Faye 2

1624 Kata
Sesampainya di apartemen Faye, Xander melangkah masuk dan duduk di sofa panjang menunggu sang kekasih berganti pakaian. Ia menatap kotak ponsel itu yang masih tersegel rapi, tidak sabar melihat ekspresi wajah Faye yang senang menerima hadiah darinya. Usai berganti pakaian, Faye mendekati Xander di ruang tamu. Langkahnya terbilang ragu dan trauma, seolah sedang mendekati maut. Namun, ia harus menurut karena ancaman pemerkosaan selalu ada di depan mata. “Buka,” perintah Xander. Faye mengeluarkan box ponsel dari dalam tas, lalu membuka plastik segelnya di hadapan pria itu. Xander siap siaga dengan kamera ponsel, merekam apa saja momen penting di hidupnya sebagai bahan flexing di i********:. Seluruh dunia sukses dibuat tercengang dan iri. Sepakat menilai bahwa ialah pria terbaik yang pernah ada, nyaris tanpa celah. “Bagaimana? Kamu suka warnanya?” tanya Xander. Titanium Grey, variasi warna monoton bagi Faye. Berbeda dengan warna ponsel sebelumnya, merah muda doff. Sang ayah lebih tahu selera anak gadisnya, mau sampai kapan pun itu. “Iya, suka. Terima kasih, Xan,” jawab Faye tersenyum simpul. “Good. Sekarang simpan nomor yang penting-penting saja,” pintanya membuat Faye menoleh cepat. “Maksudnya? Nomor siapa?” Xander menyilangkan tangan di d**a, terkekeh pelan. Kadang ia gemas melihat tingkah Faye yang sangat penurut meski sesekali memberontak kecil. Itu tidak masalah, Faye tetap berada dalam kendalinya. “Nomorku,” jawab Xander. Ia menekankan kata itu, seolah hanya dirinya yang harus diutamakan di dunia. Faye mulai mengetik nama Xander. Kontak pertama yang ia simpan di ponsel baru ini. Mungkin orang lain akan menilai sebuah kewajaran karena Xander yang memberikan ponsel itu. Namun, jauh cerita gelap di dalam sana, seharusnya Xander yang tahu diri. Sayangnya sebagai pria yang mendominasi, tidak ada alasan bagi Faye untuk menolak permintaannya. “Sekarang keluarga.” Faye menurut lagi, menambahkan nomor ibu dan adiknya. “Lalu sahabat.” Ia mengetik nomor Liora dan Keneth. “Bos tidak perlu.” Faye mendongak, baru saja ingin mengetik nomor penting itu. Tidak hanya bos, tapi beberapa partner di kantornya. “Hah? Tapi ini penting, Xan. Pekerjaan aku!” “Tidak perlu! Kalau dia ingin berkomunikasi denganmu, cukup via email. Untuk apa sampai ke ranah privasi?” potong Xander cepat. Faye berhenti menatap, menyadari tidak ada ruang debat. “Oke.” Faye mematikan layar ponselnya, hanya ada empat kontak di sana. Gadis itu menghela napas panjang, lalu mencoba duduk santai di sebelah Xander. “Maaf, Sayang. Tadi aku kebablasan. Aku hanya tidak suka kamu merespon lelaki lain. Kamu itu cantik, ramah, dan pekerja keras. Akan ada banyak pria yang mudah tertarik padamu,” ucap Xander begitu lembut. Faye mengangkat kepala, menyadari perubahan ekspresi Xander yang sangat berbeda. Garis senyum di wajahnya membantuk sudut yang begitu manis. Jauh berbeda dari ekspresi di restoran tadi. Apakah Xander benar-benar menyesal? Ataukah hanya sebatas formalitas? “Sounds crazy maybe, but yeah. Aku benar-benar tidak suka. Kamu paham, ‘kan kalau aku pencemburu, Sayang?” lanjut Xander mengelus paha Faye. Gadis itu menunduk, sedikit menggeser posisinya agar sentuhan Xander tidak terlalu jauh. “Tidak, itu sangat wajar. Cemburu adalah bahasa cinta,” balas Faye memberi validasi. Jika balasannya berbeda dari hal itu, mungkin bekas luka di pipinya bertambah satu. “Sayang. Kamu tahu mengapa aku bersikap demikian?” tanya Xander. Faye diam, menunggu lanjutan kalimat itu. “Karena aku sayang kamu. Aku tidak ingin kamu jatuh cinta pada lelaki lain. Belum tentu mereka memperlakukanmu sebaik aku.” “Benarkah? Jadi kapan kamu menikahiku, Xan?” “Secepatnya. Menikah itu butuh persiapan matang. Aku janji sebelum akhir tahun, kamu resmi menjadi istriku. Aku juga takut kehilangan kamu, Sayang,” jawab Xander lembut, membuat hati Faye perlahan menghangat. Xander bangkit, meraih tangan Faye agar ikut berdiri bersamanya. Ia menggenggam dua tangan itu, dielusnya perlahan. Sedetik kemudian, belaiannya beralih ke pipi Faye. “Sakit, ya? Nanti aku obati. Aku tahu tadi bersikap kasar kepadamu.” “Iya, tidak apa-apa. Aku paham kamu emosi.” Xander memasukkan tangannya ke saku, mengeluarkan sesuatu. Segepok uang bernilai seratus ribu itu ditaruh di telapak tangan Faye. Seketika mata Faye terbelalak. Tidak sekali dua kali memang, tapi selalu membuatnya terkesima. “Buat kamu.” “Xan, ini terlalu banyak. Aku juga masih ada pegangan,” tolak Faye halus. Bukan karena merasa lebih kaya, tapi takut menerima pemberian Xander berarti harus memberi timbal balik juga. “Tidak apa-apa, Sayang. Anggap saja sebagai permintaan maaf dariku. Habiskan, beli apa yang kamu mau. Kalau kurang tinggal kabari aku,” ucap Xander tersenyum manis. Uang di genggaman Faye terlalu berat, mungkin ada sekitar 50 jutaan. “Terima kasih, Xan,” ucap Faye akhirnya. Xander mencondongkan badan sedikit dan mencium kening gadis itu. Gerakan yang pelan, tapi menenangkan perasaan Faye yang semula hancur tidak beraturan. “Sama-sama, Sayang,” Faye menyimpan uang itu di laci nakas, lalu beranjak ke dapur mengambil botol minum. Namun, begitu ia berbalik badan, tiba-tiba Xander berdiri di belakangnya dengan tatapan liar. Tangan Xander melingkar di pinggang Faye, lalu mengikis jarak di antara mereka. Karena perbedaan tinggi yang begitu ketara, Faye hanya seukuran d**a Xander. “Kamu pernah mendengar kata-kata ini, Sayang? ‘Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini.’” Faye mendongak, seolah tahu maksud pembicaraan Xander. “Iya, pernah.” “Kalau begitu, lakukan untukku. Apa kamu bersedia?” “Bersedia apa?” “Menjadi mainanku malam ini.” “Maksudnya?” Tak berniat menjawab pertanyaan Faye, dengan sigap pria itu menggendong sang kekasih ala bridal style. Faye dibawa paksa ke kamarnya, lalu dilucuti seluruh pakaiannya. Tersisa pakaian dalam yang menutupi bagian sensitif Faye, tapi anehnya ia tidak bereaksi banyak. Entah apa yang dilakukan Xander malam ini. Tahu-tahu di depan matanya, tersedia borgol dan alat cambuk berwarna merah muda. “Jangan bergerak,” pinta Xander memasang borgol itu di tangan Faye. Satunya lagi terkunci di tiang ranjang, membuat kedua tangan Faye merenggang. Tak puas sampai di sana, kedua kakinya juga diperlakukan hal yang sama. “Xan … apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku tidak bisa bergerak,” kata Faye lirih. Xander enggan menatap, sibuk menjalankan misi fantasinya. “Tidak karena di situlah letak keseruannya, Sayang.” “Xan.” Lengkap sudah persiapan game malam ini. Dua tangan dan kaki terborgol sempurna, membuat tubuh Faye terekspos sempurna dari atas. Xander tersenyum puas, bersiap menyantap hidangan istimewanya. Lagi-lagi Faye membatin menyesal. Tipu muslihat Xander kembali menjeratnya dalam lingkar setan. Andaikata ia menolak uang dan ponsel itu, mungkin sekarang Xander pulang tanpa meminta jatah. Terlambat sudah. Kejantanan pria itu berdiri tegak menggantung sempurna di sana. Xander ikut melucuti pakaiannya, membiarkan d**a bidang yang sedikit berkeringat menjadi pemandangan. Faye menelan ludah, menatap milik Xander yang mengembang dan berurat. “Xan …,” lirih Faye memanggil. “Hm?” “Tolong, lebih pelan.” “Aku tidak bisa menjamin karena kamu sangat seksi malam ini.” Ia merobek paksa pakaian dalam Faye, membuangnya ke sembarang arah. Xander naik ke ranjang, menyentuh bibir kemerahan yang masih terlalu kering itu. Faye menggelinjang ketika jari-jari nakal Xander meliar di sana, menyentuh titik sensitifnya. Merasa terlalu berbaik hati, Xander langsung memasukkan miliknya ke l**************n Faye. Seketika gadis itu berteriak kencang, langsung dibungkam oleh tangan besar Xander. “Aaaah, hmmmph!” “Ada apa, Sayang? Kamu merindukan adikku ini? Dia juga merindukan kamu.” Xander mendorong pinggulnya maju mundur, membiarkan Faye menerima benda asing itu selama beberapa saat. Ketika miliknya mulai membasah, Xander menghantamnya dengan kecepatan penuh. Faye sampai kehabisan napas dan berteriak tanpa terkendali. “Pelan-pelan, Xan!” jeritnya dengan sisa tenaga yang ada. Xander berpura-pura tuli, menikmati setiap tusukan tanpa pemberontakan sama sekali. “Uh, nikmat. Punyamu selalu nikmat, Sayang!” Saking kencangnya genjotan itu, pergelangan tangan dan kaki Faye mulai lecet akibat bergesekan dengan borgol. Ia menahan perih dari berbagai sisi. Terlebih Xander tak memberi ampun meski berulang kali Faye meminta jeda semenit saja. “Xan …!” “Ugh! f**k you, b***h!” Tangan Faye mengepal, matanya ikut terpejam. Bukan nikmat yang dia rasakan, melainkan perih dan merasa tubuhnya terbelah dua. Belum lagi ketika Xander sengaja mendorong sampai tuntas, membuat seluruh rahim Faye dipenuhi kejantanan pria itu. “Aaaaah!” desah Faye ketika berhasil meraih puncak pertamanya. Xander mencabut miliknya sebentar, mengusap keringat di wajah Faye. Gadis itu bahkan tidak mampu membuka mata seluruhnya karena tubuh Xander sangat berat. “See? Berhentilah menjadi orang munafik, Sayang. Kamu selalu menolak, tapi juga yang paling cepat o*****e,” ledek Xander menjilati sisa-sisa cairan Faye di jarinya. “Please, sudahi malam ini.” “Tidak. Kita baru saja memulai, Sayang.” Ctasss! “Awwwh!” Xander membentuk huruf X di d**a Faye dengan cambukan itu. Melihat bekas kemerahan yang tercipta jelas di sana, membuat nafsu Xander semakin membara. Ia meremas, memelintir, dan mengisap d**a Faye seperti bayi yang kehausan. Faye menggeliat, perasaannya campur aduk. “Keluarkan suaramu, jangan ditahan!” “Xan … aaaah!” “Bagus, sekarang rasakan ini.” Jleb! Satu tusukan lagi dan itu sukses membuat napas Faye berhenti mendadak. Gerakan Xander begitu cepat, membuat Faye kewalahan sendiri. Namun, sayangnya ia tak bisa berbuat banyak. Borgol ini sangat membatasi gerakannya. “Sayang ….” “Xan, hentikan! Aku lelah!” “Bullshit! Akan kubuat kamu o*****e puluhan kali malam ini!” “Atas dasar apa kamu menghukumku, Xan? Aku sudah meminta maaf!” kilah Faye di tengah napasnya yang tersengal. “Ck, bodoh. Apa hanya dengan permintaan maaf, suasana hatiku langsung membaik? Hanya dengan cara ini aku kembali seperti semula, Sayang.” Ctasss! Faye berteriak lagi, tapi mulutnya dibekap oleh Xander. Genjotan semakin dalam dan cepat, tanpa disadari, pria itu juga ikut mendesah pelan. Hingga setengah jam lamanya di posisi yang sama, Xander merasakan detik-detik mengalami ejakulasi pertamanya. “Fay, aaaah!” Xander mencabut miliknya, lalu membiarkan cairan putih kental itu menodai wajah Faye. Karena cukup banyak, Xander memaksa Faye membuka mulutnya. “Telan semua, Sayang. Telan sampai habis!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN