4 | Belajar Jadi Papa

1379 Kata
Banyu membimbing Bumi masuk ke dalam kontrakan yang ukurannya lebih besar dari kamarnya di asrama, lalu mengajaknya duduk di atas ambal tipis yang terbentang di depan televisi tabung 21 inch. Suasana mendadak canggung. Banyu yang biasanya lincah membongkar mesin transmisi, kini merasa kaku menghadapi makhluk kecil di depannya. “Ehm ... Bumi, kamu ... sudah sekolah?” tanya Banyu pelan, mencoba membuka obrolan. Bumi mendongak, matanya yang sipit berkedip lucu. “Sudah, Pa. Bumi sudah Paud,” jawabnya Bumi singkat. Banyu manggut-manggut, sedikit lega karena si bocah ternyata cukup cerdas. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada duri yang mengusik. Rasa penasaran itu tak tertahankan lagi. Kenapa Wening mendadak muncul? Kenapa lima tahun ini sepi tanpa kabar, lalu tiba-tiba ia disuguhi kenyataan sebesar ini? Apakah pernikahan Wening dengan pria pilihan orang tuanya itu berantakan? Atau suaminya tidak menyayangi Bumi? Banyu berdehem, mencoba memancing informasi dengan nada sesantai mungkin. “Oh, hebat, ya, sudah sekolah. Terus ... kalau di rumah, Bumi tinggal sama siapa aja?” tanya Banyu lagi. Bumi tampak menghitung dengan jari-jari mungilnya. Lalu menyebutkan satu per satu. “Ada Opa, Oma, Tante Aditi, sama Mama.” Kening Banyu berkerut dalam. Ia menunggu satu nama lagi disebut. Nama seorang pria yang seharusnya menjadi kepala keluarga di rumah itu. Namun, Bumi sudah selesai menghitung. “Cuma itu? Nggak ada ... yang lain?” pancing Banyu lagi, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang demi menunggu jawaban Bumi. “Nggak ada,” jawab Bumi polos. Banyu terdiam sejenak. Tangannya meremas lutut celana jinnya sendiri. Keraguan dan harapan tipis mulai bercampur aduk di kepalanya. “Terus ... Papa Bumi di mana?” Bumi menghentikan gerakan mainannya, lalu menatap Banyu dengan senyum paling lebar yang pernah dilihat pria itu. Sebuah senyum yang begitu murni tanpa beban. “Papa, kan, ada di sini. Di depan Bumi,” jawabnya riang. Banyu merasa seolah ada ledakan kecil dadanya. Ia terpaku, menatap wajah polos itu dengan ribuan tanya yang berdesakan di kepala. Jika di rumah itu tidak ada sosok ayah lain, dan Bumi hanya mengenal dirinya sebagai papa ... lalu apa yang terjadi lima tahun lalu? Apa Wening nggak jadi nikah dulu? Apa dia sendirian membesarkan Bumi selama ini? Pikiran itu membuat Banyu merasa sesak. Ia menatap Bumi yang kembali sibuk dengan mainannya, menyadari bahwa ada lubang besar dalam cerita masa lalu mereka yang belum ia ketahui. Namun, ia tak mau terburu-buru. Sekarang, ia sudah tahu jika Bumi adalah anak kandungnya. Jadi, ia wajib bertanggung jawab. Setidaknya, bisa menjadi papa yang baik untuk bocah kecil di hadapannya. Malam itu, Banyu mengajak Bumi untuk pergi mencari makan. Ia bertanya banyak hal soal apa-apa yang bocah itu suka. “Bumi suka ayam goreng, Pa. Tapi kata Mama makannya harus sama nasi dan sayur. Bumi nggak suka sayur,” jelas bocah itu. “Eh, nggak boleh gitu. Makan sayur itu bagus buat kesehatan. Malam ini, Bumi harus makan pakai sayur, ya. Oh, iya. Ayam goreng juga. Mau?” Bumi mengangguk lemah. Perkataan Banyu kini jadi poros dari setiap apa yang ia lakukan. Seperti sebuah sugesti, Bumi merasa jika perkataan Banyu harus ia patuhi. Malam itu, usai makan malam mereka kembali ke kamar. Banyu menata kasur lantai dan menyiapkan bantal untuk Bumi merebah. “Kita tidur, ya.” Banyu merebahkan tubuh tegapnya di samping Bumi. Lampu utama kontrakan sudah dimatikan, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan yang membiaskan bayangan lembut di plafon. Bumi tidak langsung memejamkan mata. Bocah itu miring ke arah Banyu, menumpukan pipi gembulnya di atas bantal. Lalu menatap sang papa tanpa kedip. Jari-jari mungilnya meraih lengan Banyu yang kokoh, demi memastikan bahwa pria di sampingnya ini nyata dan bisa ia sentuh kapan saja. “Kenapa belum tidur, Jagoan? Besok, kan, harus sekolah,” bisik Banyu lembut. Ia memberanikan diri mengelus puncak kepala Bumi, merasakan kehalusan rambut yang begitu mirip dengan tekstur rambutnya sendiri. “Papa beneran nggak akan pergi lagi, kan?” Suara Bumi terdengar sangat kecil, ada nada rapuh yang terselip di sana. “Tadi Bumi makan sayur banyak ... karena Papa yang minta. Bumi mau jadi anak pintar supaya Papa betah nemenin Bumi,” imbuhnya. Dada Banyu bergemuruh. Begitu besarnya kerinduan bocah ini hingga ia rela menepikan ketidaksukaannya pada sayur hanya demi menyenangkan hati seorang pria yang baru ia temui beberapa waktu lalu. “Papa di sini, Bumi. Papa nggak akan ke mana-mana,” jawab Banyu mantap. Ia menarik selimut tipis hingga menutupi d**a Bumi, lalu membawa bocah itu ke dalam dekapannya. Bumi tidak menolak. Bocah itu justru merangsek maju, menyurukkan wajahnya ke d**a bidang Banyu. Aroma maskulin khas pria dewasa justru menjadi aroma paling menenangkan bagi Bumi. Setelah sekian lama, Bumi akhirnya bisa merasakan detak jantung seorang ayah. Sebuah ritme yang selama ini hanya ia bayangkan saat melihat teman-temannya dijemput sekolah. “Papa badannya besar ... hangat,” gumam Bumi mulai mengantuk. “Bumi sayang Papa.” Banyu tertegun. Kata sayang itu meluncur begitu saja, tulus tanpa syarat. Air mata yang sejak tadi tertahan di sudut mata Banyu nyaris luruh. Ia mengecup dahi Bumi lama. Menyalurkan seluruh rasa bersalah dan janji perlindungan di sana. Ia mungkin belum paham bagaimana cara menjadi ayah yang sempurna, tapi ia tahu, mulai detik ini, ia akan mempertaruhkan nyawanya demi memastikan senyum di wajah bocah yang tertidur pulas dalam dekapannya ini tidak akan pernah hilang lagi. *** Sinar matahari pagi baru saja menerobos celah ventilasi saat ketukan pintu terdengar. Wening berdiri di sana, tampak sedikit cemas, tapi segera mengembuskan napas lega begitu melangkah masuk. Kontrakan itu memang sederhana, tapi tertata rapi. "Ayo, Sayang. Mama antar sekolah sekarang, ya? Nanti telat." Namun, Bumi justru mundur selangkah, lalu memeluk kaki Banyu erat-erat. "Nggak mau sama Mama! Bumi mau diantar Papa Banyu pakai motor!" katanya manja. Wening tertegun, bibirnya sedikit terbuka ingin membantah. Namun, Banyu yang sedang merapikan kerah seragam Bumi, akhirnya menatap Wening. "Biar sama aku saja, Wen. Aku udah janji tadi sama Bumi," sela Banyu tenang. "Kamu di depan saja pakai mobil, aku ikut dari belakang." Wening hanya bisa mengangguk pasrah, meski ada rasa haru yang mencubit hatinya melihat pemandangan itu. Banyu dengan telaten memakaikan helm kecil berwarna biru ke kepala Bumi, memastikan talinya terpasang dengan pas agar tidak menyakiti dagu bocah itu. Sepanjang perjalanan, Bumi tak henti-hentinya berceloteh di atas tangki motor naked bike milik Banyu yang gagah. Tangan mungilnya memegang stang motor di sisi dalam tangan papanya. Ketika sampai di gerbang sekolah, Bumi tidak langsung masuk. Ia turun dengan gaya paling keren yang bisa dilakukan seorang bocah lima tahun, lalu menarik tangan Banyu agar ikut berjalan di sampingnya menuju kerumunan teman-temannya. "Halo, teman-teman! Lihat, ini Papaku!" seru Bumi lantang. Beberapa orang tua murid dan guru menoleh, menatap sosok Banyu yang berdiri tegap dengan kemeja denim yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh. Wening yang baru turun dari mobil hanya bisa berdiri terpaku di kejauhan, menyembunyikan senyum di balik tangannya. "Papa Bumi hebat, kan? Papaku kuat banget, bisa benerin mobil!" pamer Bumi lagi dengan binar mata yang begitu bangga. Banyu yang biasanya cuek dan dingin, mendadak merasa wajahnya memanas. Ia hanya bisa mengangguk sopan pada guru yang menyambut, lalu berjongkok di depan Bumi. "Sudah pamernya? Sekarang masuk kelas, belajar yang pintar," bisik Banyu sambil menepuk bahu kecil itu. Bumi mengangguk dan mencium tangan Banyu dengan khidmat, lalu berlari masuk ke dalam kelas dengan langkah ringan, meninggalkan Banyu yang masih terpaku menatap punggung kecil itu hilang di balik pintu kelas. Sebelum ia kembali ke motornya yang terparkir tak jauh dari sana, ia menghampiri Wening yang berdiri di sisi mobil dengan bersedekap. “Apa nggak ada yang pengen kamu bilang ke aku?” tanya Banyu kemudian. Wening menelan ludahnya dengan susah payah. Namun, masih mencoba setenang mungkin menghadapi pria di hadapannya. “Nggak ada. Aku harus ke kantor sekarang,” katanya. Wening benar-benar tidak mau lagi terjebak dengan kenangan masa lalu mereka. Walaupun jujur, ada seonggok rindu yang selalu coba ia lindapkan dalam-dalam. Wanita itu memutar tubuh. Sengaja menghindari Banyu dengan bergegas membuka pintu mobil, tapi perhitungannya salah. Banyu menahan pintu itu hingga Wening tak bisa menutupnya. Lalu membuka suara. “Jadi … kamu nggak mau bilang, apa yang sebenernya terjadi lima tahun ke belakang ini, Wening?” tanya Banyu. Wening terdiam ketika Banyu mencondongkan tubuhnya makin dekat. Ia tak tahu, apakah keputusan mempertemukan Banyu dan Bumi adalah benar. Atau malah membuatnya terjebak oleh perasaan yang belum selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN