, setuju banget. Kalau perlu adiknya dua, biar Bumi nggak kesepian pas main bola. Tapi, ya, itu ... tanya Mama dulu, Mama mau kasih adik nggak buat Bumi?” “Banyu!” bentak Wening pelan, tapi tidak ada otoritas dalam suaranya, yang ada hanyalah kegugupan yang luar biasa. “Jangan ngomong yang aneh-aneh di depan anak kecil!” Bumi justru tidak memihak mamanya. Ia malah merangkak mendekat ke arah Wening dan memeluk lengannya, menatap dengan mata cerlang yang sulit sekali untuk ditolak. “Boleh ya, Ma? Kasihan Papa sendirian di sini. Kata Papa, kalau ada adik, nanti rumahnya jadi ramai. Mama mau, kan?” pintanya. Wening merasa seolah sedang disidang oleh dua orang pria beda generasi yang kini bekerja sama untuk menyudutkannya. Ia tidak tahu apa yang merasuki Banyu malam ini. Semalam pria itu tampak pasrah dan terluka saat ia menyebut nama Barata, tapi sekarang? Banyu tampak seolah-olah ia adalah pemenang yang sedang menunggu waktu untuk mengklaim kembali miliknya. “Tuh, denger kan, Wen? Bumi aja lebih bela aku,” bisik Banyu tepat di samping telinga Wening, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Wening hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang masih merah padam. Di satu sisi, ia merasa kesal karena dikerjai, tapi di sisi lain, ada kehangatan yang tak terbendung menyusup ke relung hatinya. Untuk sesaat, ia melupakan tumpukan utang perusahaan, tagihan gaji karyawan, dan wajah angkuh Barata. Di ruangan sempit ini, ia hanya ingin menjadi wanita yang dicintai dan ibu yang diinginkan oleh anaknya. Ia menoleh ke arah Banyu, menatap pria itu dengan pandangan yang lebih lunak, meski bibirnya masih terkatup rapat. Banyu membalas tatapan itu dengan remasan lembut di tangannya sekali lagi. Berharap Wening mengerti maksudnya tanpa ia harus bicara. Namun, wanita itu malah memilih kabur. “Mama mau ke kamar mandi dulu,” katanya kemudian. Wening bangkit dari duduknya dan meninggalkan Banyu dan Bumi. Keduanya mengambil duduk merapat, lalu saling menggendikan bahu. “Mama kayaknya nggak mau, Pa,” kata Bumi mencoba menebak. “Hmm … kalau Papa paksa aja. Kamu setuju nggak?” tanya Banyu dengan alis naik turun. Bumi tersenyum, lalu mengangguk lemah. Sepertinya ia suka rencana sang papa. Jadi, Bumi membiarkan Banyu bangkit demi menyusul Wening yang tadi pamit ke kamar mandi. Sementara di dalam ruangan lembap itu, Wening membasuh wajahnya yang terasa panas karena ucapan-ucapan aneh dari Banyu dan Bumi. Sekarang, bukan saatnya memikirkan hal-hal seperti itu. Ia meyakinkan dirinya, bahwa kali ini jangan sampai ia tergoda dan membawa Banyu dalam masalah hidupnya yang paling. Namun, ketika ia mulai yakin, Wening keluar dari kamar mandi dan mendapati Banyu berdiri di depan pintu. "Nyu, kamu ngapain—" Belum sempat Wening menyelesaikan kalimatnya, Banyu justru melangkah maju, memaksa Wening mundur kembali ke dalam ruang sempit yang lembap itu. Dengan gerakan tenang tapi pasti, Banyu menutup pintu di belakangnya dan mengunci slotnya. Banyu menumpukan kedua tangannya di dinding, mengurung Wening di antara dadanya yang bidang dan dinginnya tembok ubin. Aroma maskulin yang khas menciptakan suasana yang begitu menyesakkan. "Nyu, lepasin. Nggak lucu ya, ada Bumi di luar," desis Wening, meski suaranya justru terdengar sangat tidak meyakinkan. Banyu tidak bergerak seinci pun. Matanya yang gelap menatap Wening dengan intensitas yang mampu melumpuhkan seluruh syaraf wanita itu. "Apa nggak ada yang mau kamu bilang ke aku, Wen? Hal penting, mungkin? Tentang kantor kamu? Atau tentang si Barata itu?" tanya pria itu. Wening terhenyak. Sesaat, ada kilat ketakutan di matanya, namun ia segera menyembunyikannya di balik topeng kedinginan. "Nggak ada. Semuanya baik-baik aja. Kamu nggak usah ikut campur urusan pribadiku,” sahut wanita itu. Banyu mendengkus hambar, senyum tipis yang sarat akan makna muncul di sudut bibirnya. Ia mendekatkan wajahnya, hingga Wening bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di pipinya. "Oke. Kalau soal itu kamu nggak mau jujur, gimana kalau soal usul Bumi tadi?" "Nyu, Bumi itu masih kecil! Dia nggak tahu apa-apa soal adik atau tinggal bareng. Itu cuma omongan anak-anak," sahut Wening cepat, berusaha mengalihkan pandangan. "Tapi aku serius, Wen," bisik Banyu, suaranya kini berubah rendah dan sangat dalam, memenuhi ruang sempit itu dengan getaran yang membuat lutut Wening lemas. "Aku nggak mau kamu nikah sama pria itu. Aku nggak mau Bumi punya papa tiri yang bahkan nggak tahu cara memandang dia dengan benar,” kata Banyu. Wening terhenyak. Ia tak menyangka jika Banyu akan berkata demikian. Terlebih di kamar mandi seperti ini setelah mereka berpisah cukup lama. Jadi, apakah ini sebuah lamaran? Namun, Wening menggeleng lemah. Ia mengenyahkan semua bayangan semu yang indah demi menghadapi realita yah ada. Ia tak mau menyeret Banyu dalam masalahnya. “Jangan gila, Nyu. Kita–” Wening terdiam. Bibirnya terkunci oleh serangan mendadak Banyu. Ini kali kedua pria itu membuatnya bungkam. Bukan dengan sesuatu yang terburu-buru, tapi sentuhan hangat yang langsung membuat Wening meremang. “Aku nggak terima penolakan lagi, Wen,” bisik Banyu setelah sejenak melepaskan pagutannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN