15 | Besok Kita Nikah

1651 Kata
“Anakmu itu memang kurang ajar, Pa. Sudah membangkang, sekarang malah milih sama montir miskin itu. Gimana sekarang nasib usaha dan keluarga kita,” kata Kalyani seraya mengurut keningnya, duduk di sofa ruang tengah yang terasa semakin dingin. Kalyani tidak berhenti di situ. Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan tajam yang menuntut. “Dulu juga begitu, kan? Pas kita sudah hampir dapet menantu kaya, dia malah hamil duluan sama laki-laki nggak jelas itu. Kita gagal total! Malu kita harus ditanggung bertahun-tahun. Sekarang, sudah ada kesempatan kedua, Barata yang mapan itu masih mau terima dia apa adanya meski sudah punya anak, tapi Wening malah sok jual mahal!” Mahesa hanya diam, tapi tangan yang memegang cangkir kopi itu gemetar hebat. Rahangnya mengeras seiring dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya. Kemarahan yang sempat tertahan saat Banyu membawanya pergi kini kembali mendidih, merambat naik ke ubun-ubun. “Dia pikir hidup itu cuma soal cinta? Kalau perusahaan ini bangkrut, apa montir itu bisa kasih kita makan? Apa dia bisa bayar cicilan rumah ini? Wening itu benar-benar buta!” imbuhnya. Mahesa membanting cangkir kopinya ke atas meja hingga isinya tumpah membasahi taplak meja yang mahal. Suara denting porselen yang beradu dengan kaca itu membuat Kalyani tersentak diam. “Cukup, Kalyani!” bentak Mahesa, napasnya memburu. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman rumah, tempat di mana motor Banyu tadi menderu pergi. “Kali ini aku akan tegas. Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan masa depan keluarga ini lagi. Dia sudah cukup bersenang-senang dengan idealismenya selama lima tahun terakhir,” ucap Mahesa dengan tegas. Pria itu berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang sudah bulat. Tidak ada lagi sisa-sisa kasih sayang seorang ayah di sana. Yang tersisa hanyalah seorang pengusaha yang sedang terdesak dan harus menyelamatkan asetnya. “Aku akan paksa dia menikah dengan Barata. Apa pun yang terjadi. Kalau perlu, aku akan jemput dia paksa. Lusa, Barata akan datang ke kantor untuk tanda tangan kontrak kerja sama sekaligus mengurus dokumen pertunangan mereka. Wening harus ada di sana. Titik,” katanya mantap. Kalyani menarik napas lega, senyum licik tersungging di bibir merahnya. “Nah, itu baru Papa. Memang harus ada yang dikorbankan demi kebaikan semua orang. Wening nanti juga bakal terima kasih kalau sudah hidup enak.” Mahesa tidak menyahut. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana untuk menyeret putrinya kembali ke realita versinya, tanpa pernah menyadari bahwa montir yang ia rendahkan sedang menyiapkan serangan balik yang akan meruntuhkan seluruh dunia angkuhnya. *** “Kamu mau apa?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Wening. Tentu saja, Banyu paham kenapa Wening meragukannya. Wanita itu belum tahu siapa dirinya. Belum tahu jika ia rela meninggalkan pekerjaan yang paling ia cintai demi membantunya. Namun, seperti yang sudah ia sepakati dengan Candra, ia akan menyembunyikan semuanya lebih dulu sekarang. Dan membukanya ketika nanti waktunya tiba. “Aku mau nikahin kamu,” jawab Banyu. “Nyu, nggak lucu. Ini soal usaha keluargaku. Bukan hanya–” “Iya, aku tahu, Wen,” sahut Banyu cepat. Pria itu maju selangkah, lalu mengusap pipi Wening yang basah dengan ibu jari. Gerakannya lembut, seolah-olah takut melukai. Sementara tangan satunya mengusap bahu wanita itu pelan. “Pokoknya aku mau kita nikah dulu. Kita sah dulu jadi suami istri. Aku nggak mau ambil risiko kamu diambil pria lain.” Wening membuang napas dengan kasar. Ia tak tahu apakah itu solusi dari semua masalahnya, tapi hatinya masih kesal. Dulu saja, Banyu tak peduli ketika ia meminta Aditi menyampaikan perihal kehamilannya. “Aku nggak mau.” Banyu spontan mengernyit. Penolakan itu benar-benar membuatnya heran. Bukankah Wening masih mencintainya? Lantas, kenapa menolak? “Wen … aku sayang sama kamu. Kenapa kamu nggak mau nikah sama aku?” Wening menoleh, menatap Banyu dengan sorot mata yang sarat akan luka lama yang mendadak kembali berdenyut. Air matanya yang sempat mengering kini kembali menggenang di sudut mata. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, sebuah perasaan yang menjadi alasan utama kenapa dinding pertahanannya begitu kokoh. "Gimana aku bisa percaya sama kamu, Nyu?" Suara Wening bergetar, parau karena emosi yang tertahan. "Dulu, pas aku hamil, kamu bahkan nggak mau nyariin aku. Kamu nggak datang. Kamu seolah-olah hilang ditelan bumi setelah tahu aku mengandung darah dagingmu,” katanya. Banyu tersentak. Ia mengernyitkan dahi, menatap Wening dengan tatapan heran yang sangat nyata. Cengkeraman tangannya di bahu Wening mengendur. Ia terhenyak karena rasa terkejut yang menghantam logikanya. "Kamu bilang apa, Wen? Dulu, kalau kamu memang ngomong ke aku kalau kamu hamil, aku pasti tanggung jawab. Aku nggak mungkin lari. Tapi masalahnya, kamu pergi gitu aja tanpa sepatah kata pun. Aku cari kamu ke rumah, tapi Papa kamu bilang kamu sudah nggak mau ketemu aku lagi,” jelas Banyu. Wening tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Banyu. Ia menyeka air mata di pipinya dengan kasar. "Aku nggak ngomong langsung, Nyu, aku udah minta Aditi buat sampaikan semuanya ke kamu. Aku minta dia bilang kalau aku hamil dan aku butuh kamu. Tapi apa? Kamu nggak pernah datang. Kamu malah hilang. Dari situ aku sadar kalau aku memang cuma mainan buat kamu." Banyu terdiam seketika. Ia mematung, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Wening. Nama Aditi disebut, dan seketika kepingan teka-teki yang selama lima tahun ini membuatnya gila mulai terangkai dengan sempurna. "Aditi?" ulang Banyu, suaranya kini berubah menjadi rendah dan berbahaya. "Dia nggak pernah bilang apa-apa sama aku, Wen. Nggak satu kata pun. Pas aku tanya soal kamu, dia cuma bilang kalau kamu sudah jijik sama aku dan mau nikah sama orang pilihan Papa kamu. Dia bilang kamu minta aku jangan pernah muncul lagi di depan muka kamu." Wening tertegun. Ia menatap mata Banyu, mencari sisa-sisa kebohongan di sana, tapi yang ia temukan hanyalah amarah yang tulus dan keterkejutan yang nyata. Jantungnya berdegup kencang. Jadi, selama ini …. "Jadi ... dia nggak bilang?" bisik Wening lemas. "Nggak," jawab Banyu tegas. Rahangnya mengeras hebat hingga otot-otot di lehernya menonjol. Kemarahan yang luar biasa kini membakar dadanya kepada adik tiri Wening yang selama ini ia anggap hanya sekadar pengganggu kecil. "Dia sengaja, Wen. Dia sengaja memutus komunikasi kita biar kita saling benci,” kata Banyu. Banyu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingatannya kembali pada masa-masa kelam saat ia seperti orang gila mencari keberadaan Wening. Sementara Aditi terus memberinya informasi palsu yang membuatnya semakin terpuruk. Rasa sesak di d**a Banyu kini berganti menjadi api dendam yang berkobar. Ternyata, kebahagiaan mereka telah dirampok oleh intrik murahan seorang gadis manja. "b******k," desis Banyu pelan. Wening menangis sejadi-jadinya saat menyadari bahwa lima tahun penderitaannya hanyalah sebuah kesalahpahaman yang diciptakan oleh orang terdekatnya. Banyu mendekap tubuh Wening dengan sangat erat, mengelus rambutnya dengan penuh penyesalan sekaligus janji. "Maafin aku, Wen. Maafin aku karena aku terlalu bodoh buat percaya sama dia. Tapi sekarang semuanya sudah jelas. Aku nggak akan biarkan dia atau siapa pun merusak kita lagi,” katanya. Banyu menatap ke arah kegelapan malam dengan sorot mata yang mengerikan. Jika sebelumnya ia ingin membantu Wening karena cinta, kini ia punya alasan tambahan. Ia ingin menghancurkan siapa pun yang telah berani mempermainkan hidupnya dan putranya. Tepat saat itu, suara dehaman berat terdengar dari arah lain, memecah keheningan malam yang baru saja mencair. Sontak keduanya membentang jarak dengan canggung. Wening dan Banyu kompak menoleh ke arah sumber suara, di mana seorang pria berperawakan tinggi, tegap, dan memiliki wibawa yang serupa dengan Banyu, tapi jauh lebih matang, berdiri tegak laksana seorang prajurit yang sedang mengawasi medan tempur. “Duuh … Papa ngapain, sih, pakai muncul segala,” bisik Banyu sangat lirih, nyaris seperti gerutu yang tertahan di tenggorokan. Wening menoleh cepat. Walaupun itu hanya sebuah gerutu bisikan, tapi wanita itu bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Jantungnya yang baru saja tenang kini kembali berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa. “Papa?” ulang Wening dengan nada tidak percaya, matanya beralih menatap Banyu dan pria asing itu bergantian. Banyu dengan sedikit jengah mengangguk lemah. Ia memutar tubuhnya ke arah Wening, berniat menjelaskan semuanya sebelum kesalahpahaman baru tercipta. Namun, suara bariton Bhaga memberikan interupsi lebih cepat, mendominasi suasana dengan aura otoriter yang tak terbantahkan. Bhaga melangkah maju, membiarkan cahaya lampu teras kontrakan menyinari wajahnya yang tegas. Ia menatap Wening dengan sorot mata yang jauh lebih lunak daripada saat ia menatap musuh-musuhnya di masa lalu. “Kenalkan, saya Bhaga. Ayah dari laki-laki keras kepala yang sedang berdiri di sampingmu ini,” ujar Bhaga dengan suara yang mantap. Wening membeku. Ia tidak pernah menyangka bahwa ayah Banyu adalah sosok yang memancarkan aura sebesar ini. Penampilan Bhaga yang meskipun bersahaja, tetap menunjukkan kelas yang jauh berbeda dari sekadar warga sipil biasa. Walaupun ia jelas tidak tahu jabatannya di kemiliteran. “Maafkan saya jika kedatangan saya sangat mendadak,” lanjut Bhaga sembari melirik Banyu sekilas dengan tatapan mencela yang dibuat-buat. “Dan yang lebih penting, saya minta maaf atas nama putra saya. Banyu ini memang sangat bodoh karena membiarkan kamu menderita bersama Bumi,” imbuhnya. Banyu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal dipojokkan di depan wanita yang sedang ia perjuangkan. “Papa jangan mulai,” sela Banyu pelan. Bhaga tidak mengacuhkan protes putranya. Ia kembali fokus pada Wening yang masih tampak bingung. “Wening, saya sudah tahu semuanya. Tentang cucu saya, Bumi. Kedatangan saya ke sini bukan untuk menambah beban, tapi untuk memastikan bahwa darah daging saya tidak lagi melakukan kebodohan yang sama untuk kedua kalinya,” katanya. Wening masih terdiam. Hari ini, semuanya benar-benar seperti sebuah kejutan. Setelah kelakuan Aditi yang terbongkar, kini kehadiran Papa Banyu yang memang sejak lama tidak pernah pria itu ceritakan keberadaannya. Namun, yang membuat Wening makin terkejut adalah keputusan Bhaga kemudian. “Saya sudah memerintahkan Sandyo untuk menyiapkan semuanya," ujar Bhaga dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Besok, saya ingin kalian berdua segera menikah. Tidak ada alasan untuk menunda lagi. Bumi butuh keluarga yang utuh, dan Banyu butuh wanita yang bisa mengendalikan kepala batunya ini,” jelasnya. Wening tersentak, matanya membelalak lebar hingga jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Ni-nikah? Besok, Pak?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN