“Siapa itu?”
Gadis itu terkesiap, menggigit bibir bawahnya. Suara barusan memang lirih dan pelan, tapi baginya tetap menjadi ancaman. Faye Estelle, gadis 25 tahun yang terjebak hubungan toxic akibat pembalasan dendam tujuh tahun lalu. Ia menelan pahitnya penderitaan, tetapi sayangnya dunia tak bisa melihat air mata itu.
Jauh di dalam sana, Xander Anderson Lloris mengurung dirinya. Ia tidak diizinkan melihat dunia dengan bebas, semua akses pergerakan dibatasi. Bahkan sekadar bertemu dengan orang tuanya saja harus melewati sekian banyak proses dan interogasi.
Bagaimana bila di tengah jalan Faye tiba-tiba menyukai seseorang? Bagaimana jika ia tidak benar-benar sampai di rumah orang tuanya, malah mengikuti kenalan baru itu? Kira-kira begitulah pikiran buruk Xander yang padahal Faye sendiri tidak pernah terpikirkan sama sekali.
“Cu-cuma teman,” balas Faye gugup. Ia masih memegang ponselnya ketika panggilan baru saja terputus. Nama yang sempat terpampang di layar beberapa detik sudah lenyap, tetapi pandangan tajam pria di sebelahnya belum bergeser sedikit pun.
“Teman, ya?” Xander mengulang, menatapnya tanpa kedip. Faye meneguk ludah, tangannya seketika mengepal kuat tanda ancaman dan bahaya ada di depan mata. Sorak sorai pengunjung resto malam itu bahkan tidak bisa menutupi atmosfer ketakutan Faye.
Mendadak dingin, membeku. Faye membenci situasi ini. Wajahnya yang ramah seketika kaku dan memucat.
“Teman?” ulang Xander sekali lagi, memberi kesempatan untuk Faye agar mengganti jawaban yang sebenarnya. Namun, gadis itu malah menunduk, semakin mempererat genggaman ponselnya.
“Iya,” jawabnya singkat, tidak berani menatap. Xander tersenyum smirk, membuat jantung Faye seakan ingin meledak.
“Ke toilet.” Hanya dua kata, tapi dari tatapan saja Faye tahu akan ada sesuatu yang terjadi kelak. Bukan sekadar permintaan biasa, melainkan perintah yang haram dibantah.
Sialnya sebelum Faye sempat membalas, tangan Xander sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya di bawah meja. Ia terjebak, tidak ada pilihan. Xander bangkit lebih dulu, lalu disusul Faye di belakangnya.
“Wait,” ucap Faye singkat kepada dua temannya, Liora dan Keneth. Liora hanya mengangguk singkat, tidak ada rasa curiga. Sementara Keneth melanjutkan makannya.
Begitu suara pintu toilet wanita tertutup cukup keras di belakang mereka, seketika alunan musik jazz resto langsung teredam tanpa samar. Hening mendadak, sempat terdiam tanpa obrolan apa-apa di antara mereka. Faye memberontak, meminta agar tangannya dilepaskan. Ia mulai merasa nyeri dan untung saja Xander menuruti hal itu.
“Sini,” katanya dingin. Xander menunjuk ponsel Faye yang ia genggam di tangan kirinya. Seketika, Faye menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya.
“Buat apa? Jangan macam-macam!” gertak Faye menolak. Xander terkekeh, terus melangkah mendekat ketika Faye semakin menjauh darinya.
“Faye,” panggil Xander masih dengan nada yang sama. Satu pengulangan lagi dan nyawa Faye tentu dalam masalah. Itu sebabnya ia menurut kali ini, menyerahkan ponsel itu dengan tangan gemetar.
Xander melihat layar itu sebentar. Nama kontak yang baru saja menelepon masih ada di daftar panggilan terakhir. Ia memang tidak berucap apa-apa, seolah tidak menemukan sesuatu yang membuat emosinya tersulut.
Namun, tiba-tiba saja, ponsel mahal keluaran terbaru itu dibanting keras ke lantai dan pecah berceceran di sana.
“Xan! Kamu gila, ya! Ponsel ini hadiah dari ayahku!” teriak Faye menatap remahan benda itu. Xander acuh tak acuh. Ia menginjak ponsel itu dengan sepatu kulitnya hingga layar yang masih menyala kini gelap total.
“Stop, Xan! Stop!” jerit Faye lagi. Ia jatuh tersungkur, meratapi benda yang kini hancur lebur. Sementara sang pelaku tersenyum sinis, merasa puas akan perbuatannya barusan.
Faye mendongak, matanya memerah berkaca-kaca. Emosi yang telanjur meledak, tetapi ia tak bisa berbuat banyak.
“Hm? Apa? Jadi, kamu lebih memilih menjaga pemberian ayahmu itu daripada menjaga perasaanku?” ucap Xander lalu jongkok tepat di depannya. Tangannya meraih dagu Faye, memaksanya menatap lurus ke mata elang itu.
“Dengar aku baik-baik, Faye Estelle. Aku sebagai pacarmu, tidak suka kalau kamu menjawab telepon dari pria lain. Apalagi tepat di depanku,” ujar Xander dengan suara beratnya. Faye mengangguk lemah. Napasnya mulai tidak beraturan.
“Ma-maaf, aku hanya … dia teman masa kecilku. Dia ….”
“Sssshhh.” Xander menempelkan jari telunjuknya ke bibir ranum Faye.
“Aku tidak peduli, Sayang. Entah dia teman masa kecilmu atau siapa pun itu. Aku hanya mengizinkanmu berhubungan dengan atasan dan rekan kerja. Selebihnya? Bukankah kamu sepakat dan menyetujui sebelum kita resmi berpacaran?”
Faye terdiam, ditatapnya Xander sangat lama. Cengkeraman di dagunya semakin kuat, tapi ia tak bisa berbuat banyak.
Xander mendekat sedikit lagi, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Dan kalau itu kejadian lagi, nasib tubuhmu akan sama seperti ponsel b******n ini.”
“Paham?” ulang Xander. Faye mengangguk cepat, terpaksa mengiyakan. Di saat itu juga Xander melepas cengkeramannya dan berdiri mendahului Faye.
“I-iya, aku paham.”
“Berdiri,” perintah Xander. Dengan susah payah Faye berdiri dengan kedua kakinya yang melemah tak bertenaga. Di saat seperti itu, Xander bahkan enggan membantunya.
“Cepat! Jangan seperti orang lumpuh! Atau kamu mau kubuat lumpuh, Fay?” ancam Xander lagi. Faye buru-buru bangkit, menyembunyikan ekspresi kesalnya. Dalam hati mengutuk Xander dan seperti biasa juga, pria itu peka.
“Ck, aku tahu umpatan apa yang keluar dari mulutmu itu, Fay. Aku anjing, b******n, laki-laki biadab, dan apa lagi? Katakan saja. Lama-lama aku hapal semua umpatanmu itu.”
“Ti-tidak. Aku tidak berkata apa-apa, Xan,” jawab Faye gemetar sambil terus menunduk. Xander menghela napas panjang, mengeluarkan tangan kanannya yang semula masuk di kantung celana.
Ia menyentuh pipi Faye, mengusapnya perlahan. Lalu dengan gerakan cepat, ia menggores pipi itu dengan ujung kukunya hingga berdarah.
“Awwwh!” rintih Faye, memegang luka di wajahnya. Lagi-lagi ia tidak berani protes, memilih diam menahan tangis sambil menghitung tiap detik kapan bisa bebas dari sini.
“Hukuman untukmu. Lupa, ‘kan? Apa yang seharusnya kamu ucapkan ketika berbuat salah, Fay?” ungkap Xander terkekeh. Faye mengutuk dirinya sendiri. Di saat seperti ini ia melakukan kebodohan berulang kali.
“Ma-maaf, Xan.”
“Yang benar! Seperti yang aku ajarkan waktu itu! Permintaan maafmu barusan tidak tulus!” gertak Xander tak puas.
“Iya, aku minta maaf, Xander. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ulang Faye gemetar. Xander tertawa puas, lalu berbalik badan.
“Good girl. Sekarang bereskan ponselmu itu. Bereskan sampai bersih. Jangan sampai ada sisa,” perintahnya. Tanpa balasan, Faye merunduk dan memunguti pecahan ponsel itu satu per satu.
Ia membuangnya di tempat sampah samping wastafel. Sebelum itu, tak lupa mengambil kartu dan memory card miliknya.
“Ayo keluar,” ajak Xander kembali menggenggam tangan Faye. Dengan ragu gadis itu membalas, mengikuti langkah Xander yang terlalu cepat.
Sesampainya di meja, ia berusaha terlihat baik-baik saja di depan sahabatnya. Xander langsung bersikap manis seperti biasa.
“Ada apa, Fay? Lama sekali,” tanya Liora. Keneth yang tadinya bermain ponsel juga mengangkat kepala.
“Iya, tadi buru-buru sekali. Wajahmu juga pucat, Fay. Kamu sakit?” Keneth ikut bertanya, membuat Faye bingung harus menjawab apa.
“Tidak ada, Ken. Dia hanya sedih karena ponselnya jatuh dan rusak tadi,” jawab Xander sebelum Faye membalas pertanyaan itu.
“Serius, Fay? Sayang sekali. Itu ‘kan hadiah dari ayahmu.”
“Iya, tadi jatuh.” Faye menatap ponsel Liora, seolah hatinya berteriak kencang di sana. Berbanding terbalik dengan Xander yang tersenyum lembut sambil mengelus rambut Faye. Tangannya tiba-tiba meraih punggung Faye dengan gerakan posesif.
“Dia ceroboh,” katanya lalu terkekeh pelan, “biasa, namanya juga perempuan kalau buru-buru.”
“Alasan klasik, Faye,” timpal Liora. Faye mencoba tersenyum, memberi kepercayaan kepada dua sahabatnya.
“Tidak apa-apa. Bagaimana perutmu? Masih sakit, Sayang?” tanya Xander perhatian. Faye menoleh, matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa ia tafsirkan seorang diri.
“Masih. Sepertinya kita harus pulang.”
“Tuh, ‘kan kamu sakit. Jangan-jangan masuk angin, Fay,” ucap Liora dengan alis bertaut sempurna.
“Iya, barusan muntah-muntah.”
“Ya, sudah kita pulang saja, Sayang. Mau ke rumah sakit?” tawar Xander lagi. Faye menggeleng lemah, menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih.
Seketika Liora mendekatkan kepalanya ke Keneth. Gadis itu menahan senyum, bermaksud menggoda Faye.
“Romantis sekali, ya. Kapan kita seperti itu, Ken? Aku lelah bertemu laki-laki b******n terus,” bisik Liora.
“Iya, so sweet. Faye beruntung mendapat pasangan seperti Xander. Kaya raya, perhatian, tampan pula,” balas Keneth lebih heboh. Faye tetap bisa mendengar percakapan itu. Hatinya seketika miris, bahkan kedua sahabatnya saja tidak mengetahui betapa menderitanya ia saat ini.
***
Satu jam kemudian, tepatnya pukul 7 malam, mereka keluar dari restoran. Mobil hitam mewah milik Xander meluncur membelah jalan malam yang masih ramai. Setelah mengantar pulang Liora dan Keneth, Xander langsung membuka topeng manipulatifnya di hadapan Faye.
“Senang?” tanya Xander pelan. Faye menelan ludah, bingung apakah pertanyaan ini normal atau justru ancaman baru untuknya.
“Iya, senang,” jawab Faye singkat.
“Kalau senang, seharusnya kamu mencium pipiku.”
Faye terdiam, hatinya menggeram. Pria ini meminta sebuah imbalan, padahal baru saja menghancurkan sesuatu yang sangat berharga. Bukan karena nilainya, tetapi memori itu tidak bisa diulang sampai kapan pun.
“Hm? Masih belum bergerak?” Xander menghentikan mobilnya, menunggu respon Faye. Sengaja berhenti di jalan yang gelap dan sepi. Karena takut ditinggal sendirian, Faye pun menurut. Ia mencium pipi Xander sekilas, lalu kembali duduk.
“Good girl.” Xander melajukan mobilnya menuju mall besar. Ia tidak mengizinkan Faye turun sampai ia kembali. Seluruh pintu dan jendela dikunci. Faye memang lebih pantas disebut tahanan daripada pacar.
Setengah jam kemudian, Xander kembali dengan tas iBox di genggamannya. Ia masuk ke mobil dan memberikan ponsel baru itu kepada Faye.
“Maaf, ya, Sayang. Aku belikan yang baru untukmu. Semoga kamu suka,” kata Xander mencium kening Faye. Gadis itu terdiam, meremas tas tersebut sambil melenguh menahan air mata.
Baginya ini bukan hadiah, melainkan jalan pintas menuju neraka.
“Terima atau kamu kuperkosa di mobil, sekarang!”