“Banyu, ini Candra. Dia yang akan bantu kamu di kantor mulai hari ini.”
Bhaga memperkenalkan seorang pria kepercayaannya yang selama ini mengelola bisnis tambang miliknya. Demi menghindari LHKPN yang mungkin akan mengendus usaha yang ia rintis di belakang pangkatnya, Bhaga membuat seolah-olah bahwa usaha itu memang dimiliki oleh Candra.
“Selamat pagi, Mas Banyu. Perkenalkan, saya Candra. Saya yang akan bantu Mas Banyu mulai hari ini,” katanya seraya mengulurkan tangan.
Banyu, dengan sedikit canggung mengulurkan tangannya. Pria itu, sejujurnya masih belum yakin dengan keputusan ini. Demi Wening, ia nekat masuk ke bisnis tambang sang papa tanpa pernah tahu dasar-dasarnya. Demi wanita itu, ia harus siap menjalankan bisnis ini dan membantunya keluar dari masalah keuangan.
“Mohon bantuannya, ya, Pak. Saya sama sekali nggak ngerti bidang beginian. Saya biasa pegang kunci inggris dan oli,” kata Banyu jujur.
Candra tersenyum dan mengangguk lemah. Bhaga sudah bilang mengenai sang anak kepada Candra. Juga semua alasan yang kemudian membuat Banyu bersedia kembali ke keluarga Bhaga setelah bertahun-tahun memilih menjalani hidup sesukanya.
“Tenang saja, Mas. Saya akan bantu sampai Mas Banyu bisa.”
Candra kemudian mengajak Banyu mendekat ke sebuah meja besar yang di atasnya sudah terhampar beberapa peta topografi dan maket digital area konsesi tambang. Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, Banyu kini terlihat berbeda dengan wangi kayu cendana yang mahal dan udara dingin dari pendingin ruangan yang bekerja maksimal.
"Bisnis Tuan Bhaga ini bergerak di sektor batubara dan nikel, Mas Banyu," buka Candra sambil menunjuk sebuah area hijau di peta yang terletak di Kalimantan Timur.
"Secara administrasi, nama saya yang tercatat sebagai pemegang saham utama di beberapa perusahaan ini. Tapi secara operasional dan aliran dana, Mas Banyu adalah nakhoda barunya sekarang,” imbuh Candra.
Banyu memperhatikan garis-garis koordinat di peta itu dengan dahi berkerut. Baginya, garis-garis itu jauh lebih rumit daripada diagram kelistrikan motor sport yang biasa ia utak-atik di bengkel.
"Mungkin kelihatannya beda jauh dengan bengkel, tapi intinya sama, Mas," lanjut Candra seolah bisa membaca keraguan di mata Banyu.
"Di bengkel, Mas Banyu harus memastikan semua komponen mesin sinkron supaya motor bisa jalan. Di sini, komponennya adalah logistik, izin tambang, dan fluktuasi harga pasar global. Kalau ada satu busi yang mati di lapangan, produksi bisa terhambat,” jelas Candra.
Banyu mengusap tengkuknya, ia masih merasa asing dengan kemeja katun premium yang baru saja dipaksakan papanya untuk ia pakai, juga dengan semua yang ada di hadapannya.
"Tapi kalau mesin motor macet, saya tahu bagian mana yang harus dibongkar, Pak. Kalau bisnis ini yang macet, saya takut malah bikin hancur segalanya."
"Itulah gunanya saya di sini," sahut Candra tenang.
"Tuan Bhaga ingin Mas Banyu mulai masuk ke manajemen tingkat atas. Tugas Mas bukan turun ke lubang tambang, tapi mengambil keputusan. Termasuk keputusan untuk mengucurkan dana talangan atau melakukan akuisisi terhadap perusahaan yang sedang dalam masalah, seperti ... perusahaan keluarga Mbak Wening,” imbuh Candra lebih detail.
Mendengar nama Wening, sorot mata Banyu yang semula ragu mendadak berubah tajam. Ia teringat kembali pada gurat kelelahan di wajah wanita itu dan ancaman Barata yang berlagak menjadi pahlawan dengan uangnya.
"Berapa lama saya bisa menguasai dasar-dasarnya sampai saya bisa tanda tangan dokumen penting?" tanya Banyu, suaranya kini terdengar lebih mantap.
Candra tersenyum tipis, menyadari bahwa motivasi Banyu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya akan kegagalan.
"Normalnya butuh berbulan-bulan, Mas. Tapi melihat situasi Mbak Wening yang sudah di ujung tanduk, saya akan buatkan ringkasan eksekutifnya malam ini. Besok pagi, Mas Banyu sudah bisa tampil sebagai investor utama yang akan mengambil alih utang-utang perusahaan mereka,” jelas Candra.
Namun, kemudian Banyu terdiam. Ia berpikir sejenak usai mendengar penjelasan Candra barusan. Wening jelas akan terkejut jika ia tiba-tiba muncul sebagai pemilik sebuah perusahaan tambang. Sebab, setahu Wening, Banyu hanya seorang montir di bengkel. Jadi, ia ingin membuat semuanya tampak lebih alami dan tersembunyi.
“Pak, kalau saya langsung muncul, saya yakin Wening pasti bakal kaget dan nggak percaya. Jadi, lebih baik Pak Candra saja yang nanti muncul di sana,” kata Banyu.
“Baik, Mas. Sesuai dengan keinginan Mas Banyu.”
Banyu mengangguk pelan. Ia menatap telapak tangannya yang masih kasar dan memiliki bekas luka goresan kunci pas. Tangan ini mungkin sudah tidak akan lagi berlumuran oli setiap hari, tapi ia tahu, tangan yang sama inilah yang akan ia gunakan untuk menarik Wening keluar dari lumpur masalah yang diciptakan Barata.
"Baik, Pak Candra. Ajari saya secepat mungkin. Saya nggak mau Wening nunggu terlalu lama sampai dia bener-bener dipaksa tanda tangan kontrak pernikahan itu," tegas Banyu.
Candra mengiakan, lalu kembali mengajari Banyu sesuai dengan apa yang Bhaga minta.
Sementara Bhaga yang sejak tadi hanya mengawasi dari kejauhan sambil menyesap cerutunya, tampak mengangguk puas. Ia tahu, putranya memang punya mental seorang petarung, dan kini petarung itu telah menemukan alasan paling tepat untuk kembali ke medan laga.
***
Sore itu, suara deru mesin motor Banyu memecah keheningan di pelataran rumah mewah keluarga Wening. Banyu turun dari motornya, lalu membantu Bumi melepaskan helm. Meski hanya mengenakan kemeja katun polos dengan lengan yang digulung hingga siku, ada aura yang berbeda dari pria itu. Rambutnya tertata rapi, dan sorot matanya yang biasanya santai kini tampak lebih dalam dan berwibawa, sisa-sisa didikan kilat dari Candra pagi tadi rupanya mulai meresap ke dalam pembawaannya.
Aditi yang kebetulan sedang bersantai di teras samping langsung berdiri. Ia melangkah mendekat dengan dahi berkerut, tapi langkahnya sempat terhenti sesaat. Ia terpana melihat sosok pria yang berdiri di samping motor itu.
"Siapa, ya?" gumam Aditi pelan, sebelum akhirnya ia menyadari bahwa pria itu adalah Banyu.
"Loh ... Mas Banyu?"
Aditi memicingkan mata, menatap Banyu dari atas sampai bawah. Harus ia akui, Banyu terlihat jauh lebih matang. Dia tampak sangat tampan sore ini. Berbeda jauh dengan bayangan montir dekil yang selama ini ia tertawakan. Namun, gengsi Aditi segera mengambil alih. Ia mendengkus, kembali memasang wajah meremehkan.
"Wah, tumben amat tampilannya rapi? Habis dapet bonus dari bengkel atau gimana, Mas?" celetuk Aditi santai, suaranya kental dengan nada mengejek.
Banyu tidak terpancing. Ia hanya menatap Aditi dengan datar, tanpa niat membalas ejekan receh tersebut.
"Wening ada di dalam?"
"Ada, tapi–"
Belum sempat Aditi menyelesaikan kalimatnya, pintu utama terbuka. Wening keluar dengan wajah yang masih tampak lelah, tapi ekspresinya berubah menjadi kaget luar biasa saat melihat siapa yang berdiri di halamannya.
"Nyu? Kamu ngapain ke sini?" tanya Wening dengan suara yang bergetar. Ia melirik ke arah Aditi yang masih memasang wajah sinis, lalu kembali menatap Banyu dengan penuh kekhawatiran.
Banyu melangkah maju, melewati Aditi begitu saja seolah wanita itu hanya patung penghias taman. Ia berhenti tepat di depan Wening, mengabaikan tatapan tajam dari dalam rumah.
“Panggil Papa kamu. Aku mau ketemu beliau sekarang."
Wening mengernyit, tangannya meremas ujung blusnya dengan kuat.
"Mau apa, Nyu? Plis, jangan sekarang,” ucap Wening.
Banyu menatap mata Wening dalam-dalam, sebuah tatapan yang memberikan kekuatan sekaligus tuntutan. Ia mau menyelesaikan semuanya sekarang juga.
"Aku mau minta izin secara resmi. Aku mau bilang ke Papa kamu kalau aku mau kamu jadi istriku. Sekarang juga,” kata Banyu mantap.
Wening melongo. Dunianya mendadak berhenti mendengar pernyataan Banyu yang begitu lugas di depan rumahnya sendiri. Sementara Aditi yang berdiri tak jauh dari mereka langsung tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh dengan nada penghinaan.
"Hah? Ngimpi apa kamu, Mas? Mau ngelamar Mbak Wening di depan Papa?" Aditi mendekat sambil berkacak pinggang.
"Mas, bangun! Papa itu butuh mantu yang bisa kasih modal miliaran buat selamatin perusahaan, bukan mantu yang cuma modal cinta sama kunci inggris. Memangnya Mas Banyu punya apa buat yakinin Papa?" ejek Aditi.
Banyu tidak menoleh pada Aditi. Ia tetap mengunci pandangannya pada Wening yang masih mematung.
"Panggil Papa kamu, Wen. Aku nggak suka nunggu lama,” katanya mantap.