12 | Tanda Merah

1351 Kata
“Tapi–” Sekali lagi, Banyu membungkam bibir Wening dengan ciuman. Kali ini, ia lebih brutal dengan menarik tubuh wanita itu dalam dekapannya hingga tak ada lagi jarak sebagai pemisah. Sementara Wening lagi-lagi hanya bisa pasrah. Pusaran rindu mengepungnya dengan dahsyat. Pria yang kini sedang asyik bermain dengan lidahnya adalah yang ia inginkan sejak lama. Lantas, apakah ia bisa mengelak dari gempuran Banyu? Keduanya makin terhanyut. Bahkan lupa jika saat ini ada Bumi di ruang depan. Namun, saat jemari Banyu mulai melepas kancing kemeja Wening yang kedua, wanita itu mulai sadar. “Nyu … jangan! Ada Bumi di luar.” Bisikan itu menyentak kewarasan Banyu. Napasnya yang sudah tak beraturan menerpa leher Wening yang sejak tadi sudah ia eksplor hingga begitu dalam. Meninggalkan sedikit tanda cinta yang tak begitu kentara jika diperhatikan. Pria itu mencoba menetralkan deru napasnya sendiri. Sementara jarinya kembali mengancingkan kemeja Wening yang sudah berantakan. Ia tahu, sebaiknya tidak sekarang. Ini bukan waktu yang tepat melepas segala hasrat. Jadi, Banyu menunduk dalam. “Maaf, aku … Wening, lihat aku!” Banyu meminta Wening mendongak. Kemudian, menatap wanita itu dengan saksama. Tangannya yang tadi sibuk membetulkan kancing, kini menelusup hangat di bawah telinga wanita itu. “Aku bakal ketemu sama orang tua kamu. Aku akan bilang niatku ini,” katanya. “Nyu … nggak semudah itu. Aku takut mereka akan–” “Apa? Meremehkanku? Aku nggak peduli. Aku nggak mau lagi ngelepasin kamu sama Bumi,” kata Banyu mantap. Wening hanya bisa diam. Tatapan pria itu masih sama seperti beberapa tahun lalu. Penuh tekat dan ambisi. Namun, mengapa dulu Banyu bahkan tidak datang ketika tahu Wening hamil? Ketika Banyu kembali berniat mencium Wening, pintu kamar mandi diketuk pelan dari luar. Sontak Banyu membentang jarak dengan mundur sejengkal. “Pa … Ma … kalian ngapain di dalam kamar mandi?” Suara Bumi terdengar lirih. Iya, pasti bocah itu merasa aneh karena Papa dan Mamanya tak kunjung keluar dari ruangan lembap itu sejak tadi. Jadi, ketika mendengar suara Bumi, Banyu buru-buru membuka pintunya. “Hai, Sayang. Papa tadi cuma bantuin Mama nyari sabun,” jawab Banyu asal usai melihat sosok mungil yang berdiri di depan pintu. “Oh. Udah ketemu?” “Udah, Sayang. Ayo kita keluar.” Banyu melirik Wening sebelum akhirnya menggandeng tangan kecil Bumi menuju ke ruang tamu. Sementara Wening masih terdiam di dalam kamar mandi. Entah ia harus berkata apa pada Banyu setelah ini. Masalahnya terlalu rumit untuk sekadar dibagi bersama pria itu. Setelah beberapa saat, Wening menyusul. Ia mengambil tasnya dan menghampiri Bumi di ambal. “Bumi nggak mau ikut Mama pulang?” tanyanya pada bocah itu. “Loh, Mama pulang? Katanya mau nginep sini?” Raut wajah Bumi tampak kecewa. Ia mengerutkan alis sebagai gestur ketidaksukaan dengan keputusan sang mama. “Nggak boleh, Sayang. Mama belum bilang sama Oma. Nanti Oma marah.” “Oma, kan, memang kerjaannya marah-marah,” sahut Bumi cepat. Sudut bibir Banyu berkedut pelan mendengar celoteh anaknya yang sepertinya memang benar. Namun, Wening tak pernah mengajarkan hal buruk pada Bumi. Jadi, dia berjongkok dan mengusap bahu sang putra pelan. “Nggak boleh gitu, Sayang. Nggak sopan. Jadi … Bumi masih mau di sini sama Papa?” Bocah itu mengangguk lemah dengan tatapan patuh pada sang mama. “Ya, udah. Mama pulang, ya. Jangan nakal.” Wening mengecup kening dan pipi Bumi, lantas bangkit dan menoleh ke arah Banyu sebelum melangkah keluar dari kontrakan. “Aku titip Bumi.” Banyu tak menjawab. Ia malah mengekor pada Wening usai bilang pada Bumi untuk mengantar mamanya ke mobil. “Wen, aku serius soal tadi,” katanya. Wening menoleh. Tatapannya fokus pada wajah Banyu yang kini begitu serius. Tidak ada gurat canda di matanya yang hangat. Namun, Wening hanya bisa mengangguk lemah. Entah apakah solusi yang ditawarkan Banyu itu bagus, setidaknya kali ini Banyu tidak lari seperti dulu. *** Pintu rumah mewah bergaya klasik itu terbuka, Wening melangkah masuk dengan bahu yang merosot, tas kerjanya terasa berkali-kali lipat lebih berat malam ini. Ia hanya ingin segera menaiki tangga, mengunci diri di kamar, dan memutar ulang rekaman suara Banyu di kamar mandi tadi yang terus terngiang seperti mantra. Namun, harapannya pupus saat ia baru menginjakkan kaki di ruang tamu. Di sana, di atas sofa beludru mahal, Aditi sedang duduk bersandar di bahu Kalyani, sambil sesenggukan buaya. "Tuh, Ma! Orangnya baru pulang!" adu Aditi ketus, matanya yang sembap, yang Wening yakin itu hanya polesan riasan, menatap tajam ke arah kakaknya. Kalyani langsung berdiri, wajahnya yang penuh sapuan bedak tebal mengeras. "Wening! Kamu itu keterlaluan, ya. Adik kamu cuma minta uang buat beli tas, itu pun buat pergaulan dia biar nggak malu-maluin keluarga, kok kamu tega sampai ngusir dia dari kantor?" katanya. Wening menghentikan langkahnya, ia bahkan tidak menoleh sepenuhnya ke arah Mama dan adik tirinya. "Ma, aku sudah bilang di kantor tadi. Kondisi keuangan kita lagi kritis. Bukan waktunya buat hura-hura,” sahut Wening. "Halah, alasan!" seru Kalyani tidak terima, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Mama tahu perusahaan Papa itu besar. Nggak mungkin uang buat beli tas satu saja nggak ada. Kamu itu sengaja kan pelit sama adik sendiri? Biar kamu saja yang kelihatan paling hebat di rumah ini?" Wening hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa lelah yang luar biasa, lelah fisik, lelah batin, dan lelah menghadapi ketidaktahuan keluarganya yang seolah buta pada jurang kebangkrutan yang sudah di depan mata. Ia tidak berniat menjawab lagi. Pikirannya justru melayang kembali ke ruang sempit di kontrakan Banyu. Sentuhan Banyu, aroma tubuhnya, dan lamaran gila yang baru saja ia dengar terasa jauh lebih nyata daripada ocehan ibunya saat ini. "Aku capek, Ma. Aku mau istirahat," ujar Wening pendek sambil mulai melangkah menuju tangga. "Mbak Wen!" Aditi bangkit dari sofa, ia merasa tidak puas karena diabaikan. Ia berlari kecil mengejar Wening dan mencekal lengannya. "Jangan sok sibuk! Mbak belum jawab pertanyaan Mama soal–" Kalimat Aditi terhenti mendadak. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak beres pada leher kakaknya. Di bawah kerah blazer yang sedikit bergeser karena tarikan tangannya tadi, ada sebuah tanda merah samar, sisa dari keintiman yang meledak di balik pintu kamar mandi kontrakan Banyu. Aditi menyeringai, sebuah binar penuh selidik muncul di matanya yang licik. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat menyebalkan. "Wah, pantesan aja Mbak Wen galak banget di kantor tadi," celetuk Aditi dengan nada yang sengaja dikeraskan agar Kalyani mendengar. "Ternyata habis lembur, ya? Lihat deh, Ma. Leher Mbak Wening ada capnya,” imbuhnya. Wening tersentak, tangannya refleks meraba lehernya dengan panik. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya yang tadi pucat kini mendadak kembali terasa panas. Aditi melangkah memutari Wening, menatapnya dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan. "Cie, Mbak Wening diam-diam punya mainan baru? Cowok mana lagi kali ini? Apa jangan-jangan si montir itu lagi? Duh, Mbak ... rendah banget seleranya kalau beneran balik sama gembel itu. Atau jangan-jangan itu dari Mas Barata? Kalau sama Mas Barata sih, aku restuin banget, biar duit kita cepet cair,” katanya. Kalyani ikut mendekat, menatap leher putrinya dengan dahi berkerut. "Wening, benar apa kata adikmu? Kamu berhubungan lagi sama laki-laki itu? Sejauh mana? Mama, kan, sudah bilang. Serahkan aja Bumi, dan pergi. Kenapa malah reunian?" Wening menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang tersisa. Ia membetulkan kerah blazernya dengan tangan gemetar, lalu menatap Aditi dan Kalyani bergantian dengan tatapan yang tajam sekaligus dingin. "Itu bukan urusan kalian," jawab Wening dengan suara rendah namun sarat ancaman. "Mau siapa pun pria itu, dia jauh lebih berharga daripada semua tas branded yang kamu mau, Dit. Dan Mama ... jangan pernah bahas soal Barata lagi kalau Mama masih mau aku menyelamatkan rumah ini." Tanpa menunggu balasan, Wening berbalik dan menaiki tangga dengan langkah lebar. Ia bisa mendengar Aditi yang masih berteriak memanggilnya dan Kalyani yang mulai mengoceh soal sopan santun, tapi Wening tidak peduli. Begitu sampai di kamar, ia mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Ia menyentuh tanda di lehernya, lalu sebuah senyuman tipis yang tak sengaja muncul di bibirnya. Di tengah kepungan masalah yang menyesakkan ini, entah kenapa, tanda merah dari Banyu itu justru menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih hidup. “Nggak, Wen. Jangan nyusahin Banyu. Plis,” bisiknya mencoba menyadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN