“Nggak ada yang perlu kita bahas, Nyu,” kata Wening dingin.
Namun, Banyu tak mau melepaskan wanita itu. Ia tetap menahan pintu mobil agar Wening mau membuka cerita mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu.
“Nyu, lepasin. Aku harus pergi,” kata Wening kemudian.
“Nggak, sebelum kamu bilang kenapa baru sekarang bawa Bumi ketemu aku. Wen … Bumi anakku juga. Kalau kamu bilang sejak awal, aku nggak akan kehilangan banyak waktu sama dia. Dia bisa merasakan kasih sayangku sejak kecil,” ucap Banyu agak kesal.
Wening mencoba menarik tuas pintu mobilnya, tapi kekuatan tangan Banyu yang terbiasa bergulat dengan besi jauh lebih kokoh. Wajah pria itu mengeras, ada gurat luka yang coba ia tuntut pertanggungjawabannya.
“Kasih sayang?”
Wening tertawa getir, matanya menatap lurus ke arah Banyu dengan tatapan yang mulai berkaca-kaca.
“Setelah lima tahun, kamu baru bicara soal waktu yang hilang? Lepasin, Nyu. Jangan bikin keributan di depan sekolah Bumi,” ucap Wening mulai frustrasi.
“Aku nggak peduli, Wen! Aku punya hak untuk tahu kenapa kamu sembunyiin dia!”
Suara Banyu merendah dan terdengar memaksa. Menekankan setiap kata dengan emosi yang tertahan.
Wening membuang muka, enggan menatap mata Banyu yang selalu punya cara untuk meruntuhkan pertahanannya.
“Karena memang nggak ada yang harus diketahui. Bumi punya aku, dan itu cukup.”
Baru saja Banyu hendak menyanggah ucapan Wening, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di belakang motor Banyu. Suara deru mesinnya halus. Tak lama setelah mesin mati, seorang pria dengan setelan jas rapi dan jam tangan bermerek yang berkilau terkena matahari keluar dari mobil itu.
“Wening? Ada masalah apa ini?” tanyanya.
Barata berjalan mendekat dengan gaya angkuh. Ia menatap Banyu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. Senyum sinis terukir di wajahnya saat melirik motor Banyu yang terparkir.
“Siapa pria ini, Wen? Pengemis? Atau montir yang lagi minta sumbangan?” tanya Barata tanpa tedeng aling-aling.
Suaranya lantang, sengaja ingin mempermalukan Banyu di depan umum.
Banyu melepaskan pegangannya dari pintu mobil Wening. Ia beralih menatap Barata dengan rahang yang mengeras. Pria itu tak bersuara, tapi auranya mendadak terasa berbahaya.
“Barata, jangan sekarang,” sela Wening, tampak tidak nyaman dengan kehadiran pria itu.
Barata justru melangkah maju, lalu berdiri tepat di depan Banyu seolah ingin menantang. Ia mengeluarkan dompet kulitnya, mengambil beberapa lembar uang lima puluh ribuan, lalu melemparkannya ke arah d**a Banyu.
“Nih, gembel. Buat servis motor rongsokan kamu atau buat beli sabun biar badan kamu nggak bau bensin. Jangan ganggu calon istriku. Pergi sana, jangan bikin kotor area sekolah ini dengan penampilan kamu yang dekil itu,” ucap Barata dengan nada menghina yang kental.
Banyu menatap lembaran uang yang jatuh ke lantai semen itu, lalu kembali menatap Barata dengan sorot mata yang dingin dan dalam. Alih-alih meledak dalam amarah atau memungut uang itu, ia justru menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan sangat tenang. Banyu melirik Barata, lalu beralih ke Wening yang tampak pucat menahan malu.
Pria itu melangkah maju, membuat Barata sedikit berjengit karena tinggi badan dan bahu tegap Banyu yang mengintimidasi.
"Gelar dan pakaian mahal ternyata nggak bisa beli tata krama ya, Mas?" ujar Banyu dengan suara rendah, tapi penuh penekanan.
"Uang ini ... simpan saja. Sepertinya Mas lebih butuh uang ini untuk kursus cara menjadi manusia yang punya harga diri."
Banyu menoleh ke arah Wening, mengabaikan wajah Barata yang kini merah padam karena tersinggung.
"Aku pergi dulu. Tolong kasih tahu calon suamimu ini, kalau bau bensin di baju ini bisa hilang dengan sekali cuci. Tapi bau kesombongan dari mulut dia? Sepertinya butuh waktu lama buat hilang,” kata Banyu.
Tanpa menunggu balasan, Banyu berbalik. Ia memungut helmnya yang tergantung di stang motor, lalu menaiki kendaraan roda duanya dengan gerakan yang mantap. Mesin motornya meraung, sebelum akhirnya ia melaju membelah jalanan.
Wening hanya bisa terpaku menatap punggung Banyu yang kian menjauh dengan perasaan campur aduk. Sementara Barata masih sibuk mengumpat tak terima karena baru saja dipermalukan oleh seorang pria yang ia anggap lebih rendah darinya.
“Sialan! Siapa dia sebenarnya, Wening?”
Barata kembali mengumpat setelah Banyu berlalu. Pria itu menoleh pada Wening yang kali ini membuang napas dengan kasar.
“Bukan siapa-siapa,” katanya lalu berbalik.
“Tunggu, Wening! Aku dengar dari Aditi, kamu serahkan Bumi ke Papanya. Apa pria tadi itu Papanya Bumi?”
Wening menghentikan gerakannya usai mendengar ucapan Barata. Ia menoleh, lalu mengernyit pelan.
“Aku nggak nyerahin Bumi ke Papanya. Aku cuma kasih tahu Bumi kebenaran soal dirinya,” jawab wanita itu.
“Bagus kalau begitu. Biar Bumi tinggal sama Papanya dan kita bisa mulai semuanya dari awal.”
Barata mengikis jarak dengan wanita itu. Berharap kali ini Wening akan membuka hati untuknya yang selama ini sebenarnya masih sangat menyukainya. Namun, alih-alih luluh, Wening malah tersenyum sinis. Ia sudah muak dengan tawaran itu sejak lama.
“Aku nggak minat, Barata. Simpan aja rencana gila itu.”
“Tapi aku bisa bantu usaha kamu yang hampir bangkrut itu. Ayolah! Kita hanya harus menikah dan usaha keluargamu akan kembali stabil,” tawar Barata.
“Aku punya cara lain selain menyerahkan hidupku ke kamu.”
Wening lantas masuk ke mobil. Buru-buru ia menyalakan mesin sebelum Barata kembali menahannya. Sementara pria itu mengetatkan rahangnya karena kesal. Sudah bertahun-tahun, tapi Wening benar-benar tidak bisa ia takhlukan.
“Dasar wanita sombong. Lihat saja nanti, aku bakal bikin kamu bertekuk lutut di hadapanku,” katanya geram.
***
Suara rem motor Banyu berdecit keras di halaman bengkel. Pria itu masih terlihat sangat gusar usai bertemu dengan Wening dan pria yang mengaku sebagai calon suami wanita itu. Jelas, jika hatinya masih belum bisa rela. Sama seperti lima tahun lalu ketika ia mendengar pertunangan Wening dan pria lain.
Banyu menyimpan helmnya, lalu mengganti pakaiannya dengan seragam bengkel seperti biasa. Saat itu, Lakes menghampiri Banyu yang masih tampak kacau.
“Kenapa, Nyu? Surem amat, tuh, muka?” tanyanya.
Banyu tak menjawab. Ia tak mau membagi kelesah hatinya kepada sang sahabat karena dirasa memang tidak penting. Lakes pasti akan mengambil asumsi sendiri dari ceritanya nanti.
“Nggak apa-apa. Udah lu balik kerja sana.”
Lakes hanya mengangkat bahu, memaklumi tabiat Banyu yang kalau sudah meradang lebih suka mengunci mulut rapat-rapat.
"Ya udah, jangan sambil melamun kerjanya," celetuk Lakes sebelum akhirnya melenggang pergi menuju deretan mobil yang mengantre untuk diservis.
Banyu menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan wajah angkuh Barata dari kepalanya. Ia baru saja hendak meraih kunci inggris ketika sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familier perlahan menepi di halaman bengkel yang berdebu.
Banyu terpaku. Tangannya yang memegang kunci inggris perlahan turun. Sementara rahangnya mengeras lebih kuat dari sebelumnya. Ia mengenal sosok yang keluar dari mobil itu.
“Ngapain dia ke sini?” ucap Banyu sebelum pria itu mengikis jarak dengannya dan mengangguk lemah.