“Nyu, plis ….”
Wening mengiba pada Banyu agar pria itu mengurungkan niatnya. Tentu saja, ini bukan waktu yang tepat untuk melamar karena memang situasinya sedang tidak baik. Namun, pria itu tetap keukeuh sampai akhirnya Mahesa keluar bersama Kalyani.
Keduanya tampak terkejut melihat kedatangan Banyu yang masih menggandeng Bumi. Mereka memasang wajah tidak ramah karena sudah mendengar soal pria itu dari Aditi.
Langkah kaki Mahesa yang berat terdengar mendekat, disusul Kalyani yang mengekor dengan wajah penuh kejengkelan. Begitu sampai di teras, Mahesa langsung memberikan tatapan yang merendahkan, memindai penampilan Banyu dari ujung kepala hingga kaki.
“Ada apa ini?” tanya Mahesa dengan suara berat dan nyalang.
Banyu mengambil satu langkah maju, menarik napas panjang untuk menetralkan debar jantungnya. Ia menatap Mahesa lurus-lurus, tidak ada sedikit pun keraguan di matanya.
“Kedatangan saya ke sini dengan niat baik, Pak. Saya ingin meminta izin secara resmi untuk meminang Wening. Saya ingin dia menjadi istri saya dan membesarkan Bumi bersama-sama,” ucap Banyu dengan nada yang sangat mantap.
Seketika, tawa hambar keluar dari bibir Mahesa. Tawa penghinaan yang menyakitkan. Kalyani di sampingnya pun ikut mencibir sambil melipat tangan di d**a.
“Menikah? Kamu sadar sedang bicara dengan siapa?”
Mahesa melangkah lebih dekat, menunjuk ke arah gedung-gedung tinggi yang tampak dari kejauhan.
“Wening itu dibesarkan dengan kemewahan. Dan sekarang, perusahaan saya sedang butuh suntikan dana besar untuk bertahan. Kamu punya apa, Banyu? Apa kamu mau kasih makan anak-istri kamu pakai oli dan bensin?” katanya.
“Kamu benar, Pa. Jangan jadi laki-laki yang nggak tahu diri. Barata sudah siap membawa miliaran rupiah untuk menyelamatkan kami semua. Kamu? Datang ke sini naik motor butut cuma bawa omongan kosong. Apa kamu nggak malu sama diri sendiri?” sergah Kalyani.
"Kamu dengar baik-baik, anak muda. Cinta itu nggak bisa dipakai buat bayar tagihan rumah sakit kalau anak ini sakit. Cinta nggak bisa dipakai buat beli s**u atau sekolah yang layak. Kamu cuma mau jadi benalu yang merusak masa depan anak saya karena nafsu picik kamu,” ucap Mahesa lagi.
Banyu merasakan rahangnya mengeras hebat hingga otot-otot di lehernya menonjol. Darahnya mendidih mendengarkan kata benalu dan nafsu yang keluar dari mulut Mahesa. Ia ingin sekali membalas, ingin mengatakan bahwa ia punya dukungan yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan pria tua angkuh ini. Namun, ia merasakan tangan mungil Bumi yang mencengkeram erat ujung kemejanya. Ia menunduk sekilas, melihat mata polos putranya yang mulai berkaca-kaca karena ketakutan.
Banyu menarik napas panjang, meredam emosi yang nyaris meledak demi menjaga mental Bumi.
"Saya nggak akan mendebat soal itu sekarang, Pak. Waktu yang akan membuktikan siapa yang sebenarnya benalu," sahut Banyu dengan nada yang sangat tenang, meski matanya menatap tajam Mahesa.
Mahesa mendengkus hambar, lalu tertawa meremehkan.
"Waktu? Waktu itu uang, Banyu! Dan kamu nggak punya keduanya. Kamu cuma sampah yang kebetulan pernah menyentuh putri saya. Sekarang, bawa kaki kamu dan motor butut ini keluar dari sini sebelum saya panggil keamanan untuk menyeret kamu seperti anjing.”
Wening yang sejak tadi diam, merasa hatinya seperti diiris mendengarkan penghinaan demi penghinaan yang dilontarkan orang tuanya. Ia melihat Banyu yang hanya diam menerima makian itu, dan ia melihat Bumi yang mulai tampak ketakutan melihat kakeknya yang marah-marah.
“Cukup, Pa! Ma!” seru Wening tiba-tiba, suaranya menggelegar melebihi suara Mahesa.
Mahesa menoleh, kaget melihat putrinya yang selama ini cenderung penurut kini berani membentaknya.
“Wening! Masuk ke dalam! Jangan bela laki-laki nggak berguna ini!”
“Banyu bukan laki-laki nggak berguna!”
Wening melangkah maju, berdiri tepat di samping Banyu dan merangkul lengan pria itu dengan erat. Air matanya kini luruh, tapi sorot matanya penuh dengan tekad.
“Papa sama Mama nggak berhak bicara seperti itu. Selama lima tahun aku berjuang sendirian buat Bumi, buat usaha kita, ke mana kalian? Kalian cuma peduli sama gengsi dan harta! Aku bukan barang yang bisa Papa tukar sama modal dari Barata!”
Wening kemudian menatap Banyu dengan lembut, menghapus air mata di pipinya sendiri. Ia menyadari satu hal. Ia lebih baik hidup susah di kontrakan sempit bersama Banyu daripada harus hidup mewah di rumah ini tapi jiwanya mati.
“Ayo, Nyu. Kita pergi dari sini,” ajak Wening pelan namun tegas.
“Wening! Kalau kamu melangkah keluar dari gerbang itu, jangan harap kamu bisa kembali lagi ke rumah ini!” ancam Mahesa, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak.
Wening tidak menoleh lagi. Ia justru membantu Bumi naik ke atas motor Banyu.
“Aku nggak butuh rumah yang isinya cuma transaksi, Pa.”
Banyu menatap Mahesa sekilas, tatapan yang sangat tenang, tapi mengandung janji yang besar, sebelum akhirnya ia menyalakan mesin motornya. Tanpa kata-kata lagi, motor itu melaju meninggalkan pelataran rumah mewah yang terasa makin dingin dan hampa itu. Di atas motor, di tengah deru angin sore, Wening memeluk punggung Banyu dengan sangat erat, melepaskan segala beban yang selama ini menghimpitnya.
***
Deru motor itu akhirnya mati, digantikan oleh suara jangkrik yang mulai bersahutan di sekitar kontrakan sempit Banyu. Lampu jalan yang remang-remang menyinari wajah Wening yang tampak pasi. Begitu kaki mereka menginjak tanah, Wening menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan yang tersisa.
"Bumi, masuk ke dalam dulu, ya, Sayang? Papa sama Mama mau bicara sebentar di luar," ujar Wening, suaranya bergetar, tapi berusaha terdengar lembut.
Bumi menatap kedua orang tuanya bergantian, lalu mengangguk kecil dan berlari masuk ke dalam rumah mungil itu. Setelah pintu tertutup, keheningan yang mencekam mendadak jatuh di antara Banyu dan Wening.
Wening langsung berbalik, menatap Banyu dengan mata yang kini banjir air mata.
"Nyu, kamu gila, ya? Kenapa kamu senekat itu tadi? Kamu nggak tahu apa yang udah kamu lakukan!" kata Wening.
Banyu hanya diam, berdiri tegak dengan kedua tangan di saku celananya, menatap Wening dengan ketenangan yang justru membuat wanita itu semakin meledak.
"Aku udah bilang, masalahnya nggak sesepele itu! Kamu pikir ini cuma soal restu? Ini soal ratusan nyawa karyawan yang gajinya belum dibayar, Nyu! Soal utang miliaran yang kalau nggak dibayar, Papa bisa masuk penjara dan kita kehilangan segalanya!"
Wening terisak, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Tangisan Wening pecah di bawah langit malam. Segala beban yang ia simpan sendirian di kantor, segala hinaan dari Aditi, dan ketakutan akan masa depan seolah-olah tumpah ruah di depan pria yang sangat ia cintai, tapi juga sangat ia ragukan kemampuannya untuk menolong.
Banyu melangkah mendekat, perlahan tapi pasti. Ia menarik tangan Wening dari wajahnya, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Wen, lihat aku."
"Lihat aku, Wening!"
Suara Banyu rendah tapi penuh penekanan.
"Apa kamu benar-benar nggak yakin sama aku? Apa setelah lima tahun, kamu masih menganggap aku laki-laki yang cuma bisa kasih janji kosong?"
Wening menggeleng lemah, air matanya jatuh mengenai punggung tangan Banyu. "Bukan gitu, tapi realitanya–"
"Realitanya, perasaan kamu ke aku masih sama seperti dulu, kan? Jangan bohong, Wen. Aku bisa merasakannya setiap kali kita berdekatan. Aku bisa merasakannya dari cara kamu bela aku di depan Papa kamu tadi. Dan aku cuma butuh itu,” bisik Banyu, ibu jarinya menghapus air mata di pipi Wening dengan sangat lembut.
Banyu mencondongkan wajahnya, hingga dahi mereka bersentuhan.
"Percaya sama aku kali ini aja. Aku tahu semua soal utang itu, soal Barata, dan soal perusahaan Papa kamu. Aku nggak akan biarkan kamu jatuh ke tangan Barata. Kamu cuma perlu berdiri di sampingku, bukan di depanku untuk melindungi aku."
Wening tertegun, menatap lekat-lekat mata Banyu yang berkilat penuh keyakinan. Ada sesuatu di sana, sebuah kekuatan yang berbeda, yang membuat Wening merasa bahwa mungkin, kali ini, keajaiban itu benar-benar ada.
“Kamu mau apa?” tanya Wening kemudian.